Dante Kapi Bara (8)

20 5 0
                                        

Halo.

Salam ini ingin dikatakan Nuka tetapi ditariknya kembali. Dante boleh jadi bukan sosok manusia seperti perkiraan Elan. Jelas Elan menampik teori alien yang dipikirkan Nuka, namun apa boleh buat jika Dante berciri-ciri manusia luar biasa, kan? Kebetulan, kata luar biasa ini merupakan momok pahit Nuka kecil yang pernah menolak bersekolah semasa sekolah dasarnya. Dia anak yang "luar biasa" ketika itu.

"Nuka! Bapak kasih kamu peringatan sekali lagi, ya! Kamu macam-macam gak mau sekolah, bakal bapak jebloskan kamu ke SLB, mau kamu masuk Sekolah Luar Biasa, heh?"

Ancaman bapak mungkin main-main saja. Namun, Nuka tujuh tahun kala itu betul-betul berharap pindah sekolah dan ayahnya melaksanakan ancaman basinya, betul-betul mengirimnya ke SLB sebelah sekolah SD tempatnya menuntut ilmu. Yang mana saja boleh, yang penting ia tidak bersekolah di sekolah terkutuk itu!

Belum habisnya Nuka bersedih, mengapa mereka boyongan pindah ke Bandung segala, tiba-tiba pula, musibah dalam hidupnya mengemuka di sekolah barunya. Entah kenapa, guru-guru di sekolah itu membencinya, istilah kasarnya sentimen berat padanya. Sesudah lebih dewasa, Nuka tahu kata "sentimen" untuk melukiskan rasa tidak suka itu kurang tepat pemaknaannya.

Sentimen itu bisa positif, bisa juga negatif. Seperti misalnya sentimen positif masyarakat memengaruhi pergerakan naik indeks saham gabungan di bursa saham. Lihat sentimen positif bisa menyehatkan ekonomi negara, kan? Kebetulan, yang dialami Nuka semasa SD dulu adalah sentimen negatif dari guru-guru, yang didoktrinkan sebagai orangtua di sekolah dalam pengajaran moral yang munafik.

Untung kemudian ia bertemu Pak Johannes yang baik hati. Satu-satunya guru yang baik padanya, selain Bu Lastri yang lumayan pengertian dan membiarkannya menunggak SPP sepanjang tiga bulanan. Kedua guru ini yang melunturkan sentimen negatif Nuka pada dunia pendidikan tanah air yang terkadang bias, pilih kasih, cenderung memihak pada yang memiliki uang banyak.

Elan, Dante, dan Nuka kompak tak berbicara. Dante membolak-balik sebuah buku catatan kecil, sampulnya cokelat kulit, dan ia berkomat-kamit yang sulit ditebak maknanya apa. Nuka menanti-nantikan cerita pertama dari seribu kisah si lelaki asing, karena mungkin sekali Nuka Tumiwa yang serba ditimpakan ketidakberuntungan akan berakhir kisahnya setelah ini.

"Kita main sambung cerita saja. Pasti lebih asyik daripada aku cerita sendirian. Jadi ini permainan interaktif boleh dikata." Dante membuka kisahnya dengan cara yang luar biasa.

"Sambung cerita? Tapi pikiranku sedang blank, Bung. Boro-boro bikin cerita, bicara saja sedang malas." Elan terpingkal bicara, meniru Nuka memanggil Bung kepada Dante yang sosoknya lelaki bersuara keperempuan-perempuanan.

"Bukankah kekosongan itu adalah cerita, dan cerita sendiri didasarkan dari kekosongan jiwa?" Dante mengetengahkan filsafat yang tak normal, raut mukanya menggurui kedua teman sebangkunya.

"Bung Dante sadar tidak kereta ini tidak ada penumpangnya lagi selain kita bertiga? Jadi kosong keretanya." Nuka menyergah, maksudnya hendak mengalihkan perhatian Dante agar permainan aneh terpotong sementara waktu.

"Oh ya, bagus itu. Memang sesuai itinerary, persis rencana perjalanan kita. Semuanya memang diatur begitu." Dante membuang pandang ke sekelilingnya dengan puas.

Bung Dante tahu kemana perginya penumpang kereta kita? Nuka lagi-lagi menelan pertanyaannya, karena ia takut justru topik misterius itu yang diangkat sebagai tema sambung ceritanya Dante. Herannya, Nuka merasa, kata-kata Dante punya magnet atau daya isap yang mau tak mau membuat pendengarnya terserap total dalam perkataannya. Mau tak mau Nuka menunggu permainan berikutnya dari sosok tersangka alien di sisinya, yang menyeringai berseri-seri mirip iklan pasta gigi di reklame karatan pinggir jalan.

Love Like You DoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang