Chapter 3: Dengar Kata Dika

71 8 3
                                        

"Gue disuruh pulang."

Dika tertawa terbahak bahak. Raka yang melihat temanya tertawa ingin sekali menonjoknya, tapi ia urungkan, itu bisa merusak image nya yang dingin dan tampan. Kemarin, saat hari minggu setelah Raka mengatakan prihal perasaanya dengan Liora di apartemenya Raka di suruh pulang begitu saja oleh Liora. Sebenarnya ini ide Dika menyuruh Raka menanyakan perasaan Liora, Dika tau Raka sudah sangat lama mencintai Liora, tapi Liora masih belum bisa membuka lembaran baru.

"Cia gak bilang apa apa gitu? Langsung suruh lo pulang?"

"Hmm, dia bilang sudah malam, gue pasti dicari sama orang tua gue."

"Lagian lo si, suka sama cewek yang masih belum selesai sama masa lalunya."

"Diem, atau gue pecat."

Dika langsung menutup mulutnya. Dika sedang duduk di ruangan Raka, selain hobi ke dapur untuk mencuri makanan Dika juga suka bermain di ruangan Raka. Dika pamit ke Raka karena jam kerjanya akan mulai. Raka melanjutkan pekerjaanya sebagai wakil direktur. Raka bingung, malam ini ia ingin mengajak Lio untuk pulang bersama, sepertinya ini sudah menjadi rutintitas Raka, Raka takut akan akward nantinya.

Setelah Raka mengatakan kalimat itu, Liora langsung menyuruh-nya pulang, dengan alasan sudah malam takut orang tua Raka mencari dirinya. Raka mau tidak mau harus pulang jika Liora sudah berkata seperti itu, tandanya dia sudah tidak nyaman dengan kata kata Raka, tapi Liora tidak mau bilang. Raka selalu bingung dengan sifat Liora, terkadang dia membuka hati seakan suatu hari Raka bisa masuk kesana, tapi disatu sisi dia juga tiba tiba menutup hatinya begitu saja. Raka tau jika Liora masih belum selesai dengan masa lalunya, tapi ayolah, itu sudah lima tahun, tidak mungkin Liora terus mengingat laki laki itu. Raka juga butuh kepastian, diumurnya yang sudah menginjak 25 ini sudah harus memiliki pacar lalu dijadikan pendamping hidup. Bukan. Raka suka dengan Liora bukan hanya karena ingin menikahi nya, dia hanya ingin melindungi Liora. Menurut Raka, Liora harus bahagia.

Raka sedikit tau masa lalu Liora dari Kayla, yang dia tau bahwa Liora dan pacarnya putus dengan cara tidak baik. Setau Raka Liora yang memutuskan pacarnya terlebih dahulu, kata Liora pacarnya ketahuan selingkuh, jika boleh jujur Raka jelas tidak percaya, mereka pacaran dari awal Sekolah Menengah Atas kelas satu dan putus saat kelulusan Sekolah Menengah Atas. Bukankah itu terlalu klasik? Untuk alasan tidak move on selama lima tahun, ya, anggap saja Raka menganggap remeh soal kisah percintaan Liora, dia hanya ingin Liora menjadi miliknya. Sepertinya malam ini Raka akan pulang dengan Dika, dia membutuhkan orang untuk mendengar keluh kesahnya.

...

"Lo takut awkward? Serius?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo takut awkward? Serius?"

Raka hanya mengangguk. Dika mengusap lehernya, sebenarnya ada yang dia ingin bilang ke sahabatnya ini, tapi dia takut menyinggung hati Raka. Mereka sekarang sedang duduk di angkringan dekat rumah Dika, tempat mereka jika ingin menyalurkan kisah masing masing, bahkan bude yang berjualan di angkringan itu sudah hafal dengan wajah dua makhluk itu. Terkadang bude juga ikut memberikan saran, kata bude dia dulu juga punya dua putra, tapi sekarang mereka sudah jarang menemui bude, mereka sudah punya keluarga masing masing.

"Kenapa lagi? Nih gorengan pisang sama susu coklat hangat untuk nak Raka, ini sate pakai lontong sama teh manis hangat untuk nak Dika."

"Ini bude, lagi mabuk cinta anaknya, pusing aku, dia yang mabuk aku yang pusing."

"Aduh, nak Raka masih kejar nak Kayla?"

"Liora bude, Kalau Kayla punya saya."

Bude tertawa, menurutnya susah sekali menyebut nama 'Liora' walau terkadang Raka menyuruhnya untuk menyebut 'Cia' saja. Bude pernah memberi saran kalau Raka harus mundur, bukan untuk menyerah tapi untuk memberi Liora arahan, disaat Raka tidak ada disitulah Liora berpikir apakah Raka penting dalam hidupnya atau tidak. Raka tidak bisa, jujur, Raka harus selalu ada disisi Liora dia harus memastikan bahwa Liora harus bahagia. Bude hanya bisa mengusap kepala Raka, dia tidak tau lagi harus memberi saran apa ke Raka.

"Sudah dulu ya, bude mau siapin pesanan orang lain."

Angkringan bude tidak besar, hanya berjualan dengan menggunakan grobak. Meja kayu untuk lesehan dan tiker kas angkringan, tidak terlalu ramai juga karena terletak didalam lorong. Raka dan Dika makan dengan lahap. Setelah mereka makan mereka bayar ke bude.

"Gini ya, dengar omongan gue. Lo itu sebenarnya suka atau enggak si sama Cia? Gini deh, gue selalu ngomong sama lo kalau gue bakal terus dukung lo, tapi kalau lo bersikap egois, gue gak akan mau dukung lo. Liora sampe detik ini gak mau cerita tentang masa lalunya, sama dengan Kayla. Kalau lo anggap enteng hubungan orang, sama aja lo anggap enteng hubungan lo sama dia suatu saat nanti."

Raka diam, apa benar dia egois? Dia hanya berpikir bukanya terlalu 'lebay' jika hanya diselingkuhi lalu putus. Menurut Raka itu terlalu klasik, untuk apa dia masih mengingat mantanya yang jelas jelas menyakitinya. "Gue bukan menganggap enteng, gue cuman bingung doang, kenapa dia harus nolak gue dan masih ingat mantan yang dulu selingkuhin dia." Raka tak mau kalah. Dika hanya menggeleng, Raka ini termasuk anak yang lumayan dimanjakan oleh kedua orang tuanya, karena itu Dika sedikit takut untuk bermain keras dengan Raka.

"Lo selalu anggap enteng, coba dulu pas lo di selingkuhin, gimana? Sakit gak?"

"Iya, tapi gue berusaha ngelupainya, sekarang gue sudah ada pengganti."

"Itu lo bukan Cia, Mungkin dulu ada satu lembaran yang gak bisa diganti, kita gak ada yang tau. Cia itu orangnya tertutup. Kita cuman bisa nunggu dia yang cerita, kalau kita bertanya gue yakin dia akan sembunyi dikata 'aku baik baik saja' lo juga pasti tau sifat Cia."

"Iya, jadi gue harus apa?"

"Menunggu, cuman itu yang harus lo lakuin."

"Gue capek, gue juga mau jalan kehubungan yang lebih serius lagi."

"Gue gak bisa bantu banyak, gue mau bilang, kalau lo bener bener secinta itu sama Liora lo harus kasih hati lo ke Liora sekalipun hati lo disakiti, lo harus siap itu."

Raka diam, dia sudah lelah, apa dia harus berhenti mengejar Liora. Raka sudah lelah, tiga tahun perasaanya belum di balas, bukanya itu terlalu kejam, tiga tahun sudah lamanya Raka menunggu Liora. Liora sangat dekat dengan Raka namun terlalu sulit untuk digapai. Raka akhirnya izin pamit pulang ke Dika dan bude. Raka masuk kedalam mobil dan berjalan menuju rumahnya.

🥕🥕🥕

Yang sabar ya Raka :"

SomedayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang