Bumi dan Langit

1.1K 95 9
                                        


"Ku tunggu di depan Ay"

"Oke. Tunggu bentar" lalu telepon dari Romeo ku tutup. Jam pulang kerja masih sepuluh menit lagi, tapi Romeo sudah menjemput. Aku segera menyelesaikan pekerjaan sampai jam kerja berakhir. Ku shut down komputer, ku rapikan berkas, ku benahi make up, berdiri sambil menenteng tas bersiap pulang.

"Bita. Selesaikan berkas untuk meeting besok. Saya mau membacanya hari ini, jadi besok pagi tinggal di persentasikan" tiba-tiba saja malaikat maut itu datang.

"Tapi pak..." (dalam hati; ini kan sudah jam pulang)

"Tapi apa?"

"Ndak. Ndak apa-apa" daripada aku harus adu mulut lagi dengan Endra, lebih baik yang waras ngalah. Aku duduk lagi dan menghidupkan komputer. Kalian tak usah heran, kejadian seperti ini sering ku alami. Misalnya tadi siang saat jam makan, dia meneleponku hanya untuk bilang ;

"Bita. Saya pengen makan rendang. Tolong belikan" hello...emangnya gue pembokat loe? Heran deh sama orang satu ini, sehari saja tidak membuatku jengkel mungkin akan membuatnya sesak nafas. Tentu saja aku lebih pintar darinya, ku suruh office boy untuk membelikan. Setelah rendang sampai di tangan, segera ku serahkan pada tuan besar.

Bukannya berterima kasih, dia bilang "Kok lama? Saya sudah kelaparan tau!" Emangnya gue pikirin, dalam hati.

Romeo. Maaf, mendadak aku lembur. Kamu pulang aja. Sepertinya sampai malam.

Ku kirim sms ke Romeo. Kasihan dia sudah menunggu sejak tadi.

Tidak apa Ay, akan ku tunggu. Mana mungkin aku tega liat kamu pulang malam sendirian.

Balas Romeo.

Tapi karena aku tahu Romeo menunggu, aku langsung kesetanan menyelesaikan pekerjaan. Sejam kemudian semuanya sudah selesai, lalu ku berikan pada big boss. Akhirnya dia mengijinkanku pulang. Senangnya...

"Kamu naik bis?" Tumben Endra nanya. Biasanya bodo amat, aku merangkakpun apa pedulinya.

"Tidak pak. Saya di jemput teman. Permisi" aku segera meninggalkannya.

"Bita. Tunggu!" Panggilnya lagi. Aduh apa lagi sih nih orang, gak tanggung-tanggung kalo nyiksa.

"Siapa? Romeo?" Astaga. Bagaimana mungkin aku lupa bahwa Endra dan Romeo saling kenal. Bahkan aku juga lupa cerita pada Romeo kalau aku dan Endra sekantor.

"Kok bapak tahu?"

"Sebenarnya tadi kami sudah bertemu di depan. Dia bilang sedang menunggumu. Bahkan dia mengundang makan malam"

"Oh, syukurlah kalo kalian sudah bertemu. Saya permisi"

"Sampaikan salamku untuknya, besok aku akan datang"

"Baik pak"

Ku tinggalkan dia sendiri. Dia memang seorang workaholic. Hampir tiap hari dia pulang malam. Mungkin itu penyakit orang jomblo, sungguh kasihan.

"Maaf ya telat. Makasih udah nunggu" ku temui Romeo yang sedang duduk di dalam ruang satpam. Dia memang supel sejak dulu, bahkan satpam kantorku sering menanyakan kabarnya.

"Gak apa Ay, apa sih yang nggak buat kamu"

"Cie...romantisnya mas Romeo ini" sahut pak satpam. Itu membuatku tersipu malu. Kami berpamitan pulang pada pak satpam. Lalu dalam perjalanan, kami membahas Endra.

"Kok kamu gak cerita kalo Endra adalah bosmu Ay" wajahnya nampak kesal. Seolah dia berpikir aku sengaja menyembunyikan hal ini darinya.

"Aku lupa. Emangnya penting ya?"

Surat Merah JambuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang