Pertemuan yang tak diinginkan akhirnya terjadi. Arya Prakasa, mantan Liora Patricia. Mereka bertemu secara kebetulan di sebuah hotel, jangan salah paham. Arya adalah seorang pembisnis ternama, sedangkan Liora adalah chef bintang lima disebuah hotel...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lion! Besok libur kan? Jalan yok"
"aku liat jadwal dulu."
Arya mengangguk, lalu Liora membuka notebooknya. Ternyata jadwal Liora kosong, biasanya jika hari senin mereka kedatangan tamu, minggu Liora pasti akan ke restoran mempersiapkan bahan. Sepertinya takdir berusaha mempersatukan mereka kembali. Liora menoleh ke Arya dan berkata bahwa besok dirinya tidak ada kerjaan. Arya tersenyum mengangguk "besok aku jemput di apart ya, jam 10 pagi." Liora hanya mengangguk.
Liora kembali bekerja, pikiran Liora saat ini hanya satu, tidak boleh ada kegagalan dalam masakanya. Saat Liora sedang fokus dalam membuat adonan kue seseorang tiba tiba memukul bahunya. Siapa lagi kalau bukan Kayla. Liora menoleh dengan mendongakan wajahnya.
"Cia! Besok free gak?"
"Kenapa?"
"Kak Raka mau ngajak kita main, katanya mau ke pantai."
"Harus banget besok ya? Besok gue ada janji."
"Hah? Sama siapa?"
"Janji lo gak marah?"
"Kak Arya?"
"Iya."
Liora diam, ada sedikit ketakutan di dalam dirinya. Liora benar benar tau bahwa Kayla benci ketika dirinya masih mengungkit nama pria itu, Kayla selalu berpikir laki laki seperti Arya tidak bisa dimaafkan. Berbeda dengan Liora, walau sering disakit Liora selalu memiliki pikiran bahwa jika dirinya sudah sering tersakiti dia tidak mau orang yang didekatnya juga terkena imbasnya, Liora akan sesering mungkin membuat orang disekitarnya tidak sedih. Kayla hanya diam melihat Liora.
"Gue udah capek, selalu ngingetin lo, tapi lo masih aja. Buka mata lo Cia, dia udah nyakitin lo! Liat kak Raka yang selalu ada buat lo."
Liora diam, ini bukan saat yang tepat. Suara Kayla terus bergema di telinganya. Hampir semua pegawai melihat ke arah Liora dan Kayla, dada Liora mulai sesak, keringat dingin keluar dari tubuhnya. Liora butuh obatnya yang sialnya dia lupa membawanya. Liora selalu berpikir bahwa dirinya sudah sembuh total, nyatanya dia salah, depresi tidak sembuh semudah itu dan depresi itu berkelanjutan. Liora langsung terduduk, Kayla yang panik berusaha mencari Raka, gadis itu tau, pasti Raka menyimpan obat Liora. Saat Kayla sedang panik mencari Raka dia bertemu dengan orang yang sangat dia benci. Orang yang sudah menghancurkan hidup sahabatnya.
"La! Lo kenapa buru buru?"
"Diem, karena lo kak, karena lo dateng, hidup gue selalu gak tenang. Mending lo pergi kak."
Arya terdiam, ini baru pertama kalinya dirinya melihat Kayla marah. Kayla melanjutkan mencari Raka, melihat ruang rapat, ruangan Raka. "Dia di lobby hotel, tadi gue liat dia lagi ngobrol sama bokapnya? Gue gak tau bokapnya atau bukan, tapi dia lagi ngobrol dengan pria yang sudah lansia." Kayla yang mendengar Arya berucap seperti itu langsung berlari ke arah lift dan turun menuju lantai paling bawah. Setelah sampai di lobby hotel pandangan Kayla sudah buram, air matanya sudah menutupi penglihatanya.