Ruang Kepala Sekolah beberapa saat sebelumnya.
"Kita lakukan penyelidikan secara tertutup. Saya tidak mau nama sekolah kita jadi semakin buruk kalau masalah ini sampai heboh di luar sana," jelas Hendra, wakil kepala SMA Lentera Victoria.
"Publik masih belum percaya sepenuhnya pada sekolah kita semenjak kasus yang kemarin. Bagaimana kalau mereka tahu masalah ini juga," lanjutnya.
Siang itu setelah jam pelajaran selesai, Hendra yang saat ini sedang menggantikan posisi Kepala SMA Lentera Victoria yang sedang nonaktif karena terlibat sebuah kasus, mengadakan rapat tertutup untuk membahas kejadian penyerangan terhadap Jonathan Chang kemarin sore.
Di ruangan itu hanya ada Hendra, Baskoro, guru Biologi yang berada di lokasi kejadian, dan Budiman guru BK yang dipercaya Hendra untuk membantu mengusut permasalahan ini.
"Tapi di media sosial anak-anak kita sudah banyak yang mempertanyakan masalah pertandingan persahabatan yang dibubarkan secara mendadak dan ambulans yang datang," sahut Baskoro dari tempat duduknya. Raut wajah pria itu terlihat cemas. Pria itu tak bisa berhenti menggerakkan kedua lututnya karena terlalu gelisah. "Mereka pasti sudah memiliki spekulasi sendiri bahwa ada sesuatu yang terjadi sore kemarin.
"Biarkan saja dulu. Nanti juga akan reda sendiri semua keramaian di medsos itu," timpal Hendra.
"Kita bisa menggiring berita agar tidak mengarah ke insiden itu. Apa perlu saya coba, Pak?" tanya Baskoro.
"Tidak. Tidak perlu Pak Baskoro," jawab Hendra. "Bagaimana keadaan Pak Jonathan di rumah sakit? Apa belum sadarkan diri?" tanyanya lagi.
"Pak Gamal yang berjaga di sana, Pak. Tampaknya belum ada kabar baik," jawab Baskoro.
"Keluarganya sudah ada yang datang?" tanya Hendra sembari meraih sebuah map yang berisi dokumen-dokumen Jonathan Chang.
"Pak Jonathan tinggal sendirian di Jakarta. Orangtua beliau sudah lama meninggal dan beliau tidak memiliki saudara kandung. Saudara jauhnya ada di Bangka, Sumatera, dan kami belum mengambil keputusan untuk mengabari mereka karena penyebab kondisi Pak Jonathan yang seperti ini," jelas Baskoro lagi.
Hendra mengangguk-angguk pelan sambil mengembuskan napasnya dengan berat. Pria paruh baya itu tampak berpikir keras agar masalah ini tetap bisa terselesaikan tanpa membuat keributan yang bisa mengancam nama baik sekolah di mata yayasan dan wali murid.
"Kalau sampai ada wali murid yang tahu bahwa ada kejadian penusukan di sekolah, mereka pasti tidak akan diam saja, Pak," sahut Baskoro tiba-tiba. "Kemarin saat saya meminta para orangtua untuk menjemput anak-anak itu, saya hanya menjelaskan bahwa ada kecelakaan yang terjadi pada seorang guru dan anak-anak itu yang menolong guru tersebut."
"Mereka tidak bertanya lebih jauh kecelakaan apa?" tanya Budiman.
Baskoro menggeleng. "Saya sudah mengatakan pada anak-anak itu untuk tidak memberitahu kejadian sebenarnya sebelum ada keputusan dari sekolah. Beberapa dari mereka memang protes, tetapi sepertinya mereka masih bisa diandalkan untuk tidak menyebarkan kejadian sebenarnya karena posisi mereka sebagai saksi," jelas pria itu.
"Bagaimana dengan Bara Orion? Menurut kesaksian Kiev, Baron ada di gedung itu sebelum Kiev menemukan Pak Jonathan? Pak Budiman sudah memeriksa Baron?" tanya Hendra.
"Saya sudah memanggilnya ke ruang BP tadi siang, tetapi untuk pelanggaran lain. Saya dan Pak Baskoro tidak bisa membuktikan Bara Orion berada di sana karena tidak ada cctv di sekitar auditorium. Kami masih menunggu arahan dari Pak Hendra untuk mengumpulkan anak-anak itu untuk duduk bersama dan membahas masalah ini," jawab Budiman.
Hendra baru saja hendak menimpali penjelasan Budiman, ketika Sukim—satpam sekolah, tiba-tiba masuk ke ruang rapat dengan tergopoh-gopoh.
