Seminggu sejak insiden itu Endra tidak masuk kerja. Lalu saat sehari aku cuti untuk pergi ke dokter gigi. Esoknya Ayu memberitahukan hal yang tak pernah ku duga sebelumnya.
"Kamu udah tau belum? Pak Endra kemaren kesini pamitan loh. Dia resmi resign" entah kenapa tubuhku lemas mendengarnya. Ada rasa bersalah yang sangat besar.
Sepulang kerja aku langsung memberanikan diri ke rumahnya. Sudah ku duga, pasti bu Salim yang membukakan pintu.
"Endra ada tante?" Tanyaku pelan. Mungkin bu Salim heran, inilah pertama kali aku ke rumahnya mencari Endra. Walaupun kami satu sekolah selama lima tahun, aku tak pernah mencari Endra untuk meminjam buku atau mengerjakan PR bersama yang mungkin di lakukan sewajarnya teman sekolah bertetangga. Bahkan orang lain mungkin sudah berangkat dan pulang bersama.
"Tadi sih bilang mau cari kerja, tapi belum pulang juga sampai jam segini. Mungkin mampir ke rumah temannya. Mau nunggu?" Bu Salim tersenyum lembut.
"Oh gitu. Ndak usah tante. Bita pulang aja" jawabku salah tingkah.
"Ya sudah, nanti tante sampaikan"
"Makasih tante" akupun membalikkan badan. Tapi tiba-tiba aku merasa jadi pengecut dan pecundang jika tidak mengakui kesalahan. Maka aku segera membalikkan badan lagi. Untungnya bu Salim belum menutup pintu.
"Oya tante. Ehmmm...Bita minta maaf. Tidak bermaksud begitu. Gara-gara bicara begitu ke Endra, dia resign. Maafkan Bita ya tante" kali ini aku benar-benar merasa bersalah. Ku tahan air mata sekuat mungkin. Endra pasti sudah menceritakan segala duduk persoalannya pada bu Salim. Semoga beliau sudi menerima maafku. Karena jika bu Salim sakit hati, persahabatannya dengan ibuk terancam buyar. Jika itu sungguh terjadi, akan ku kutuk diri sendiri jadi batu.
Seandainya saja waktu bisa ku putar kembali, aku takkan pernah bicara seperti itu pada Endra. Karena kenyataannya memang tidak demikian. Bukan gara-gara rasa iba pada bu Salim, lalu ku usahakan Endra bisa berkerja di kantor. Semua itu murni karena usaha Endra sendiri, sehingga dia layak menempati bekas jabatan pak Donny.
"Iya, gak apa-apa kok. Kamu tenang aja, tante dan Endra sudah memaafkan. Jangan sedih lagi" ada haru biru yang sesak di dada. Ku peluk tubuh bu Salim dan sesenggukan di pundaknya. Kenapa aku begitu jahat pada wanita sebaik dia. Sekarang aku mengerti mengapa ibuk menganggap bu Salim sebagai sahabat terbaiknya walau mereka bertemu di usia yang tak lagi muda.
"Ada yang mau tante bicarakan padamu. Masuklah" bu Salim meraih tanganku lalu menuntun ke ruang tamu. Beliau menyuruhku duduk di kursi.
"Tunggu sebentar"
"Iya tante" bu Salim meninggalkanku sendiri. Ku lihat beliau menaiki anak tangga ke atas. Entah mau kemana. Tak lama kemudian beliau kembali dengan membawa buku tebal. Sepertinya itu buku catatan hutang. Mungkin saja ibuk selama ini telah banyak berhutang?
"Bacalah" bu Salim menyodorkan buku itu. Tidak salah lagi. Pasti karena ibuk belum bayar hutang, makanya bu Salim memintaku membayar. Sejak dulu ibuk memang begitu, banyak cicilan dimana-mana. Dulu banyak mindring yang mampir ke rumah mengambil angsuran. TV, tape, kipas angin, seprei bahkan panci dan kompor, ibu beli dari tukang mindring dengan mencicil tiap minggu.
"Buku apa ini tante?"
"Bacalah sendiri. Ayo, ambil" pinta bu Salim sekali lagi. Mungkin beliau bisa melihat wajahku yang ketakutan. Lalu dengan berat dan ragu aku mengambilnya. Buku tebal bersampul hitam dari bahan semi kulit, ada kancing besar yang terkait di depannya. Buku ini terlalu bagus untuk di jadikan buku hutang. Aku masih ingat buku tagihan milik para mindring yang ke rumah dulu. Bukunya kecil tapi panjang, sudah kusam karena sering di buka tutup oleh empunya. Sampulnya kotor dan kumal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surat Merah Jambu
General FictionBita belum pernah bertemu dengan Edu, tapi dia yakin bahwa dia telah menemukan cinta pertamanya. Setelah sekian lama saling berkirim surat, kenapa Bita masih saja sulit bertemu dengan Edu? Bita mulai merasa ada yang janggal dengan sosok lelaki yang...
