Dentuman keras terdengar dari alun-alun kota. Waktu menunjukkan senja hari. Keadaan cukup mencekam. Tiada orang yang lalu lalang. Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Padahal baru saja rakyat Indonesia mendapat kabar mereka akan mendapatkan kemerdekaan dari pihak Nippon alias Jepang melalui siaran radio. Tapi agresi militer belanda menerobos lagi di wilayah Indonesia. Alhasil mau tak mau pihak Jepang dan Indonesia sedikit menurunkan ego dan mempersatukan kekuatan.
Kehebohan terjadi di camp militer Jepang yang dipimpin jenderal Maeda Takeshi. Gurat wajahnya menunjukkan keseriusan. Ia membentuk rapat dadakan. Tangannya mengetuk meja sambil berpikir keras tentang strategi yang akan ia gunakan kali ini. Keadaan Jepang mulai terdesak sejak kekuatannya dalam perang Pasifik menurun. Kendalinya pada negara jajahan mulai mengendur. Mereka bahkan harus menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Dengan membentuk panitia-panitia yang meyakinkan sembari mengulur waktu.
Di sebuah desa yang tak jauh dari camp itu, banyak pemberontakan dari warga pribumi. Mereka mencurigai niat Jepang. Mereka merasa dibodohi. Banyak anak-anak mereka yang dijanjikan kerja di pemerintahan atau bidang medis menghilang tanpa kabar. Sepucuk surat pun tak sampai dari anak-anak mereka sejak Jepang mengangkut mereka dalam truk militer mereka. Memang beginilah fenomena di jaman itu. Rakyat yang masih sangat polos tergiur iming-iming pekerjaan tetap yang menghasilkan banyak rupiah.
"Nak, apa kamu tidak tertarik bekerja seperti anak pak Kades di pemerintahan. Ada pengumuman di alun-alun katanya pihak Jepang banyak merekrut pemuda pemudi," ujar seorang ibu pada anak laki-lakinya.
"Saya kan gak punya ijazah seperti anak pak Kades, bu" jawabnya. Pemuda itu sangat tampan. Kulitnya sawo matang. Rambutnya lurus sedikit bergelombang. Tubuhnya yang mungil untuk ukuran pria. Kakinya semampai.
"Ya dicoba saja!" suruh ibunya.
Tanpa banyak membantah, pemuda itu berangkat ke alun-alun. Melewati jalanan setapak yang biasa ia susuri. Tiba-tiba ada bunyi, senjata bersautan tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia terdiam membeku. Ia segera bersembunyi di balik rimbun ilalang. Pemandangan yang mengerikan terpampang jelas di matanya. Ah jangan-jangan itu kelompok gerilya yang tertangkap. Meskipun negara ini sekarang sudah mulai memiliki tentara atau pasukan tapi terkadang rakyat masih bergerak sendiri-sendiri.
Matanya membesar setelah menangkap sosok pria yang ia kenal. Mas Bram. Anak tetangga sebelah. Ia memang patriotik, tak seperti dirinya. Pemuda memiliki sedikit keunikan atau bisa keajaiban hingga ia tak bisa mendaftar dalam pergerakan ataupun ikut berperang. Ibunya selalu menyembuyikannya. Terlihat dari kejauhan mas Bram berhasil mengecoh musuh dan berhasil kabur dengan beberapa temannya yang selamat.
"Gawat. Rencana kita sudah ketahuan," kata seorang tentara Jepang.
"Mereka sudah tahu kalau kita merekrut pemuda pemudi bukan untuk diperkerjakan di pemerintahan tapi di rumah bordil kita," imbuh yang lain tak kalah gaduh.
"Cepat bunuh!! Siapapun yang sudah tahu bunuh di tempat!!" perintah seorang tentara yang sepertinya pemimpin pasukan itu.
Pemuda itu terkesiap. Apalagi yang tak sengaja didengarnya ini. Ia hanya ingin pulang dengan selamat. Dia menutup mulutnya takut bersuara. Tak berapa lama suara mobil kebanggaan Jepang berhenti. Turunlah sosok yang sangat mempesona di sana. Dilihat dari baju dan aksesoris yang ia kenakan pasti orang berjabatan tinggi.
"Dimana rakyat yang memberontak?"
"Sebagian terbunuh, sebagian berhasil kabur." Alhasil tendangan kaki yang keras mendarat di kaki tentara itu. Tentara itu cuma meringis tak berani membantah atau bicara lagi.
"Sisir daerah sini, mungkin masih ada yang bersembunyi."
Hah ? Pemuda itu beringsut ngeri. Takut kalau ia akan tertangkap. Tak berapa lama benar saja pemuda itu tertangkap. Karena posisinya yang mencurigakan, dia dianggap sebagai mata-mata. Apalagi ini ? Mata-mata? batin pemuda itu.
"Hanya satu orang ini saja. Sepertinya dia pemimpin gerakan itu,"
"Tidak." Pemuda itu langsung membantah keras. "Aku hanya sekadar lewat, benar begitu. Aku ingin mendaftar di perekrutan itu." ucapnya asal agar tak dicurigai.
Jenderal Maeda yang tadi berbincang dengan rekannya terdiam sejenak.
"Amankan dia. Bawa ke ruanganku!!!" perintahnya. Jenderal itu menyeringai. Baru kali ini dia melihat pemuda secantik itu.
Pemuda itu ketakutan tapi tak bisa melawan karena lawannya banyak. Sedangkan para tentara mengeryit. Sejak kapan mata-mata akan dibawa ke ruangan jenderal yang nyaman. Mereka keheranan.
--------
Halo. Aku tunggu kritik dan saran nya ya
Jangan lupa komen dan vote biar aku lanjut lagi.See you on next chapter.

KAMU SEDANG MEMBACA
DARK LOVE (BL) (Mpreg)
Fiction HistoriqueBerlatar pada akhir penjajahan Jepang di Indonesia. Cinta ini salah. Bagaimana bisa mencintai pria yang menghancurkan hidupnya? Apalagi pria itu adalah Jenderal dari pihak musuh. Berawal dari hubungan fisik hingga mengakar ke hati. Lika-liku percint...