Elan dan Nuka (14)

14 4 0
                                        

Takdir itu buta dan tak berbelas kasihan bagi manusia. Elan tak mungkin menyukai kalimat semacam itu, apalagi bagi teman baiknya yang membenci buku novel. Kata-kata penghiburan menggombal semacam itu, pantas dihadiahkan bagi mereka-mereka yang patah hatinya. Namun, seingat Elan, hatinya tidak mungkin remuk oleh karena cinta. Tak ada pacar dan menjomblo di umur 27 tahun, wajar bila ia tak merasakan cinta menyapa di hatinya. Tak ada cinta berarti takkan ada kehilangan, begitu masuk akal, bukan?

Keadaan gelap total di kereta berubah sangat cepat. Secepat kilat menyambar, penerangan kereta kembali terang benderang mendadak, bahkan menjadi lebih terang dari sebelumnya. Pemandangan menyedihkan tersaji di jendela kereta, seperti suatu tanah atau negeri yang dibumihanguskan dan sempat menjadi lautan bara yang berkobar-kobar. Namun bara telah pupus dan menyisakan arang yang merana sia-sia.

Mendadak saja, jendela kereta api yang tadinya menyajikan pemandangan tanah tandus tak bertepi dan semak belukarnya bahkan menghitam legam, beralih menjadi televisi layar datar yang menyuguhkan film-film cengeng penuh romantika. Nuka juga melihatnya, menunjuk layar dengan tegang, sementara Dante dan kondektur kereta tenang-tenang saja membaca dan menulis di buku notes masing-masing.

Aneh di benak Elan, karena dialog dalam film cukup akrab di pendengarannya. Padahal ia tidak suka mengobral waktunya untuk film yang sudah jelas alurnya berakhir di muara mana. Sama basinya dengan buku novel membosankan yang berakhir oleh makian sang teman, juga sama datar dan sama memuakkannya dengan hidup Elan sendiri yang selalu begitu-begitu saja. Lalu di mana ia pernah menyaksikan film sejenis itu?

Ah, lebih tepatnya bukan menyaksikan, tetapi mendengarkan. Ya, mendengarkan percakapan film, yang pernah dilakoninya entah kapan dan di mana tempatnya. Tak mungkin di dalam bioskop, toh? Elan tak pernah belajar menyukai kegelapan dan suara riuh rendah pada saat yang sama. Pernah ia seorang diri menonton layar tancap yang high class, berupa teater kendara atau drive-in cinema, yang membuka kesempatan buat penonton menyaksikan film di ruang terbuka dari mobilnya masing-masing.

Awalnya, Elan hanya penasaran, bagaimana rasanya menonton film bukan di bioskop tertutup, dan ia pun menjajal teater kendara yang dibuka sementara selama pandemi corona, persisnya mulai tahun 2020 pertengahan itu. Hasilnya ia tak tertarik meski rasa penasarannya terbayar lunas. Seingatnya film yang ditontonnya lumayan tidak ngantuki. Genrenya action suspense thriller whatever, tidak cengeng sama sekali, tetapi ujung pangkal cerita kurang logis. Satu-satunya sebab Elan tidak mengantuk karena suara ciat, hiat, dan gedebuk yang tak putus menjadi santapan dalam film, bahkan ketika tokoh utama dikisahkan memasak pun ada ciat dan hiat juga yang jelas mengada-ada dan diada-adakan setengah memaksa. Selera lokal mungkin begitu tuntutannya, makin penuh darah film action-nya, makin sedaplah ia untuk ditonton.

"Teganya kau mempermainkan cintaku, Bang. Selama ini kau mencintaiku hanya agar aku dicampakkan akhirnya, kan? Kamu memang merencanakannya, Bang. Jangan menyalahkan takdir lagi, salahkan saja hati busukmu yang tak punya cinta itu!"

Percakapan yang mirip dialog khas film 70-80'an mengalir di jendela kereta. Dari yang Elan mampu tangkap, si tokoh pria mempermainkan cinta perempuannya, berpura-pura berpacaran dengannya, kemudian memutuskan berpisah tanpa sebab yang jelas. Entah karena sebab apa, hati Elan tertusuk seakan dialog-dialog kacangan dalam film relate dengan kehidupan nyatanya yang lempeng minus lika-liku percintaannya. Pasti kereta ini menularkan kesintingan akut kepadanya, maka pikirannya tidak lurus lagi, bercabang tak tentu rimbanya.

Kakak Elan, Langga Armatisna divonis sakit jiwa berat oleh lingkungannya. Boleh dikatakan sinting, bukan? Namun, sang kakak saja kurang menyukai film mendayu-dayu sejak dulu, lebih-lebih setelah perceraian sepihak, yang membuatnya merasa dilangkahi istri yang bukan pilihannya, bila saja ia bukan dijodohkan paksa oleh orangtua mereka, yang penuh harap pernikahan membuat mental kakak Elan makin stabil, terkendali, lalu pulih sedikit demi sedikit.

Love Like You DoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang