Elan dan Nuka (11)

32 5 0
                                        

Elan nyaris tak mengambil napas, oleh karena menahan sesuatu dalam dirinya. Keanehan dalam kereta sudah menyesakkan, bukan karena kereta tersebut tanpa stasiun tujuan, bukan karena tanpa penumpang lainnya, bukan pula karena seorang Dante mengetahui rahasia-rahasia tak kelihatan dalam hati Elan. Bukan. Pasalnya Elan sudah siap menerima itu semua, tanpa perkecualian satu pun. Terutama Nuka Tumiwa yang dijadikan alasan paling utamanya. Namun, semakin lama ia merasakan, nyata ada koneksi menyedihkan antara dirinya dan si perempuan asing, seutas dawai tembus pandang yang akhirnya kentara, namun mustahil mampu didapatkan ujung pangkalnya.

Mungkin ia tercekik, mungkin justru cekikan berasal dari lehernya sendiri yang mengetat. Ada perasaan aneh, seperti terkancing, setiap kali ia menatap Nuka Tumiwa yang santai, cuek bebek dalam situasi tak wajar ini.

Sesudah Dante menyinggung dadar gulung, Nuka memang kelihatan sedikit tercenung. Namun, keceriaan yang diperlihatkannya menonjol. Ada ketulusan tak dibuat-buat dalam lirikan matanya. Kata-katanya mengalir cepat, seakan tanpa perlu dipikirkan masak-masak. Sungguh menghibur sekaligus menohok di hati Elan yang tak mengerti kenapa ia merasa begitu.

"Ya, ya, benar Bung Dante. Dulunya bioskop punya bos saya pakai array speaker, yang ditanam di langit-langit gedung. Lalu speaker rusak dan tukang yang baru bekerja ternyata takut ketinggian. Makanya bos saya yang pelit beralih ke speaker subwoofer, kebetulan dia dapat yang bekas meski suaranya sember. Hahaha, maklum si tukang itu masih sepupuan dengan istrinya, tak mungkin lah sampai dipecat, kan?"

Nuka menyambung cerita Dante yang temanya ceritakan kejelekan bosmu yang mengesalkan tetapi kocak. Lalu bagaimana dengan bos Elan yang kaku dan tanpa kompromi itu, adakah sisi jenaka dari sang atasan yang tak pernah tak kelihatan tak cemberut? Elan memilih diam untuk menyusun cerita dalam kepalanya. Sang bos punya nama keren, herannya Dante tidak amnesia untuk nama yang satu ini, Mike Robin namanya, namun bawahan-bawahan menyapanya Bapak Tiga Tak.

Mesin sepeda motor mengenal istilah "tak". Tidak ada tiga tak, yang ada dua tak dan empat tak. Keduanya adalah jenis dari mesin pembakaran dalam, artinya untuk menghasilkan satu daya, perlu dua dan empat kali gerakan piston atau disebut langkah. Dalam mesin sepeda motor, tak ini bukan berarti tidak, tetapi diserap dari bahasa Belanda "takt", yang artinya langkah atau stroke. Nah, kebetulan, temperamen bos Elan menganut Tiga Tak yang tidak ada tandingannya di dunia.

Tak pernah tak kelihatan tak cemberut. Itu contoh yang paling gampang. Tak pernah tak menuntut karyawan agar tak cuti lama-lama, contoh satunya lagi yang lumayan semena-mena. Tak pernah tak lupa membayarkan lembur yang tak usai-usai. Nah, ini contoh lainnya lagi yang tak kunjung terlaksana. Pasalnya, amplop gaji Elan terasa tak ada bedanya, baik ia lembur ataupun tidak, karena bosnya gandrung berpura-pura lupa dan baru memberikan remunerasi atau bonus kecil bila karyawannya mengajukan protes.

Herannya, meski Dante tahu Elan absen menyambung cerita, ia tak bereaksi apa-apa, dan lebih mengejutkan lagi ia menanyakan, apakah motor yang dikendarai si pria bermesin dua tak ataukah empat tak? Bukan main, pikir Elan dengan masygul. Bagaimana Dante bisa menebak, ia sedang memikirkan Pak Bos Tiga Taknya dan segala kekikirannya? Cuma kebetulan saja, mungkin?

"Kendaraanku mobil jenis sedan. Sudah usang, tapi mesinnya bandel dan awet tanpa perawatan macam-macam. Dulu yang punya motor kakakku. Cuma aku lupa mesinnya dua tak atau empat tak. Aku tak pernah bawa motor, masalahnya." Elan menanggapi pertanyaan Dante, yang baginya bukan bagian dari game sambung cerita, dan lebih menyerupai tanya jawab kurang mengenakkan.

"Tapi Tuan Elan sebetulnya menyukai bunyi motor, kan? Tiap pagi dan tiap menjelang malam, itu bunyi yang Anda tunggu-tunggu, bukan?"

Kurang ajar sekali. Bukan main akuratnya si tersangka alien ini menebak jalan hidupnya. Memang benar ia selalu mendamba-dambakan suara motor menepi di muka pagarnya, membawakan sesuatu yang merupakan bentuk perhatian dari perempuan tercintanya. Sayangnya, tidak tiap kali penantiannya berbuah hasil positif. Lebih sering ia dikecewakan motor tetangganya yang batuk-batuk cempreng dan klaksonnya kedengarannya fals salah nada. Dikiranya motor yang ditunggunya sudah datang. Ah, nyatanya ia salah kira dan kecewa akhirnya.

Love Like You DoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang