Rongpuluh - Menahan Diri

1.9K 191 25
                                        

Dika mengantarkan Hani sampai kantor

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dika mengantarkan Hani sampai kantor. Pada saat yang bersamaan sebuah mobil berhenti. Hani sangat mengenali mobil tersebut. Siapa lagi kalau bukan milik mantan kekasihnya.

Kirana keluar lebih dulu, disusul Pram dari pintu bagian kemudi. Kirana tampak rapi dengan mengenakan setelan blazer berwarna hitam, rambutnya diikat ke belakang, sedangkan Pram mengenakan jas berwarna abu-abu, sepatu serta rambutnya terlihat klimis. Pram memang sangat menjaga penampilannya. Hani sempat terpaku, tetapi segera tersadar sebab masih ada Dika.

"Hani, ketemu lagi." Kirana mengeluarkan suara lebih dulu. "Diantar sama tukang ojek?"

Hani segera melepaskan helm dan menyerahkannya ke Dika. Pura-pura tidak mendengar ocehan Kirana.

"Kamu pergi sekarang. Aku nggak apa-apa," bisik Hani tepat di telinga Dika. Dia tidak rela Dika dipermalukan oleh Kirana.

"Naik motor itu pasti nggak enak, kan? Panas, duduknya capek, kena debu lagi, muka kamu jadi kusam. Mendingan aku naik mobil. Adem, enak, dan nggak kena debu." Kirana kembali ke pekerjaan sampingan, yaitu nyinyir.

Suasana hati Hani sedang tidak baik akibat periode haidnya. Rasa ingin memukul mulut perempuan itu sampai babak belur terlintas begitu saja. Namun, Hani mencoba menahannya karena tidak mau terlihat bar-bar di depan Pram.

"Kata siapa naik mobil enak? Naik mobil, tuh, udah pasti sering kena macet karena nggak bisa nyelip. Terus, emang nyaman, ya, naik mobil bekas pacar orang?"

Hani mendelik tajam ke arah Dika. Astaga, bukannya pergi, malah meladeni Kirana tukang nyinyir. Sia-sia Hani menahan diri.

Demi emosinya tersalurkan, Hani memilih mencubit pinggang Dika yang tertutup jaket hingga si empunya mengerang kesakitan. "Udah dibilangin langsung pergi!" ucapnya dan masih dengan bisik-bisik.

Sementara itu, tentu saja Kirana tidak terima. Saat hendak menyerang Dika, Pram sudah lebih dulu mencekal tangannya.

"Sudah, ayo, masuk! Pagi-pagi, kok, sudah ribut. Kalau Ibu tahu, kamu diceramahi lagi."

Kirana langsung diam tak berkutik. Dia pasrah saat Pram menariknya masuk ke lobi. Hal itu menimbulkan pertanyaan di benak Hani. Apa yang sebenarnya terjadi? Pram terlihat tidak semangat dan tidak suka dengan tingkah Kirana. Sebenarnya Pram bahagia dengan pernikahannya apa tidak?

"Han, aku pergi dulu, ya."

Hani tidak mendengar. Dika lantas mengikuti arah pandang gadis itu, kemudian menyentuh bahu istrinya. "Hani?"

Hani terkesiap. "Kenapa, Dik?"

"Aku pergi dulu."

"Oh, iya, udah hati-hati." Hani meraih tangan Dika untuk dicium. Dika masih tidak biasa diperlakukan seperti itu, tapi dalam hati dia senang. Setidaknya masih bisa berlaku seperti suami istri yang normal.

 Setidaknya masih bisa berlaku seperti suami istri yang normal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SATRU - [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang