20. "Will Marry You." [END]

378 45 9
                                        

Gempa hebat itu akhirnya berhenti. Aster membuka matanya, yang ia lihat adalah sebuah ruangan familiar.

Ruangan kamar rumahnya.

Di samping, tiba-tiba Jericho bertanya "Di mana kamar mandi?"

"Hah?"

"Di mana?"

"D-di sana." Aster menunjuk satu arah di ujung.

Mengangguk sekilas, Jericho menarik tangan Aster menuju kamar mandi. Gadis itu kebingungan, "Kau mau ngapain, hei—"

Sesampai di sana, Jericho membilas muka Aster yang masih memiliki noda darah dengan hati-hati. Diusapnya perlahan, dengan alis mengerut tanda dia sungguh waspada.

Aster sendiri menjadi bingung.

Ada apa?

Kenapa tiba-tiba?

Jantung gadis itu berdebar tanpa diketahui siapa pun, pipinya memerah, perasaan aneh yang muncul di tengah hati terdalam.

Perasaan apa ini?

Jericho selesai membilas wajahnya, "Ayo, kita lihat di mana hartanya." tarik lelaki itu keluar.

Aster mengangguk dan mengikuti langkah Jericho. Mereka mengelilingi rumah, dan akhirnya menemukan harta tersebut di lemari tempat Aster berpindah dunia.

"Mereka aman," ujar Aster dengan lega.

Dari arah luar, suara berita TV terdengar. Itu menarik perhatian Jericho dan Aster, mereka berdua mendekat.

"Dua mayat berinisial K dan H, baru saja ditemukan tergeletak dengan luka tembak di bagian badan dan kepala ...."

Kevin benar-benar meninggal, Halley pun begitu. Artinya, tujuan Jericho sudah tercapai. Di mana ia membunuh si bos preman, Halley, yang sudah menghabisi nyawa ibunya.

Begitu juga dengan Aster yang kehilangan arah hidup. Ia memutuskan untuk mencari harta tanpa pemilik—yang ternyata warisan keluarganya.

Tujuan mereka berdua sudah terpenuhi bersama, sayangnya Kevin tidak turut berbahagia di sini.

"Banyak yang harus kita urus," Aster menghela napas.

Mengklaim warisan yang pasti penuh dengan berbagai tahap, lalu pengakuannya tentang hilangnya Aster secara tiba-tiba.

Gadis itu melirik Jericho yang tengah menelpon seseorang, entah siapa itu.

"Kau menelpon siapa?"

"Keluargaku." Jawab Jericho.

Aster terkejut, "Kau masih memiliki keluarga, Richo?"

Jericho tertawa dan duduk di kursi dekatnya, "Kau mengejekku atau mengasihani hidupmu sendiri?"

"Dasar sialan." umpat Aster yang ikut duduk di sebelahnya.

Kini suasana menjadi sepi, hanya ada suara reporter di berita TV yang terus mengoceh. Di luar, pagi hari, juga ramai mobil berlalu-lalang ke berbagai arah.

"Aster. "

"Hm?"

"Aku—"

Brak!

Tiba-tib pintu rumah terbuka kencang, beberapa orang berbaju hitam seperti pengawal kaya datang dengan wajah terkejut.

Mereka menunjuk Jericho dengan takut, seolah tengah melihat hantu. "D-dia benar-benar tuan muda!"

Aster, yang mendengar panggilan di kalimat terakhir itu, terkejut.

Kejutan apa lagi ini?

"Tuan muda?" Aster menoleh bingung.

Para pengawal seram itu tampak hampir menangis, "Tuan muda, ke mana saja anda selama ini?"

Jericho hanya tersenyum, "Aku bermain-main."

"Bermain?"

"Bermain bersama dia, gadis yang aku sukai." Jericho menunjuk Aster di sampingnya.

Lagi, Aster terkejut lagi. Namun kali ini jantungnya berdebar sangat kencang, wajahnya semerah tomat. "K—kau gila!"

"Aku serius."Jericho berdiri dan menatap Aster, "Aku menyukaimu."

Para pengawal di belakang memasang wajah melongo. Mereka datang dan terharu akan tuan mudanya kembali, tetapi dikejutkan lagi dengan pengakuan musim semi.

"Aster, aku—sungguh menyukaimu." Jericho tersenyum manis, "Aku akan kembali dan membawa cincin lamaran untukmu. Tunggu aku, ya?"

"Hah? Apa?" Aster masih tak percaya.

Jericho menjentikkan jarinya, "Ah! Untuk urusan hak waris dan berbagai hal merepotkan, aku akan membantu, kok."

"Jadi... Tunggu aku kembali dan aku akan menikahimu."

--TAMAT--

[END]Taking Money Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang