Sewelas - Masih Berat

1.2K 169 28
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Hani mengempaskan tubuhnya di kasur berukuran single. Matanya lurus menatap langit-langit kamarnya. Kejadian demi kejadian yang terekam beberapa hari ini kembali terbayang di sana. Dimulai dengan kedatangan Dika beserta ibunya ke panti dua hari setelah Dika mengatakan bersedia menikahinya. Di sana Dika meminta izin kepada Rumanah, ibu panti. Tentu saja hal itu mengejutkan Rumanah. Setelah Dika dan Hasanah pulang, Rumanah mengajak Hani bicara empat mata.

"Kamu beneran mau nikah?"

Hani mengangguk sebagai jawaban.

"Ada apa? Ibu tahu pacarmu bukan dia, tapi kenapa kamu malah nikah sama dia?"

Hani menelan ludah. Kemudian cerita tentang Pram mengalir meskipun rasanya masih berat menceritakan kenyataan pahit yang baru saja dialami. Rumanah menyimak sembari mengusap punggung anak asuhnya itu.

"Kalau tahu ceritanya seperti ini, tadi Ibu tolak saja lamaran itu."

Mata Hani terbelalak. Memang sudah tepat membeberkan semuanya di saat Dika pulang. Rumanah pasti tidak setuju dengan idenya.

"Kalau nggak sama dia, sama siapa lagi, Bu? Aku malas kalau harus kenalan sama orang baru, terus akhirnya seperti ini."

"Hani, menikah itu tidak menyelesaikan masalah, justru kamu sedang menambah masalah baru. Nggak ada pernikahan yang seratus persen bahagia. Pasti nanti akan ketemu dengan masalah. Apalagi niatmu di awal sudah nggak bagus. Ya, untung Dika yang datang, kalau laki-laki lain, mungkin sekarang Ibu akan telepon dan membatalkan rencana pernikahan ini. Untung Ibu sudah kenal sama dia."

Benar, saat SMA, Dika kerap datang ke panti. Tidak hanya bertemu Hani, Dika juga sering mengajak main anak-anak panti yang lain. Kalau ingin mengajak Hani pergi, Dika tidak lupa meminta izin pada Rumanah.

"Ya, makanya aku berani nikah karena sama dia, Bu."

Rumanah tersenyum tipis. "Yo, wis, kalau kalian sudah maunya begitu, Ibu cuma mau titip pesan, jaga pernikahan itu baik-baik, ya. Berusahalah untuk mencintai suamimu nanti, perlakukan dia dengan baik. Kalau ada apa-apa langsung ngomong sama dia, jangan dipendam sendiri atau ngumpet di belakang. Pernikahan itu ibarat kerja sama tim. Kalau salah satu anggotanya ngawur, ya, hancur."

"Iya, Bu. Aku akan selalu ingat nasihat Ibu."

Setelah acara lamaran dadakan itu, Hani dan Dika mendaftarkan pernikahan ke KUA. Begitu sudah dapat tanggal pernikahan, keesokan harinya Hani minta izin kepada Pak Rudi, atasannya.

"Kamu mau nikah?" seru laki-laki berkumis itu. Lengkap dengan bola mata yang membulat sempurna. Bagaimana tidak terkejut, tiba-tiba Hani datang dan minta izin libur satu hari karena ingin menikah.

Di tempat duduknya, Hani tersenyum kikuk, kemudian mendongak. "Iya, Pak. Boleh, kan?"

"Ya, boleh. Masa karyawan mau nikah saya larang. Saya cuma heran kenapa mendadak, Hani? Kamu nggak kena MBA, kan?"

SATRU - [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang