"Aduh! Ati-ati dong." Protesku.
"Sorry. Masih pertama. Sakit ya?"
"Ya iyalah!" Bibirku mencebik kesal. Sedangkan mataku meliriknya tajam.
"Mana yang sakit?" Endra mengusap-usap punggungku.
"Eh, nggak usah cari kesempatan ya!" Tangannya ku tepis dengan kasar. Dia menghembuskan nafas panjang.
"Serba salah." Gumamnya. Tapi aku memilih pura-pura budeg.
Lalu kami saling diam. Ku lihat dia mengeratkan pegangannya di pilar besi yang melintang di atas kepala kami. Sepertinya dia takut ku omeli lagi kalau bis mendadak ngerem lalu tanpa sengaja dia mendorong tubuhku ke depan sampai hampir jatuh seperti tadi.
Ya, siapa sangka. Malam sudah larut, bis yang kami tumpangi malah penuh. Akhirnya aku, Endra dan enam penumpang lain terpaksa berdiri di tengah badan bis. Harus bermodal kekuatan tumpuan kaki dan tangan yang bergelayutan agar kami tidak tersungkur tiap bis ngerem mendadak.
Oke, aku ngaku sekarang. Aku nyesel nolak tawaran naik fortunernya. Seandainya aku nggak terlalu parno dan sok gengsi, mungkin sekarang aku sedang bobo cantik dalam mobil sembari mendengarkan ocehan Endra yang makin kesini makin merdu terdengar telinga.
"Bit ... " bisiknya di telingaku. Aku berjengit kaget. Bulu kuduk di tengkuk meremang. Damn! Benar-benar sebuah kesalahan aku memilih berdiri tepat di depan Endra.
"Apa lagi sih?"
"Ini." Aku menoleh ke belakang. Dia menyodorkan jaket.
"Buat apa?"
"Tutupin rok bagian belakangmu." Aku baru ingat kalo lagi datang bulan. Tapi kalo sampe tembus kok tumben-tumbenan, ini sudah hari kelima. Dua jam lalu juga sudah ganti pembalut di toilet kantor.
"Tembus lagi ya?" Aku memeriksa rokku. Tapi nggak menemukan noda merah. Lagian aku sengaja pake rok hitam tiap menstruasi sebagai antisipasi kalo tembus biar nggak terlalu kelihatan.
"Bukan itu."
"Terus kenapa?"
"Jangan banyak tanya. Tutupi aja." Dia nampak gusar, memindah letak tas laptop dari balik punggung ke depan. Sekilas sebelum tas itu sepenuhnya berpindah, aku tahu ada sesuatu yang menonjol disana. Astaga ... sejak kapan dia jadi nafsuan.
Ku ikatkan kedua lengan jaket itu di depan perutku. "Baiklah. Sepertinya aku lebih aman seperti ini agar nggak ada yang pura-pura kehilangan keseimbangan lagi saat bis ini ngerem mendadak."
"Yang tadi emang beneran mau jatuh, Bita!"
"Whatever."
Ku alihkan pandangan ke depan, tersenyum tipis. Biasanya aku marah pada lelaki manapun yang terlihat nafsu saat berada di dekatku. Kali ini rasanya lain. Endra membuatku geli dan ingin tertawa. Dia lelaki satu-satunya yang saat nafsu, malah melindungiku dengan jaket.
"Bang, berdiri dong. Gantian. Kasihan ini ada cewek berdiri sejak tadi. Kakinya sudah pegel." Mampus! Endra cari penyakit. Apa dia nggak lihat cowok yang ia tegur, badannya gede dan bertato singa di lengan kirinya?
"Terus apa urusan gua? Gua yang duduk sini duluan." Terang saja si preman melawan. Kalo dia niat mau ngalah, sejak tadi dia nyuruh aku menggantikan posisinya di kursi itu. Jelas-jelas aku berdiri di sebelahnya sejak hampir sejam lalu tapi dia cuma diam. Aku tahu tipikal orang seperti ini. Yang penting dia aman, orang lain bodo amat.
"Malulah sama tato, bang. Ngalah sama cewek aja nggak mau." Anjir! Cari mati beneran si Endra.
"Tato-tato gua. Apa urusannya sama lo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Surat Merah Jambu
General FictionBita belum pernah bertemu dengan Edu, tapi dia yakin bahwa dia telah menemukan cinta pertamanya. Setelah sekian lama saling berkirim surat, kenapa Bita masih saja sulit bertemu dengan Edu? Bita mulai merasa ada yang janggal dengan sosok lelaki yang...
