Eps 1 - Silly Boy in The Club

593 70 20
                                        



Dua minggu sebelumnya,

20 Juli 2019

"Kita bikin nostalgia Malam Pagelaran Layar Tancap ala tahun 90-an. Pasti seru buat jadi puncak acara Festival Levinema. Lampu gedung sekolah kita matikan, ganti dengan lampu-lampu kuning yang dipasang mengelilingi lapangan. Penonton duduk di tikar. Di samping-sampingnya kita datangkan penjual kacang rebus, jagung bakar, sekoteng. Bagaimana?" jelas Kiev.

Di belakang cowok itu layar presentasi menunjukkan visual suasana malam layar tancap di sebuah lapangan yang penuh dengan penonton dan bazar di sekelilingnya.

Sambil tersenyum lebar karena merasa bangga atas idenya itu, Kiev menatap satu persatu wajah peserta rapat Festival Tahunan Klub Levinema—Klub Film SMA Lentera Victoria yang duduk mengelilingi meja di depannya. Sebagai Ketua Pelaksana Festival tahun ini, dia merasa idenya ini sangat cemerlang. Namun, tidak ada satu pun yang merespons. Semuanya hanya diam sambil memasang wajah datar.

Kayaknya nggak ada yang tertarik, pikir Kiev.

"Waaah, bagus! Keren!" celetuk seorang cewek sambil bertepuk tangan.

Sontak seluruh peserta rapat kompak menatap ke arah suara itu berasal, membuat cewek berambut panjang itu menghentikan tepuk tangannya dengan canggung.

"Makasih, Rissa," balas Kiev atas apresiasi temannya itu sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.

"Gue nggak setuju. Izin kita cuma sampai jam 9 malam. Kalau pakai pagelaran layar tancap segala, bisa-bisa sampai tengah malam baru kelar. Kalau pengunjung aja pulang tengah malam, kita panitia mau pulang jam berapa?" seloroh Dinka, Ketua Panita Festival Levinema tahun ini dari tempat duduknya.

Kasak-kusuk suara peserta rapat terdengar. Beberapa orang mengangguk-angguk sebagai tanda setuju atas apa yang dilontarkan Dinka.

Kiev menghela napas panjang. Seolah cowok itu sudah paham betul siapa yang sedang dihadapinya, dia malah tersenyum kecil sebelum menjawab. Namun, belum sempat dia membuka mulut, Dinka lagi-lagi menyahut.

"Lagian, kalau harus sewa peralatan layar tancap segala, bikin budget kita bengkak lagi dong. Kita kan juga harus menghemat buat event-event selanjutnya!" seloroh cewek berambut pendek sebahu itu ketus. Kedua alisnya terangkat dan matanya menatap Kiev dengan tajam.

Kiev tersenyum lebar. Cowok berkacamata bingkai hitam tebal itu menampilkan slide selanjutnya di layar setelah memencet sebuah remote control kecil.

Layar Tancap Anak Negeri Sanjaya Group

Kiev mengulang membacakan tulisan di layar. "Sanjaya Group. Nggak asing kan teman-teman? Ya, itu nama belakang saya, Adrianno Kiev Sanjaya. Sanjaya diambil dari nama belakang kakek saya. Kita tidak perlu menyewa layar tancap jauh-jauh. Saya bisa bawa unit perlengkapan layar tancap milik kakek saya buat acara Festival Levinema. Hemat, kan?"

Seluruh ruangan kembali riuh dengan kasak-kusuk. Beberapa anak mulai terlihat tegang menyimak perdebatan antara Kiev dan Dinka, dua orang yang terkenal mempunyai hubungan sengit di Klub Levinema. Tahun ini keduanya sama-sama menyandang jabatan penting. Ketua Panitia dan Ketua Pelaksana Festival Tahunan Levinema. Ditambah lagi, saat ini Kiev dan Dinka juga sedang bersaing dalam pemilihan calon Ketua Klub Levinema selanjutnya menggantikan Alika Chandra.

"Emang masih bagus perlengkapannya? Nanti karena gratis eh ternyata rusak," Dinka mendebat lagi.

"Masih, dong! Usaha layar tancap kakek masih aktif kok sampai sekarang. Dan oh ya, ada satu lagi, Dinka. Kakek saya juga punya proyektor antik dari tahun 1960-an. Saya bisa bawa itu juga untuk dipamerkan di booth pameran film yang kamu usulkan buat acara sore harinya. Kita bisa demonstrasikan proyektor antik itu juga ke pengunjung."

SPOILERWhere stories live. Discover now