Maaf bila ada typo(s)
Jangan lupa meninggalkan jejak dengan vote dan spam komentar
Happy Reading, Enjoy
.
.
.
.
.
17. Jennie yang Pemarah dan Taeyong yang Jahil
Malam telah berakhir dan udara dingin pun kian menghangat berkat pantulan cahaya mentari pagi. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi saat Taeyong baru saja menyelesaikan pekerjaannya membersihkan salju di sekitaran rumah. Kini teras depan dan berlakang rumah serta balkon kamar di lantai dua telah bersih dari salku sisa badai semalam.
Selesai dari membersihkan lantai bawah Taeyong bergegas menuju kamar tidurnya untuk mandi. Begitu pintu kamar terbuka setengah pemandangan pertama yang Taeyong temukan adalah sosok Jennie yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang sembari memakan pisang. Melihat Jennie yang tampak fokus pada layar ponsel dan tak menyadari kedatangannya, Taeyong lantas berjalan mendekat dan duduk ditepian ranjang.
"Akhir-akhir ini aku perhatikan kau senang sekali menonton fancam Jeno. Jangan terlalu sering, aku cemburu. Bagaimana kalau nanti Bom-a lahir dan dia lebih mirip dengan Jeno?. Itu tidak lucu Ruby-a" rengek Taeyong seperti anak kucing. Sedari bangun tidur Jennie tak lepas dari memainkan ponselnya. Entah itu sekedar menonton video di youtube, menggulirkan laman penjelajahan di instagram maupun berbalas pesan dengan teman-temannya.
"Selain senang menonton Jeno kau juga senang mengabaikanku" Jennie tak menyahuti perkataan Taeyong. Ia lebih memilih fokus pada kegiatannya tanpa menoleh sedikit pun. Kesal karena terus di diamkan Taeyong pun mengambil langkah berani dengan melahap sisa pisang dalam genggaman tangan Jennie tanpa permisi.
"OPPA!" sentak Jennie terkejut sekaligus tidak terima.
"Kau marah karena aku memakan pisangmu?. Aku punya yang lebih besar dan tidak bisa habis, kau mau?" tanya Taeyong dengan gerakan mata mengarah pada kedua kakinya. Bukannya bersemu merah karena menahan malu, Jennie justru geram dan melemparkan Taeyong dengan kulit pisang.
"Dasar pria mesum yang bau, enyah saja dari hadapanku!" usir Jennie. Alih-alih pergi menjauh sesuai permintaan sang istri, Taeyong justru semakin mendekat dan menggigiti tiap inci kulit Jennie yang dapat diraihnya. Melihat wajah Jennie yang bersemu merah karena menahan amarah membuat Taeyong tertawa gemas sekaligus ingin terus menjahili istrinya itu.
"Oppa lepaskan, kau membuatku mual!" sergah Jennie dengan sekuat tenaga dan suara tercekat hampir menangis. Jennie tidak berbohong, perlakuan dan aroma tubuh Taeyong membuat kepalanya pusing. Jika Taeyong tidak berhenti sekarang dapat Jennie pastikan ia akan muntah detik itu juga.
"Akhh baiklah baiklah, maafkan aku. Aku pergi mandi sekarang" Taeyong menyerah begitu merasakan cubitan maut pada perutnya. Tidak tanggung-tanggung Jennie mencubit kecil perut Taeyong kemudian memelintirnya tanpa belas kasihan. Walaupun belum puas menganggu Jennie, Taeyong bergegas beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamar mandi sebelum sisi mengerikan dari istrinya terbangun.
Sepeninggal Taeyong, Jennie merubah posisi duduknya menjadi berbaring dan kembali fokus menatap layar ponsel. Tak ada hal berarti yang wanita hamil itu lakukan selain melanjutkan kesibukannya sebelum si pengganggu datang, yaitu mengagumi wajah tampan Lee Jeno.
KAMU SEDANG MEMBACA
EPILOGUE
Fiksi PenggemarSebagai sepasang kekasih yang bekerja di dunia hiburan kehidupan Taeyong dan Jennie tidak pernah lepas dari lensa kamera. Setiap harinya selalu ada saja pemberitaan tentang keduanya, entah itu berita baik, buruk, benar ataupun salah. Selama delapan...
