Pagi yang cerah di kediaman Maeda. Maeda dan Surya sedang menikmati sarapan bersama. Surya mulai nampak terbiasa dengan tata krama di ruang makan. Ia tak menjatuhkan sumpit lagi. Ia makan dengan anggun dan tenang. Hari ini keheningan melanda keduanya. Bagaimana tidak, Maeda geram karena Surya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk datang di kegiatan istri para tentara. Baginya itu buang-buang waktu saja. Sejujurnya ia ingin mengikat Surya di atas ranjang dan memilikinya sepanjang waktu.
Hanya bunyi peralatan makan yang terdengar. Keduanya tak mengucapkan sepatah kata pun. Para pelayan merasa canggung dengan keduanya. Mereka seakan berjalan di lapisan es yang tipis karena takut membuat kesalahan. Sedangkan Tatsuya duduk dengan tenang di kursi khusus yang ia miliki. Ia sedang disuapi oleh pengasuhnya.
"Apa kamu masih marah?" tanya Maeda sambil menggengam tangan Surya.
"... " Surya tak bergeming. Ia tak ingin adu mulut di ruang makan.
"Mama... " Tatsuya memanggil Surya.
"Iya Tatsuya, ada apa? Apa mau mama yang suapin?"
"Tidak... Tidak.. Apa mama dan papa bertengkar?" tanya Tatsuya dengan wajah yang bingung.
Surya menghela nafas. Apa pertengkaran mereka begitu terlihat. Ia tak melirik suaminya sama sekali.
"Sayang, kami tidak bertengkar. Terkadang orang dewasa hanya butuh waktu untuk saling bicara lagi nanti" jawab Surya sambil menyuapi Tatsuya makanan.
Walaupun tak mengerti, Tatsuya mengangguk lucu.
Maeda menatap Surya dengan intens hingga keningnya berkerut. Ia tak menyangka Surya akan semarah ini.
Sebelumnya...
Ia tak bermaksud apa-apa saat berkata kegiatan-kegiatan seperti itu tak harus Surya hadiri. Ia tak ingin istrinya dipusingkan oleh hal sepele seperti itu. Ia ingin istrinya bisa bersantai dan menikmati kenyamanan di rumah. Dan ternyata itu menyinggung perasaannya.
"Saya hanya berusaha membuat Tuan tidak malu. Saya ingin menjadi pasangan yang layak. Apa saya harus berada di rumah seharian dan tidak melakukan apapun? Saya tak ingin hanya menjadi beban. Di sana juga ada Bram yang turut serta" begitulah katanya.
"Bukan begitu maksudku, sayang. Aku tak ingin kamu kelelahan. Kamu telalu memaksakan diri. Bukannya jadwalmu sangat padat? Kamu selalu pulang terlambat akhir-akhir ini."
"Itu karena ada banyak hal yang harus dibereskan. Saya benar-benar tidak bermain-main di sana. Apa tuan meragukan saya?" Surya menatapnya sedih.
"Bukan. Aku tak meragukan atau semacam itu. Iro selalu melaporkan semuanya." Maeda malah kelepasan bicara.
"Ah, jadi selama ini tuan mengawasi saya?"
"Maaf, bukan seperti itu. Aku hanya mengkhawatirkanmu, sayang." Maeda kehabisan sanggahan.
"Tuan selalu seperti ini." Surya menumpahkan keluh kesahnya. Suaminya terlalu over protektif padanya.
"Aku takut kehilangan kamu. Dan lagi Tatsuya masih kecil, dia membutuhkan kasih sayang kamu di rumah."
"Baiklah. Saya akan berada di rumah saja mulai hari ini." Surya menurut pada suaminya tapi mengapa jawaban itu seakan tak memuaskan bagi Maeda. Karena dalam pandangannya sekarang, Surya terlihat sedih dan kecewa.
"Sayang, bukan begitu... " Maeda meraih tangan Surya.
"... "
Surya merasa pembicaraan ini tidak akan menemui titik temu jadi ia beranjak dari ruang makan.
Maeda menghela nafas panjang. Apa ia salah mengambil keputusan seperti ini? Ia sangat iri pada orang yang bisa melihat kekasihnya seharian. Sedangkan dirinya hanya menghabiskan waktu sejenak bersama. Entah kenapa jadwal mereka selalu berbenturan. Bahkan saat ia pulang ke rumah biasanya Surya sudah tidur. Ia jelas tak tega membangunkan istrinya yang sudah terlelap. Kalau bisa ia akan mengikat kekasihnya di rumah dan tak membiarkan siapapun melihatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK LOVE (BL) (Mpreg)
Historical FictionBerlatar pada akhir penjajahan Jepang di Indonesia. Cinta ini salah. Bagaimana bisa mencintai pria yang menghancurkan hidupnya? Apalagi pria itu adalah Jenderal dari pihak musuh. Berawal dari hubungan fisik hingga mengakar ke hati. Lika-liku percint...
