"Selama ini kamu nuduh Endra kadal. Padahal kamu buayanya!" Aku menuding Romeo tepat di hidungnya. "Salahku apa sih? Sampe kamu tega nipu?" Omelku menuntut jawaban. Tapi lelaki jahanam itu tetap menunduk dan bungkam. "Terutama bapak ibuku." Terusku lirih.
Nggak ada kesedihan yang paling besar seumur hidup yang kurasakan kecuali saat ini. Aku sudah mencoreng nama baik bapak di mata tetangga-tetangga kompleks dan saudara.
Begitu aku tahu apa yang menimpa Shinta, bukan Romeo yang langsung ku cari. Aku meminta Endra mengantar pulang dan segera memberi tahu berita buruk itu pada bapak dan ibu. Kekecewaan besar tersirat dari mimik muka orang tuaku. Tapi mereka malah menutupi dengan memintaku tabah menghadapi cobaan ini.
Oh, come on. Aku sama sekali nggak perlu dikasihani dalam hal ini. Aku memang kesal setengah mati, merasa jadi cewek terbodoh di bumi karena ditipu habis-habisan oleh jin bernama Romeo. Tapi untuk sedih dan patah hati, no way. Jujur, sama sekali nggak.
Yang kupikirkan cuma perasaan kecewa dan malu bapak ibu. Undangan walimah dan resepsi sudah terlanjur menyebar delapan puluh persen ke saudara dan kerabat. Jadi entah bagaimana kami harus menghubungi mereka satu per satu untuk memberitahu bahwa pernikahan gagal dilangsungkan. Nggak akan pernah ada pengantin pria yang akan mengucapkan ijab qobul yang namanya tertera dalam undangan itu.
Untungnya bapak nggak memaksa meneruskan pernikahan ini demi menyelamatkan wajah keluarga kami. Bapak lebih memilih memikirkan bagaimana perasaan Shinta dan keluarganya jika pernikahan ini benar-benar terjadi. Ya, bapak juga punya seorang putri. Jadi mana mungkin bapak tutup mata andai saja semua itu menimpaku (amit-amit, ketok lantai tiga kali).
"Aku nggak maksud nipu kamu Ay."
"Terus maksud kamu apa dengan melamarku tapi hamilin Shinta?"
"Aku cintanya sama kamu. Bukan dia. Maafkan aku, please." Dia menatapku memelas seperti kucing minta ikan sama majikan.
"Terus buntingin Shinta, kalo bukan pake cinta trus pake apa?" Aku menatap tajam pada manik matanya yang sudah melayu sejak awal kedatanganku tadi. "Pake nafsu? Iya?" Dia diam.
"Kamu sih, nggak mau ku sentuh sama sekali. Aku kan butuh itu." Gumamnya ragu. Tapi telingaku masih dengan jelas bisa menangkap itu.
"Apa? Jadi kamu nyalahin aku? Jadi sekarang aku yang salah dan kamu yang benar?" Aku terbawa emosi sampai tanpa sadar suaraku meninggi. Beberapa pengunjung rumah makan melirikku. Buru-buru aku nyengir kuda sebagai permintaan maaf tanpa kata.
"Bukan. Bukan gitu, Ay. Maksudku ..." dia kembali terdiam. Memilin buku-buku jarinya sendiri. Persis seperti bocah yang merasa bersalah karena ketahuan nyolong duit mamanya buat beli permen telur cicak. Rasa bersalah yang ringan karena nilai rupiah yang dia curi nggak sampe seperenambelas nilai belanja mamanya sehari itu.
"Lalu apa maksudmu Rom? Hamil itu bukan main-main. Ada bayi disana. Bernyawa. Anakmu!" Kalimatku memang penuh tekanan, tapi masih dengan volume suara yang terkontrol.
"Ku mohon Ay. Maafin aku." Wajahnya kembali memelas. Kali ini lebih dalam. Dasar buaya kampret. "Aku janji nggak akan ulangi kesalahan ini lagi. Beri aku kesempatan sekaliii ... aja. Ya? Ya?" Tuh kan. Dia pikir hamilin anak orang itu tingkat kesalahnnya setara dengan nyolong duit emaknya. Sarap gak tuh?
"Enak aja. Nggak ada lain kali! Kamu harus nikahin Shinta."
"Fine. Kalo itu yang kamu mau. Aku akan nikahin Shinta." Dia membelai rambutku.
"Jangan pegang-pegang!" Ku tepis tangannya dengan kasar dan melotot tajam.
"Tapi setelah dia lairan. Aku ceraikan dia, lalu kita nikah ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Surat Merah Jambu
General FictionBita belum pernah bertemu dengan Edu, tapi dia yakin bahwa dia telah menemukan cinta pertamanya. Setelah sekian lama saling berkirim surat, kenapa Bita masih saja sulit bertemu dengan Edu? Bita mulai merasa ada yang janggal dengan sosok lelaki yang...
