"Nuka? Kamu juga ada di sini? Sedang ... apa?"
Titik terang menyorot Elan telak, pencerahan bahwa Nuka bukan orang lain baginya, dan mereka dipertemukan untuk suatu urusan yang tak terselesaikan, dari kehidupan lama yang mereka tinggalkan, semenjak tiket putih mempertemukan mereka dalam perjalanan ganjil yang tiada habisnya untuk dikupas. Melalui permainan-permainan Dante si alien, bisa ditarik ulur segaris benang merah, intinya Nuka pernah menjadi bagian hidupnya, namun Elan lupa sama sekali soal gadis itu.
"Aku ... ada janji dengan seseorang. Katanya ini kencan kami yang terakhir ... kali." Nuka mengikat kembali kuncir kudanya, gerakannya sungguh dejavu di mata Elan, menimbulkan sayat luka di kalbu si pria yang termangu.
"Siapa orang itu, kira-kira?" Elan bertanya dan mengerjapkan mata. Air matanya urung menetes dan tertahan pada bingkai matanya.
"Jujur saja, aku tidak ingat, Bung. Tapi katanya, kata teman saya, kencan ini seperti penutup luka. Istilah bahasa Inggrisnya ... anu ..."
"A Band-Aid on the cut?" Elan menuturkan istilah gaul Inggris-Amerika yang menyinggung merek plester luka yang populer di Negeri Paman Sam.
"Ya, ya, itu dia. Bung kok tahu istilah yang tepat? Teman saya omongnya kayak gitu juga."
"Soalnya dulu aku pakai ungkapan itu ke seseorang. Sayang aku lupa siapa orangnya." Elan menengadah, menipiskan bibirnya dengan tekad menahan air matanya yang dapat luluh setiap saat. Air mata ini untuk siapa, kira-kira?
Elan dan Nuka berpandangan, dalam suatu kesadaran baru. Kesamaan janggal bahwa mereka sama-sama melupakan seseorang dalam hidup. Ada luka menyertai kesadaran itu. Sepertinya terjadi perpisahan antara Elan dan seseorang itu, dan Nuka juga sama, merasakan sakit yang mendalam atas perpisahan dengan teman dekatnya. Mengapa ingatan luka itu dihilangkan sama sekali dari pikiran mereka? Siapa pelakunya dan motif perbuatannya apa, itu enigma paling mengerikan meskipun tersangka utamanya sudah ketemu. Apakah okumnya betul Dante, alien yang mengatur pertemuan Elan dan Nuka empat mata?
Bukankah sejak bersua di stasiun kereta api, Elan dan Nuka seperti berduaan saja? Dante dan kondektur kereta - yang keduanya bak pinang dibelah dua - cuma pendamping atau fasilitator atau mungkin moderator yang mengarahkan alur perjumpaan mereka. Penumpang kereta lainnya, yang kadang terlihat kadang menghilang, cuma figuran atau cameo numpang lewat, mungkin sekadar background yang mengayakan adegan pertemuan dua tokoh penting. Intinya ini tentang Elan dan Nuka belaka.
"Bung Elan, Bung ke taman hiburan apakah ada janji juga dengan teman?"
"Sayangnya, aku tidak ingat apa-apa. Entah begitu atau bukan." Elan tanpa sadar menghindari mata Nuka yang menghakiminya. Mungkin sekali, kecurigaan mereka serupa adanya. Elan dan Nuka saling mengenal dekat di masa lalu masing-masing?
"Nuka, kamu suka merry-go-round? Komidi putar yang ada kuda-kudaan dan kereta-keretaannya. Kira-kira taman hiburan ini riil, kan?"
"Beneran, Bung. Tong sampah itu contohnya. Tadi bisa aku sentuh, kok. Bukan augmented reality ini. Betulan memang ada, cuma gak ada pengunjungnya kecuali kita."
"Tadi kamu buang sampah, ya?" Elan bertanya sambil lalu.
"Iya, aku buang plester luka punyaku. Lukanya sudah kering, kayaknya." Nuka menunjuk sikunya yang dihiasi keropeng luka, nampaknya luka kecil itu sudah menutup.
Plester penutup luka bermerek Band-Aid ditemukan di Amerika Serikat, tepatnya di Highland Park, New Jersey, pada tahun 1920 oleh Earle Dickson untuk mengobati Josephine, istrinya yang sering terluka saat memasak. Sebagai karyawan perusahaan Johnson & Johnson, ide briliannya diteruskan pada sang atasan dan produk anyar itu dinamai Band-Aid dan resmi diluncurkan ke pasar. Sampai-sampai segala jenis plester luka dinamakan Band-Aid, yang dijadikan nama generik baik di Amerika, Kanada, Australia, Filipina dan negara-negara berbahasa Inggris lainnya. Dulu, di Indonesia semua plester disebut sebagai handyplast, yang sebetulnya merupakan nama merek dagang yang akhirnya digantikan nama baru yang nyaris serupa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Like You Do
RomanceElan Adante bersua Nuka Tumiwa di atas kereta api yang rutenya tidak normal, Dari Jalan Panjang Menuju Tempat Tak Ada Tujuannya. Merasa cocok sejak pandangan pertama, keduanya mengobrolkan semua hal tanpa menyadari, kereta api itu tidak ada penumpan...
