Aku sudah membelikanmu Khao tom, jangan lupa dimakan.
Catatan itu ditempelkan Off di kulkasnya, berjaga-jaga jika Gun lapar nantinya. Dia kembali ke kamarnya dan melihat Gun masih tertidur dengan pulas. Wajah itu seperti bayi dan terlihat setetes air mata di ujung matanya, sisa tangisannya tadi malam. Off membenarkan posisi selimut dan juga bantal Gun dengan hati-hati. Setelahnya, dia baru menyiapkan barang-barangnya yang perlu di bawa ke tempat syuting.
"Papii," suara serak Gun terdengar memanggil namanya.
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Off menghentikan pekerjaannya saat itu.
Gun menggelengkan kepalanya seperti anak kecil, yang membuat Off tanpa sadar tersenyum kecil.
"Apa hari ini Papii ada jadwal syuting?" Tanya Gun melihat Off yang sudah berpenampilan rapi.
"Iya, tapi cuma sampai setengah hari," jawabnya yang kembali sibuk dengan beberapa peralatannya.
"Oh, begitu."
"Hari ini tidak usah pulang dulu, menginap saja di sini. Bukankah kau ada jadwal besok pagi?" tanya Off tanpa menatap lawan bicaranya.
"Hmm."
"Aku akan langsung pulang setelah syuting selesai, jadi tetap di sini. Jangan membukakan pintu untuk siapapun kecuali orang yang kamu kenal," Off memberikan peringatan untuk Gun,"sarapan sudah aku siapkan di atas meja, jika sudah dingin kau bisa memanaskannya di microwave. Aku juga sudah membeli beberapa bahan makanan di kulkas, kau bisa memasaknya nanti jika ingin. Selain itu..."
"Aku mengerti, aku mengerti," Gun memotong pembicaraan Off, entah kenapa hari ini Off sangat cerewet.
"Jangan lupa minum obat yang kemarin kubelikan dan jangan meminumnya ketika perutmu masih kosong," Off masih belum menyerah dan masih sempat berteriak sebelum ia benar-benar pergi.
Tepat ketika ia membanting pintu rumahnya, Off baru bisa bernafas lega. Dia tersenyum kecil dan menatap pintu rumahnya. Jantungnya berdegup kencang, seperti akan meledak jika dibiarkan seperti ini. Ah, dia benar-benar tidak bisa mengontrol perasaannya apabila sedang bersama Gun. Jika dibiarkan lebih lama, mungkin dia akan bersikap lebih bodoh daripada ini.
#
Ruangan apa ini?
Gun yang saat itu sedang berjalan-jalan mengelilingi apartemen Off lantaran bosan, menemukan sebuah ruangan yang cukup mencolok. Ruangan itu berhadapan langsung dengan dapur, namun yang membuatnya menarik perhatian Gun adalah tanda dilarang masuk yang ditempel di sana.
"Mungkinkah tanda itu hanya untuk pajangan saja?" Pikirnya saat itu.
Dorongan karena rasa penasarannya yang membuncah, Gun memberanikan diri untuk membuka ruangan itu. Dan berhasil, ruangan itu sama sekali tidak terkunci. Perlahan-lahan dia masuk ke ruangan gelap itu dan tidak seperti yang ia pikirkan ruangan itu sama sekali tidak berdebu. Ruangan ini sepertinya dirawat dengan sangat baik. Dicarinya stopkontak yang ada di ruangan itu dan betapa kagetnya Gun ketika ia secara langsung melihat isi ruangan tersebut. Semuanya penuh dengan kenangan Mook dan Off. Apa mungkin karena ini, Off menempel tanda larangan itu?
Gun tidak berniat untuk masuk lebih jauh lagi, semua pemandangan yang ada di depannya sudah menjelaskan semuanya. Bahwa harapan itu tidak pernah ada untuknya, bagaimanapun juga Mook akan selalu menjadi orang yang berarti untuknya.
"Aku menangis?" Gun mengusap air matanya dan tertawa sumbang,"bagaimana bisa aku berpikir bahwa dia menyukaiku juga?"
Kenapa menyukaimu sangat menyakitkan, P'Off?.... Batinnya dalam hati.
#
"Gun, apa kau di rumah?"
"Gun, aku sudah pulang."
"Gun."
"Hei, Gun."
Suara Off menggema memenuhi apartemennya, namun sosok yang ia panggil namanya sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Dia mencari ke seluruh ruangan dan tetap tidak menemukannya.
"Halo Tay," Off menelepon Tay dengan panik, mungkin saja pria itu tau dimana Gun sekarang.
"Halo," jawabnya dari seberang telepon.
"Apa Gun sedang bersamamu?" Tanyanya langsung ke topik pembicaraan.
"Tidak, bukankah dia menginap di tempatmu?"
"Iya, tapi tiba-tiba saja dia menghilang. Dia bahkan tidak menghubungiku sama sekali, bukankah ini aneh? Atau mungkin dia..."
"Berhenti mengatakan omong kosong!" Tay memotong perkataan Off,"dia sedang bersamaku sekarang, jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh," tiba-tiba saja jawabannya berubah.
"Maksudmu?" Off bertanya dengan bingung.
"Gun sedang bersamaku, dia memintaku untuk tidak memberitahumu. Aku tidak tau apa masalah kalian, tapi dari tadi dia terus menyebut nama Mook. Dia baru saja selesai menangis, aku tidak tau berapa banyak stok airmata yang ia punya. Yang jelas dia menangis hampir dua jam dan jangan mencarinya sekarang ke kantor, aku akan menjaganya untukmu oke?" Ujarnya tanpa jeda sedikitpun.
"Dan satu lagi, dia selalu berbicara tentang kamar. Kau mungkin tau sesuatu tentang itu, aku tutup dulu. Bye," saat itu juga telepon dari Tay ia matikan.
Off cukup lama terdiam, masih dengan telepon di tangannya. Kamar? Kamar apa yang dimaksud oleh Gun dan juga itu tentang Mook? Dia berpikir sejenak dan langsung mendapatkan jawabannya. Buru-buru ia berlari ke sumber masalah dan benar saja, kamar itu ditinggalkan dalam keadaan lampu yang belum dimatikan.
Bodoh, kenapa aku tidak menguncinya sebelum pergi? Umpatnya dalam hati.
#
Tay menutup teleponnya dengan Off dan kembali ke Gun yang masih meringkuk di pojokan ruangan. Entah kenapa, melihatnya seperti itu ia merasa kasihan sekaligus lucu. Bagaimana bisa laki-laki berusia hampir 29 tahun itu merengek seperti anak kecil hanya karena masalah percintaan?
"Siapa yang menelponmu?" Tanya Gun penasaran, dia mengelap ingusnya dengan tisu dan membuangnya ke sembarang tempat.
"Ai'Off," jawab Tay sambil memungut tisu yang tadi di buang Gun,"jangan membuang tisu sembarangan!" ucapnya memarahi Gun.
"Apa dia menanyakanku?" Lagi-lagi ia membuang tisu sembarangan.
"Gun, berhenti membuang tisu sembarangan!" Dan Tay masih memarahinya karena hal yang sama.
"P'Tay, aku malah merindukannya," Gun kembali merengek.
Mendengar itu, Tay hanya mendesah pelan. Selama beberapa tahun terakhir, dia akan menjadi tempat curhatan yang baik untuk Gun mengenai masalah keluarganya maupun Off. Ada satu hal yang selalu ia ingat dari Gun dan juga pernah ia katakan pada Off kemarin. Bahwa Gun hanya akan menangis karena dua hal, yaitu tentang keluarganya dan Off. Dua poin itu selalu jadi topik utama dalam setiap ceritanya, jika mengenai orang lain dia hanya akan berkeluh kesah tetang kekesalannya pada mereka dan tidak akan pernah melibatkan airmata.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?" Tay bertanya dengan nada serius.
Gun menatap Tay dengan matanya yang memerah,"apa aku harus mendengarkan penjelasan Papi tentang kamar itu?" tanyanya dengan wajah memelas.
"Itu ide yang bagus," jawabnya.
"Off bukan orang yang bisa menutupi perasaannya, meski aku masih ragu dengan perasaannya padamu namun tetap saja itu layak di coba," Tay berujar dengan tangan yang masih tetap memungut bekas tisu yang dilemparkan Gun,"akhir-akhir ini ada gosip mulai beredar tentang kalian, katanya Off mulai menunjukkan sifat yang baik padamu. Bukankah itu artinya ada kemajuan di dalam hubungan kalian?"
"Jadi sekali lagi aku akan bertanya padamu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Aku akan menemuinya nanti tapi tidak untuk sekarang, aku masih belum siap," dia menjawab dengan suara yang lebih meyakinkan.
"Baiklah, jika itu keputusan yang kamu buat. Tapi ingat! Berhenti menghubungiku sambil menangis, itu benar-benar membuatku takut sampai rasanya aku akan mati," keluh Tay.
Gun tertawa kecil pada akhirnya,"iya, iya, aku mengerti."
Selamat membaca ya😊
Terimakasih bagi yang sudah memberikan vote untuk cerita ini
See you di chapter selanjutnya ya 🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Love and Tears (Offgun)
FanfictionGun Atthaphan Phunsawat, salah satu aktor Thailand terkenal yang telah jatuh cinta pada lawan mainnya sendiri yakni Off Jumpol Adulkittiporn. Seorang pria yang berwajah tampan, yang mampu memikat wanita pun karena ketampanannya itu termasuk Gun send...
