Enem - Mengetahui Sebenarnya

1.2K 186 12
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Tolong kamu ke toko Pak Yasin, beli kain blacu sama kanvas. Itu udah Ibuk tulis di kertas berapa jumlahnya, kamu tinggal kasih." Hasanah menyerahkan kertas berisi catatan bahan yang akan dibeli oleh Dika serta sejumlah uang warna merah dan biru.

"Siap, Buk."

Setelah meletakkan piring basah ke rak, Dika segera meluncur menuju toko Pak Yasin. Toko tersebut menyediakan berbagai macam alat jahit serta kerajinan tangan dan sudah menjadi langganan ibunya sejak lama.

Sejak suaminya meninggal saat Dika masih kecil, Hasanah yang bisa menjahit sering membuat tas-tas souvernir dan baju demi bisa mencukupi kebutuhan hidup. Ia menerima pesanan dari tetangga yang akan mengadakan sebuah acara. Selain itu, Hasanah juga menjual hasil kerajinan tangannya ke toko-toko. Jelang lebaran, orderan selalu meningkat. Dika hanya bisa membantu memotong kain, itu pun sudah diberi tanda. Atau saat hendak mengantarkan ke pelanggan dan membeli bahan seperti yang dilakukannya sekarang.

Berkat tangan terampil ibunya, Dika bisa mengenyam pendidikan sampai bangku kuliah. Hasanah juga yang membelikan motor agar Dika bisa pergi ke mana-mana tanpa ribet.

Awalnya Dika hanya menggunakan motornya untuk nongkrong ke sana-kemari. Namun, setelah ditawari kerjaan oleh Sofyan, Dika memberanikan diri mendaftar jadi pengemudi Gojek. Tak menunggu waktu lama, Dika diterima. Sejak saat itu Dika menggunakan motornya untuk mencari uang membantu ibunya. Hasil dari ojek selalu ia serahkan ke Hasanah untuk ditabung, berapa pun jumlahnya. Dika menyisakan sedikit untuk beli rokok dan bensin.

Kalau orderan sepi, Dika hanya punya dua pilihan, menyisakan uang untuk rokok atau bensin. Kalau bensinnya masih full, Dika gunakan untuk beli rokok. Kalau sebaliknya, Dika nebeng rokok ke Anwar. Begitu cara Dika memutar uangnya. Sejak bisa kerja, pantang bagi Dika meminta uang pada Hasanah. Meski kadang ibunya yang memberi dengan dalih itu hasil tabungan dari Dika.

Motor Dika berhenti di sebuah ruko besar di pinggir jalan. Usai memasang standar motornya, Dika memasuki toko tersebut. Usai menyapa, Dika langsung menyerahkan kertas itu ke Pak Yasin. Dengan sigap Pak Yasin menyuruh asistennya untuk memotong kain sesuai permintaan Hasanah.

"Tumben banyak sekali," decak Pak Yasin. "Dapat pesanan banyak, ya?"

"Kayaknya, sih, iya, Pak. Ibuk belum cerita." Dika menjawab jujur. Semalam ia langsung tidur karena kelelahan. Ibunya pun sibuk dengan mesin jahitnya, Dika mana berani mengganggu.

"Gimana ojekmu?" Karena sudah berlangganan, Pak Yasin jadi akrab dan tahu pekerjaan laki-laki itu. Bahkan sering meminta Dika mengantar saat bepergian.

"Alhamdulillah, lancar, Pak."

"Dik, mending kamu kerja bantu-bantu di sini. Insyaallah soal gaji kamu jangan khawatir."

Dika tersenyum samar. Bukan sekali ini Pak Yasin menawarkan pekerjaan. Memang tarif pengemudi ojek tergantung berapa kali mendapat orderan dan total perjalanan. Kalau sanggup menyelesaikan orderan selama enam belas kali dalam sehari, pengemudi baru mendapat bonus sebesar lima puluh ribu. Kadang Dika bekerja sampai malam demi bisa mendapat bonus, walau berakhir punggungnya dilukis indah oleh ibunya. Kalau sedang sepi, Dika cuma gigit jari.

SATRU - [Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang