VOTEEE DULUU DONGGGG! (1,5K VOTE FOR NEXT BAB 26 - jadi kalau mau next cepattt jgn lupaa votee yaaaa)
KOMENT JUGAAAA <3
Selamat membacaa, semoga suka, Aamiin.
25. KABAR UNTUK SANG PUTRI
Pertemuan itu milik perpisahan. Bukan milik kita.
***
Pejaman mata Salsa di rooftop rumah sakit dengan tarikan nafas yang ia kira adalah akhir dari cerita sedihnya malam ini. Ternyata menjadi pembuka satu cerita sedih yang baru, kabar yang jika boleh ia minta pada semesta 'jangan dulu' atau 'jangan pernah', malam ini terlalu tidak waras untuk senyum yang ia tarik paksa dibibirnya.
Notifikasi handphone Salsa berdering, membuat mau tidak mau, matanya menatap layar handphonenya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dengan pandangan yang sudah berkunang-kunang, Salsa masih berusaha untuk membaca secara jelas pesan itu. Pesan yang mengagetkannya, pesan yaang menyakitinya. Gemetarnya kembali, jatungnya, juga badannya.
Tanpa basa-basi, Salsa kemudian menekan tombol call, yang membuat ia terhubungan dengan seseorang yang menjadi pengirim pesan itu.
Mungkin uji kali ini punya sisi senang yang luar biasa suatu saat nanti, begitu kalimat positif milik Salsa.
***
Seorang laki-laki dengan mata elang turun dari motornya, pergerakannya begitu cepat. Hingga membawa dirinya berada di lantai 4 menuju salah satu kamar yang diiformasikan Alaska kepadanya.
Pikiran Angkasa kemana-kemana. Takut sekali apa yang ada dikepalanya menemuinya. Malam ini, di saat jarum jam akan menyentuh pukul dua belas malam, dinginnya Jakarta karena AC ruangan semakin menusuk, yang ketika semakin dekat dengan ruangan yang ia tuju, Angkasa merasa langkahnya semakin berat.
"Anjing, lo buat gue takut, Bar," umpat Angkasa yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
Pesan Alaska yang ia dapatkan sangat ambigu. Abu-abu sekali keadaan disekitar.
Lagi-lagi, pikiran buruk menyerang. Angkasa meminggirkan tubuhnya, terduduk di kursi besi sejenak. Detak jantungnya semakin tidak waras. Tentang sedih, ia tidak punya persiapan apapun. Tadi, ia tidak tahu seberapa kencang tali gas yang ia mainkan hingga sampai dengan cepat ke rumah sakit ini.
Berdiri dengan rasa yang tergesa dan tidak tenang, Angkasa kemudian melangkah. Wajahnya semakin kaku dan datar ketika mendekati gagang pintu yang sebentar lagi akan ia pegang dan buka itu.
Area kawasan ruangan Bara sangat sepi, tidak ada satupun anggota SATROVA BESAR yang terlihat, nyaris kosong dan sunyi. Angkasa tidak tahu mereka kemana, karena yang ada dipikirannya sekarang hanya kondisi Bara. Sedangkan buruk kah ia sekarang?