Nuka Berkata (2)

39 6 2
                                        

Kata orang-orang, nasib Nuka lebih luka daripada Putri Abu. Yang dimaksudkan Putri Abu tak lain dari Cinderella si Upik Abu yang kelak jadi nyonya sang raja, namun di masa gadisnya ibarat sang babu di rumah orangtuanya sendiri. Pasalnya cukup klise, ibu tiri dan kakak-kakak sambungnya yang "baik hati" mensabotase hak-hak si putri cantik yatim piatu, padahal Upik Abu berlimpah harta oleh peninggalan mendiang ayahnya. Setidak-tidaknya kita tahu, dongeng Putri Abu berakhir dengan kebahagiaan. Lalu kisah Nuka bagaimana?

Dua jam buat Nuka Tumiwa ibarat uang yang bisa membeli nyawanya sendiri. Dua jam yang amat berharga itu disia-siakannya untuk menunggu. Tunggu dulu, ia berpikir. Bukan ia yang menyia-nyiakannya, tetapi nasibnya yang membuat waktunya terbuang percuma. Entah bagaimana, bus yang ditumpanginya pagi ini tidak sampai-sampai di tempat tujuan.

Sebetulnya Nuka juga enggan sampai di tujuannya. Namun, toh, hidupnya harus berjalan juga. Masak enak sih menghamburkan waktu di atas jok bobrok yang tak keruan baunya, ditingkahi sumpah serapah nenek di sebelahnya yang menganggap bus mesti semewah taksi biru yang tarifnya lumayan lucu itu? Nuka ikut mengumpat dalam hatinya, karena laju bus merambat 0,03 km per jam, kira-kira begitu, bahkan masih kalah gesit dari speed siput kebun yang jelas sudah sangat-sangat lamban sekali.

Sebuah ide liar bergulir di benak Nuka. Dengan laju bus yang sangat-sangat pelan, bisakah ia memaksa turun saja, karena sang supir tidak menggubris "request khususnya". JANGAN ADA YANG TURUN SEBELUM HALTE. Stiker putih bertuliskan hitam bold huruf kapital mengancam Nuka sebelum ia usai bertanya. Eh, perasaan kok tidak ada tempelan aneh-aneh waktu ia naik tadi? Kini di sekat kaca pemisah bilik pengemudi bertengger stiker bertulisan lucu, yang melarangnya turun walau ia sangat ingin.

Sekat kaca pemisah itu berlubang-lubang mungil, polanya bulat, agar penumpang bisa berkomunikasi dengan pengemudi dan kondektur bus yang bersisian duduknya. Bus ini cukup "eksekutif" kelasnya. Sudah tua usianya, bekas bus wisata ber-AC dan punya toilet, warnanya biru pucat, meski jok abu-abu bus kurang terawat dan berbau agak aneh. Kondekturnya jaim, pikir Nuka, tadi cuma berkeliling satu kali memeriksa karcis, lalu segera duduk kembali dan cuma sesekali menoleh memastikan situasi bus aman terkendali. Manja sekali tabiatnya, umpat Nuka lagi.

Mungkin rute ini spesial pakai telur. Nuka kembali mengomel dalam hatinya, membayangkan menu nasgor yang diramu ayahnya dengan ikan asin dan bawang goreng melempem kurang garing. Uang dapur yang disunat ayahnya dari gaji Nuka menguap di situs yang tidak-tidak, utamanya untuk judi-judi online berprinsip mau untung jadi buntung itu. Cuma pasang sepuluh ribu, sih, tapi jadi makanan rutin sehari-hari. Akibatnya sudah bertahun-tahun mereka cuma mengonsumsi telur sebulan satu kali saja.

"Tenang, Ka. Asal bapakmu ini menang lotere, tak beliin kamu satu truk telur kalau perlu. Sekarang kita makannya prihatin dulu, ya. Seadanya begini. Oke?"

Oh, bapakku yang pemimpi. Nuka punya bapak seorang Peter Pan, bocah laki-laki yang menolak tua dan hidup di alam yang bermimpi. Prinsip hidup orang dewasa ditolak mentah-mentah bapaknya Nuka, yang kabarnya boyongan ke Bandung dari Jakarta juga lantaran berurusan dengan kejaran rentenir.

Satu-satunya yang Nuka suka dari pekerjaannya adalah merobek kertas. Sebagai tukang sobek karcis di bioskop antik, luapan emosinya bisa tersalurkan dengan bunyi robekan kertas karcis yang agak tebal. Jangan dikira bioskop murahan yang dijaganya tak ada peminatnya, karena bioskop itu ramai sebelum dan sesudah Covid-19 mereda tahun 2022. Bioskop itu banyak sudut-sudut gelap, soalnya, dan jadi sasaran pasangan malming-an yang kekurangan sarana hiburan. Yang penting mesra tanpa buang-buang duit banyak, pada prinsipnya.

Di bioskop yang romantis itulah, Nuka berjumpa seorang teman baik. Laki-laki bertampang lumayan, tidak diingat jelas sayangnya, karena mereka kebanyakan berbincang di ruang bioskop yang gulita. Setelah usai menyobek tiket, Nuka akan masuk ke dalam teater 1, ya sebetulnya ini memang satu-satunya teater di bioskop berkecoak banyak itu, dan mereka mengobrol di sudut belakang, mengabaikan film tua yang rol filmya sering terputus-putus, pertemuan malam minggu kesekian yang membuat kelabu Nuka jadi sedikit punya warna-warni.

Love Like You DoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang