Jumat, 26 Juli 2019
"Lo bisa nggak sih Kiev, kalau mau melakukan tindak kriminal, nggak usah ngajak-ngajak gue!" JS menggerutu.
"Temen gue cuma lo, Je," jawab Kiev melas. Cowok itu membetulkan kacamatanya yang melorot sambil berkedip-kedip ke arah JS. "Lagian ini bukan kriminal, enak aja. Ini kan rumah kakek gue!"
JS menghela napas panjang kemudian terpaksa mengikuti Kiev dan melepas sepatunya di teras sebelum masuk ke rumah Kakek Ginanjar.
Rumah Kakek Ginanjar adalah sebuah rumah sederhana bergaya era 90-an yang terletak di kawasan Rawa Bambu Jakarta. Kakek Ginanjar menyimpan perlengkapan layar tancapnya yang masih disewakan hingga saat ini seperti proyektor, layar, sound system, dan ratusan koleksi roll-roll film di gudang bagian belakang yang terpisah dengan rumah utama.
Namun, karena kakek sudah menua, urusan persewaan layar tancap diserahkan pada Bang Jono, orang kepercayaannya. Tadi, Kiev ke sini untuk mengobrol dengan Bang Jono terkait pagelaran layar tancap yang menjadi tanggung jawabnya di malam festival Levinema nanti. Setelah urusan itu beres, Kiev yang masih penasaran pada proyektor antik tahun 1960-an milik Kakek Ginanjar, mengajak JS untuk melihatnya sebentar saja.
"Santai aja, nggak usah deg-degan gitu. Kakek kan nggak di rumah."
"Justru karena kakek lo nggak di rumah, gue deg-degan," protes JS. Cowok beralis tebal itu terlihat gelisah.
"Takut dikira maling ya lo?" Kiev terkekeh. "Tenang, gue udah bilang Kakek mau ke sini kok. Buktinya kita dikasih kunci rumah Kakek langsung sama nyokap gue, bukan masuk paksa," tambah Kiev lagi sambil mengeluarkan sebuah kunci dari saku celana seragamnya.
JS tidak menjawab. Cowok itu menahan diri untuk tidak menjitak sahabatnya yang kadang suka terlalu nekat itu.
Kini dua remaja itu sudah berada di dalam rumah Kakek Ginanjar. Kakek Ginanjar sedang pergi ke Surabaya untuk menjenguk anak bungsunya alias tante Kiev yang baru saja melahirkan. Kakek akan berada di sana sampai dua minggu menurut informasi dari mama Kiev. Begitu mendengar kabar itu dua hari lalu, Kiev langsung melonjak kegirangan.
"Gue tahu maksud lo ke sini buat apaan," tebak JS.
Kiev melirik JS kemudian nyengir. "Bentar doang, nanti proyektornya bakal gue balikin sebelum Kakek balik," lanjutnya.
Kiev merasa punya kesempatan untuk meminjam proyektor tua itu untuk dibawa ke pameran beberapa hari lagi. Karena itu, hari ini sepulang sekolah, Kiev langsung mengajak JS untuk melihat proyektor tua itu secara langsung.
Seperti sudah mengenal betul seluk beluk rumah Kakek Ginanjar, begitu masuk ke ruang tengah, Kiev langsung berjalan ke arah saklar dan menyalakan semua penerangan di rumah ini. Setelah itu, Kiev langsung belok ke kiri menuju kamar kakeknya. JS memutuskan untuk duduk di sofa ruang tengah dan tidak mengikuti Kiev. Meski Kakek Ginanjar tidak ada di rumah, JS tetap merasa segan bertindak semaunya di sini. Cowok itu hanya duduk di sana sambil memainkan ponselnya menunggu Kiev.
Kamar Kakek Ginanjar tidak dikunci. Bunyi berderit terdengar ketika Kiev mendorong pintu kayu jati itu ke dalam. Tangan Kiev meraih saklar di dinding sebelah kanan pintu. Seketika lampu di kamar Kakek Ginanjar menyala terang.
Kiev memandang sekeliling ruangan pribadi kakeknya yang hangat itu. Aroma kamar kakek seperti bau lavender. Bau yang familiar bagi Kiev. Cowok itu tersenyum kecil. Dia teringat masa-masa kecilnya yang sering menginap dan tidur besama kakek dan neneknya di ranjang besar yang terletak di tengah ruangan ini. Kiev membatin, kakeknya pasti kesepian sendirian di sini.
YOU ARE READING
SPOILER
Mystery / ThrillerKIEV tiba-tiba bisa melihat spoiler kejadian yang akan datang lewat proyektor tua milik kakeknya yang dia bawa ke pameran Klub Film sekolah. Awalnya menyenangkan, sampai akhirnya Kiev melihat spoiler kematian Jonathan, guru pembina Klub Film Levinem...