"Maaf Bapak-bapak sekalian. Saya baru saja mendapat kabar dari Pak Gamal di rumah sakit tentang kondisi Pak Jonathan," ucap pria yang kemarin juga turut serta mengamankan keadaan di sekolah saat kejadian itu terjadi.
Napas Sukim yang terengah-engah, serta raut wajahnya yang kusut, menandakan bahwa berita yang dibawa pria itu tentu bukan berita yang baik.
Hendra memutar kursinya untuk berhadapan dengan Sukim. "Ada berita apa?" tanya pria itu.
"Pak Jonathan meninggal dunia," jawab Sukim dengan suara bergetar.
Suara embusan napas tertahan terdengar dari Baskoro dan Budiman. Semuanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata. Salah satu rekan kerja terbaik mereka, dan juga guru yang banyak disukai siswa-siswa mereka telah meninggal dunia karena sebuah insiden tak terduga.
Hendra mengembuskan napasnya kasar. "Baik, Bapak-bapak sekalian kita lanjutkan lagi rapat ini setelah urusan pemakaman Pak Jonathan selesai."
Semua yang berada di ruangan itu mengangguk-angguk setuju.
"Pak Budiman, kirimkan ucapan bela sungkawa dan berita duka cita melalui broadcast," perintah Hendra yang langsung dibalas dengan anggukan oleh guru BK itu.
"Kalau ada yang bertanya apa penyebab Pak Jonathan meninggal, bagaimana Pak?" tanya Baskoro.
Jonathan adalah guru yang ramah dan banyak disukai oleh siswa. Siswa-siswa SMA Lentera Victoria pasti sangat kehilangan sosok beliau. Semua pasti akan bertanya-tanya penyebab kematian guru muda itu.
"Saya akan konsultasi dengan dokter yang menangani Pak Jonathan. Sebelum itu, jangan memberikan jawaban apa-apa dulu," jawab Hendra setelah berpikir beberapa saat.
"Bagaimana kalau anak-anak itu memberitahu teman-teman mereka tentang kejadian sebenarnya?" Budiman turut melontarkan pertanyaan. "Saya yakin mereka tidak akan diam saja, apalagi kalau tahu bahwa Pak Jonathan sudah meninggal," lanjutnya.
Semua mata tertuju pada Hendra yang memiliki kuasa untuk mengambil keputusan. Kiev dan teman-temannya adalah anak didik terdekat Jonathan di Klub Film, mereka juga yang menemukan Jonathan saat insiden penusukan itu terjadi. Mereka pasti akan melakukan sesuatu jika tahu kabar tentang meninggalnya Jonathan.
Hendra tidak bermaksud menghalangi para remaja itu untuk bertindak, hanya saja pria itu khawatir anak-anak itu akan melakukan sesuatu yang gegabah sehingga akan merugikan nama baik SMA Lentera Victoria yang baru saja bangkit dari sebuah kasus besar yang membuat sekolah ini buruk. Hendra tidak ingin kerja kerasnya sia-sia dan membuat sekolah ini kembali tercoreng. Setelah berpikir sesaat, akhirnya pria paruh baya itu memberi arahan pada guru-guru yang dipercayainya itu.
"Lakukan apa pun agar anak-anak itu bungkam dan tidak membicarakan kejadian sebenarnya, pada siapa pun. Mengerti?"
***
Author's Note:
Dear, Spoilers.
Apa kabar weekend ini? Masih semangat buat mengikuti kelanjutan Spoiler?
Hmm, selalu saja ada pihak-pihak yang hanya mementingkan nama baik di atas penderitaan orang lain. Termasuk jajaran guru di SMA LV.
Nggak kapok apa ya mereka sama kasus yang di Podcase.
Lama-lama SMA LV dibubarkan nih karena terkenal problematik.
Btw, makasih ya Spoilers, karena masih setia baca dan dukung SPOILER!
Jangan lupa klik vote buat dukung SPOILER, dan share cerita ini ke temen-temen kamu ya, biar mereka ikutan baca.
Sampai ketemu di Episode selanjutnya ^^
See yaa!
Spoilove,
Lia Nurida
Buat yang pengin baca cerita aku lainnya atau kenalan dengan aku secara lebih dekat, bisa langsung follow media sosial aku berikut ini:
Wattpad: @lianurida
Instagram: @lianurida
Rakata: @lianurida
#MizanWritingBootcamp2022 #MarathonSpoiler #SpoilerNovel #KepoinSpoiler #MWBRakata
YOU ARE READING
SPOILER
Mystery / ThrillerKIEV tiba-tiba bisa melihat spoiler kejadian yang akan datang lewat proyektor tua milik kakeknya yang dia bawa ke pameran Klub Film sekolah. Awalnya menyenangkan, sampai akhirnya Kiev melihat spoiler kematian Jonathan, guru pembina Klub Film Levinem...
