"Oh...pantesan..." Romeo menyenderkan punggungnya ke bodi mobil. Tangannya bersendekap, kepalanya manggut-manggut. Respon yang membuatku penasaran setelah ku ceritakan padanya perihal Endra bersama wanita yang kami kenal di kantor kemarin.
"Pantesan apa?" Aku berhenti menyeruput es degan. Ku tatap serius lelaki parlente di depanku.
"Inget gak sekitar dua minggu lalu aku ngajakin kamu nyari sepatu di Jember?" Beberapa detik otakku mencari memori itu, setelah ku temukan, segera ku anggukkan kepala dua kali. "Nah, akhirnya aku berangkat sendiri. Disana aku melihat Endra dan Shinta masuk mobil ketika aku baru keluar dari toko. Sebenarnya aku ingin menyapa, tapi mereka keburu pergi. Waktu itu aku sudah merasa aneh dengan gestur tubuh mereka yang...ehmmm..." jari telunjuk Romeo mengetuk dagunya sendiri. Kepalanya mendongak, seolah mencari kata yang pas untuk melanjutkan kalimatnya yang menggantung.
"Yang apa sih Rom?" Gertakku geregetan karena terlalu lama menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Ya...gitu deh Ay. Emang keliatan banget ada hubungan special di antara mereka. Dari cara mereka bicara, gandengan tangan, cara Endra bukain pintu mobil buat Shinta. Aneh pokoknya kalo sekedar disebut hubungan antar mantan teman SMP" Romeo akhirnya menarik kursi plastik di depanku. Dia duduk disana, padahal tadi dia ogah karena takut celananya kotor.
"Kenapa kamu nggak cerita soal pertemuanmu dengan Endra, padaku?"
"Bang. Es Degannya tambah satu" dasar Romeo nggak konsisten, tadi ku tawari minum es degan menolak dengan alasan takut nggak higienis. Sekarang pesan sendiri.
"Rom! Kamu belum jawab pertanyaanku!"
"Duh...apaan sih Ay? Semua hal tentang cecunguk itu, penting ya buat kamu?" Romeo melototiku. Ada aura kecemburuan yang kental terasa.
Aku hanya diam. Pertanyaan itu tak sanggup ku jawab. Aku kembali menyeruput es degan lalu melihat si abang sedang sibuk meracik pesanan Romeo di gelas. Setelah itu pandangan ku alihkan ke arah lapangan hijau yang menghampar luas di belakang kami. Beberapa anak berlarian mengejar bola dengan gembira.
"Kita harus sering-sering kesini buat ngilangin stres. Liat aja mereka, seneng banget mukanya. Pasti mereka lagi capek mikirin pelajaran sekolah"
Aku melihat ada seorang anak lelaki berumur sekitar sembilan tahun terjatuh, sesaat aku terkejut. Tapi setelahnya aku tersenyum saat melihat anak yang jatuh itu malah terbahak-bahak bersama teman-temannya. Dunia lelaki memang aneh. Jatuh malah terpingkal-pingkal. Dulu waktu aku kecil, kalo jatuh ya nangis kejer terus ngambek pulang.
"Kamu memang perempuan aneh Bit. Dimana-mana perempuan kalo buat ngilangin stres ya ke mall. Shopping" lalu si abang penjual es datang meletakkan segelas besar es degan milik Romeo. "Makasih bang"
"Baksonya ndak sekalian?" si abang menawarkan.
"Nggak bang. Makasih. Kapan-kapan aja. Saya masih kenyang." tolak Romeo halus. Si Abang tersenyum sambil manggut-manggut. Dia kembali ke gerobaknya untuk membersihkan beberapa mangkuk.
"Aku nggak suka shopping. Aku suka alam, persis seperti bapakku."
"Sekarang terjawab sudah pertanyaanmu dulu, kenapa Shinta nikah nggak ngundang kita. Ya karena dia emang belum dinikahi sama yang hamilin" bicara Romeo santai sambil mengambil degan dengan sendok di gelasnya. Sedangkan hatiku? Sakit sekali rasanya mendengar kata-kata itu. Hatiku seperti di aduk-aduk pake samurai. Hancur lebur menjadi kepingan-kepingan kecil yang takkan mungkin bisa dirangkai kembali. Sakit hati Hayati, bang...
Romeo bilang tadi, liat Endra bukain pintu mobil untuk Shinta? Ku pikir aku perempuan satu-satunya yang pernah ia perlakukan semanis itu. Oh...betapa begonya aku. Bahkan dia sudah jauh melakukan keintiman dengan Shinta sampai hamil. Jijik sekali ku bayangkan bagaimana itu bisa terjadi. Untung saja aku tidak jatuh sedalam itu ke pelukan Endra; wajah malaikat berhati iblis!
KAMU SEDANG MEMBACA
Surat Merah Jambu
General FictionBita belum pernah bertemu dengan Edu, tapi dia yakin bahwa dia telah menemukan cinta pertamanya. Setelah sekian lama saling berkirim surat, kenapa Bita masih saja sulit bertemu dengan Edu? Bita mulai merasa ada yang janggal dengan sosok lelaki yang...
