Butterfly Knot (23)

23 6 0
                                        

Majelis Takdir adalah sidang penentuan hidup dan mati, yang mau tak mau melibatkan Elan dan Nuka, yang selama ini mati-matian mematuhi hukum, dan tak mau dilibatkan pengadilan apa pun karena merepotkan dan penuh drama yang berliku-liku. Sudah menguras waktu, tenaga, dan masih butuh biaya besar bila menyewa pengacara kondang. Menyapa sang hakim sebagai Yang Mulia, misalnya, dirasakan Elan dan Nuka sebagai arogansi sistem hukum manusia, meskipun sapaan itu semata formalitas sebagai penghormatan bagi pengadilan yang dipersidangkan.

Ruangan sidang yang dihubungkan pintu gaib mirip dengan ruang kelas biasa-biasa saja. Padahal Nuka sudah mengantisipasi balairung besar atau auditorium megah, bahkan mungkin menyerupai stadion olahraga raksasa. Nyatanya Majelis Takdir tampak sederhana saja, dengan meja besar di muka ruangan, mirip meja guru di kelas, dan lima lajur meja kursi dengan lima barisan, yang berarti ada 25 tempat duduk yang tersedia.

"Kami boleh duduk di mana saja, tidak?" Nuka berpaling pada Dante yang mengangguk khidmat. Sikap formalnya menularkan ketegangan meski ruangan berukuran sedang ini masih tak terlihat dewan persidangannya.

"Ini seperti ruangan kelas atau ruang ujian, ya?" Elan menebar pandang, sorotnya sama penasarannya dengan mata Nuka yang bertanya-tanya.

"Ya, yang kumaksud her atau herexamen ya seperti ini modelnya." Dante terkekeh puas.

Meja dan kursi seluruhnya kayu yang dipelitur halus. Setiap set meja dan kursi dirancang menyatu, dan hanya bisa diduduki satu orang saja. Maka tak ada istilah satu meja untuk berdua, mungkin agar tak ada kemungkinan saling mencontek jawaban. Tunggu dulu, pikir Nuka, ini sidang banding, kan, bukan ujian penentu kelulusan sekolah, yang dulu dijalaninya dengan perut mulas-mulas lantaran tegang bercampur aduk emosional.

"Silakan duduk dan jangan tegang-tegang. Aku ini saksi ahli yang meringankan, kok. Kalian cukup menjawab yang jujur saja nanti." Dante dengan kejailannya menepak pundak kedua orang tersidang, Elan dan Nuka yang masih gagal paham apakah Dante dalam kapasitas sebagai pengacara mereka ataukah bukan.

Nuka dan Elan pernah menonton sidang melalui televisi dan setahu mereka majelis sidang itu begitu rumit. Tahap-tahap dan tata cara sidang perkara di pengadilan manusia tidak sembarang dan punya protokolernya sendiri. Setahu Nuka, yang pertama memasuki ruang sidang yakni panitera pengganti, jaksa penuntut umum, penasehat hukum, dan pengunjung sidang. Lantas pejabat protokoler - atau bisa digantikan oleh panitera pengganti - mengumumkan bahwa majelis hakim akan memasuki ruang sidang dan hadirin dimohon untuk berdiri. Kira-kira begitulah gambarannya.

Kenyataannya, sidang Majelis Takdir di alam baka justru sangat kasual, karena sang hakim masuk begitu saja, tanpa banyak upacara, bahkan tidak disadari Elan dan Nuka yang sibuk menyoroti dinding "kelas" yang catnya serupa betul kamuflase bunglon. Setidaknya warna dinding berganti empat kali semenjak Elan dan Nuka masuk dan duduk di deret terdepan bersebelah-sebelahan. Putih warna yang standar, lalu rosy cream atau krem merah muda, menyusul abu-abu gelap, dan akhirnya tercipta biru muda yang serasi dengan marmer lantai putih meta.

Atasan Dante yang katanya dan konon Malaikat Penjemput Nyawa, masuk setelah sang hakim mengambil tempat di "meja guru". Ia cuma mengangguk pada sang hakim yang bahkan tak menoleh dari kesibukan menumpuk berkas di meja. Sang hakim berjubah panjang berikut tudung kepala, busananya putih tua dan parasnya tak kelihatan karena pencahayaan di mejanya yang menyilaukan. Entah dari mana datangnya dokumen-dokumen setumpuk itu, karena sang hakim tidak terlihat menenteng tas kerja dan lagipula mejanya tidak memiliki laci dan tak ada lemari arsip dalam ruangan tersebut.

Baik Dante maupun atasannya berdiri di muka "kelas", persis dua siswa yang disetrap karena kelalaiannya. Nuka merasakan denyut jantungnya yang hanya satu dua dan ia jadi bertanya-tanya, Elan apakah juga mengalami kondisi yang serupa dengannya? Jelas ia tak berani berpaling, apalagi berbincang-bincang dengan teman seperjalanannya, karena bagaimanapun, sidang Majelis Takdir yang berwibawa sedang dalam persiapan untuk dimulai secepatnya.

Love Like You DoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang