Pertemuan yang tak diinginkan akhirnya terjadi. Arya Prakasa, mantan Liora Patricia. Mereka bertemu secara kebetulan di sebuah hotel, jangan salah paham. Arya adalah seorang pembisnis ternama, sedangkan Liora adalah chef bintang lima disebuah hotel...
Setelah Kayla dan Liora berbikan, Liora memutuskan masuk kerja hari ini, senin. Hari yang sungguh padat. Banyak tamu yang berkunjungan ke hotel ini membuat Liora tak bisa bolos lagi, Sebenarnya Raka tak masalah jika Liora ingin izin, toh ada Kayla yang bisa mengganti tugas Liora. Sebenarnya minggu kemarin Arya dan Liora akan menghabiskan waktu berdua, namun karena insiden Kayla dan Liora kemarin membuat Liora harus membatalkan kegiatan jalan-jalanya bersama Arya. Saat jam istirahat Liora berjalan ke rooftop untuk menenangkan pikiranya, Liora sudah meminta Kayla untuk tidak menyusulnya sama dengan Raka.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Siang hari berdiri di rooftop hotel adalah hal yang salah, karena matahari yang tepat di atas kepala membuat Liora merasa panas bahkan matanya susah untuk dibuka karena cahaya matahari yang begitu terik. Liora melihat gedung gedung yang tinggi, rumah yang tersusun, dan kendaraan yang berlalu lalang membuat pikiranya menjadi jernih seketika. Liora takut saat memasak dengan pikiran yang kacau akan mempengaruhi rasa makananya, maka dari itu Liora ingin menghirup udara terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatan masaknya. Saat Liora sedang asik memandang jalanan, ponselnya bergetar, pertanda ada orang yang menelponya.
"Kau dimana?"
"Aku sedang bekerja pa, ada apa?"
"Papa mau ajak kamu dinner malem ini sama keluarga papa."
"Kayaknya gak bisa pa, restoran lagi padet."
"Ada teman kamu yang bisa bantu kamu."
"Iya pa, tapi gak mungkin semuanya aku serahin ke dia."
"Papa mau kenalin kamu sama keluarga papa, kalau kamu kayak gini terus, lama lama nama kamu yang rusak."
"Terserah papa, dari awal aku gak pernah minta untuk dikenali. Buat apa berkenalan dengan orang yang sudah ngehancurin rumah aku?"
"Mulut kamu!"
Liora menutup panggilan secara sepihak, astaga, baru saja tadi pikiranya segar, sekarang pikiranya dipenuhi awan awan hitam. Liora menghembuskan nafas dengan kasar, sungguh dirinya sangat kesal dengan ayahnya. Ayolah, siapa yang tidak kesal jika harus bekenalan dengan ibu tiri, orang yang sudah merebut ayahnya dari ibunya. Saat pertama kali Liora bertemu wanita itupan hal yang pertama diberikan wanita itu ialah tatapan tajam, tanda tak suka dengan kehadiran Liora. Liora juga seperti itu, selamanya dirinya tak akan pernah mau untuk mengakrabkan diri dengan wanita itu. Selamanya.
Liora kembali menatap jalanan yang dipenuhi kendaraan, dirinya termenung mendengar kata ayahnya. Apa ayahnya tak punya malu? Dia sudah selingkuh dari istrinya, bahkan saat istrinya meninggal dia enggan untuk melihat, bukanya itu begitu kejam? Liora sangat membenci ayahnya. Laki laki itu sudah menghancurkan rumahnya sendiri, jangan harap jika suatu saat ia akan mencari rumahnya untuk berteduh, karena dirinya sendiri yang sudah mengahancurkan rumah itu. Saat Liora sedang asik memandang pemandangan didepanya, seseorang menghampirinya.