"Kira-kira karena Dante bukan manusia lagi, apakah dia itu malaikat, makanya tidak dinamai seperti kita yang manusia, ataukah dia adalah ... makhluk separuh iblis?"
Baikah, Elan sendiri tercengang oleh perkataannya, yang ia tahu asalnya bukan dari mulutnya sendiri. Pengetahuan soal malaikat dan iblis terlalu awam untuk seorang Elan yang sudah tujuh tahun tak beribadah dan biasanya buku-buku kerohanian dan spiritualitas dihindarkannya, karena takut dirinya makin membosankan dari yang sudah-sudah. Bagaimana dia bisa bicara soal malaikat dan iblis, karena ranah paranormal itu wujudnya bagaimana dan apa pun ia tidak tahu?
"Hm, separuh iblis? Sedikit lagi, Bung. Hampir tepat, tapi tidak separah itu. Jadi, Bung Dante itu malaikat, ya memang malaikat sih, tapi dia dipungut dari fase wildcard. Begini, sebetulnya karena dosa-dosanya ia dalam tahap menuju ke neraka, lalu Malaikat Penjemput Nyawa, bosnya itu, melihat potensi terpendamnya, akhirnya ia diangkat menjadi asisten, padahal ia tidak memenuhi kualifikasi kerja, sebetulnya."
Sebelum Elan memutuskan mau mencerna keterangan Nuka, ia menelaah paras lugu teman bicaranya, lalu menyelidik hati-hati. "Kok kamu bisa tahu semua dan kapan Dante bicara sama kamu? Masalahnya tadi dia sama-sama aku di tempat yang mirip bioskop tempat kerjamu, lalu dia dipukuli sama bosnya karena sewenang-wenang."
"Aku jujur saja ya, Bung. Dante itu teman khayalan aku. Dia temanku dalam kegelapan di bioskop, dan sebenarnya aku gak mengkhayalkan dia selama ini. Dia itu arwah penasaran yang bunuh diri karena utang-utangnya untuk menipu orang lain. Jadi intinya, dia itu penipu ulung yang modal dengkul, dan dari utang-utangnya dia bisa bikin bisnis macam-macam buat nipu orang, gitu."
"Dia bunuh diri di bioskop, makanya dia sampai gentayangan di sana?" Elan bertanya, meski tidak merasa pertanyaannya relevan ataupun penting.
"Bukan di bioskopnya, tapi di losmen, jaraknya sepuluh meter dari bioskop. Tapi katanya bioskop lebih nyaman buat tempat nongkrongnya, begitu."
"Kok sekarang dia bisa ada di sini?" Elan memburu lagi penasaran.
"Baru sepuluh bulan lalu ia bertugas di sini. Di sini namanya Stasiun Sementara, Bung. Kota Tempat Tak Ada Tujuannya itu mengumpulkan arwah-arwah yang bakal disortir lagi, mana yang layak ke surga, mana yang layak ke neraka. Seharusnya bunuh diri itu dosa tak termaafkan. Dante harusnya masuk ke neraka, tapi dia diselamatkan bosnya lewat wildcard."
"Jadi biarpun sudah jadi asisten malaikat, dia tetap suka nongkrong di bumi, seperti itu?"
"Itu karena tuntutan tugasnya, Bung. Dia harus mencatat dan melaporkan orang-orang yang mautnya sudah dekat, makanya dia tetap menyambangi bumi. Ingatan kita dihapuskan sebagian kata Dante. Bung ingat gak, sebelum ketemu stasiun yang sebelumnya, kita telepon-telepon dulu pake telepon umum?" Nuka memperagakan isyarat menelepon dengan jempol dan kelingkingnya, namun telunjuknya melebar sedikit, seperti simbol ILY, I Love You yang diperagakan ibu jari, telunjuk, dan kelingking yang teracung.
"Ah, jadi telepon itu benar bisa jadi alat hipnotis, ya? Astaga, jadi ingatan kita dimodifikasi karena telepon aneh itu, jadinya?"
"Intinya aku lupa teman khayalanku itu Dante, aku juga lupa sama Bung Elan. Sekarang aku sedikit ingat, tapi masih lebih banyak lupanya. Dante itu sebetulnya nama Bung Elan. Elan Adante. Aku lebih suka menyapa Bung sebagai Dante, dan Bung bilang nama Dante juga tak jelek. Nama Dante yang malaikat wildcard itu adalah ..."
"Kamu Yang Tak Dinamai. Itu nama yang disebut atasannya. Ya, benar, Dante itu sebenarnya namaku sendiri, kan? Aku sendiri melupakan kamu, Nuka, tapi sekarang aku sudah ingat sedikit."
"Teman khayalanmu itu siapa, Bung?" Nuka membelalak berapi-api, parasnya yang serba mungil mengingatkan pada boneka anak-anakan, dengan mata lebar belok (melotot) dan bibirnya sebaliknya terlampau mungil untuk wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Like You Do
RomanceElan Adante bersua Nuka Tumiwa di atas kereta api yang rutenya tidak normal, Dari Jalan Panjang Menuju Tempat Tak Ada Tujuannya. Merasa cocok sejak pandangan pertama, keduanya mengobrolkan semua hal tanpa menyadari, kereta api itu tidak ada penumpan...
