Seakan Nuka dan Elan serempak memejamkan mata, hingga mereka berselimut kegelapan total, meskipun benda ganjil di kejauhan "memanggil" mereka. Elan yang pertama kali tersadar, ah rupanya itu pesawat telepon umum, namun berbeda dari yang dijumpainya di seberang Jalan Tamblong. Entah kenapa bentuk telepon ini menyerupai lootbox mini atau replika mesin gacha tanpa boneka-boneka di dalamnya. Benar, pesawat telepon yang wujudnya semi transparan, dan untungnya tidak memerlukan uang logam, kartu telepon maupun alat pembayaran manual lainnya.
"Halo?" Elan menjawab deringan yang pastinya ditujukan khusus buatnya. Entah kenapa ia begitu yakin dengan telinganya.
"Dante? Ini Dante, kan?" Suara merdu seorang perempuan menjawabnya.
Sorry, salah sambung kayaknya. Hampir Elan mencetus begitu. Namun, tunggu, selagi ingatannya kembali, ia mengingat sosok Nuka Tumiwa, dan bukankah Nuka satu-satunya yang menyapanya Dante di dunia? Elan Adante, Dante dipenggal dari nama belakangnya, karena nama itu dinilai Nuka lebih sesuai untuknya. Baiklah, ia Dante untuk Nuka-nya. Maka, Elan menggenggam gagang teleponnya makin mantap.
"Iya, Nuka. Aku Dante. Kamu masih ingat bagaimana kita bertemu pertama kali?"
Masihkah kau ingat waktu di desa
Bercanda bersama di samping gereja
Kala itu kita masih remaja
Yang polos hatinya bercerita
Waktu kini t'lah lama berlalu
Sudah sepuluh tahun tak bertemu
Entah dimana kini kau berada
Tak tahu dimana rumahnya
Hanya satu yang tak terlupakan
Kala senja di gereja tua
Waktu itu hujan rintik-rintik
Kita berteduh di bawah atapnya
Kita berdiri begitu rapat
Hingga suasana begitu hangat
Tanganmu ku pegang erat-erat
Kenangan itu selalu ku ingat
Waktu kini tlah lama berlalu
Sudah sepuluh tahun tak bertemu
Entah dimana kini kau berada
Tak tahu dimana rumahnya
Hanya satu yang tak terlupakan
Kala senja di gereja tua
Waktu itu hujan rintik-rintik
Kita berteduh di bawah atapnya
Meskipun kini kau telah berdua
Itu bukanlah kesalahanmu
Ku hanya ingin dapat bertemu
Bila bertemu puaslah hatiku
Bila bertemu puaslah hatiku
Lagu mereka - yang mungkin relate tapi mungkin tak relevan dengan cinta Elan dan Nuka - berkumandang. Asalnya tidak jelas, karena di atap bilik telepon umum ada semacam corong, dugaan Elan semacam speaker mini dari alam bukan dunia manusia. Intinya ini lirik lagu Gereja Tua karya Benny Panjaitan, dan siaran lagu terdengar oleh Nuka di ujung telepon, karena si perempuan bersenandung seirama dengan refrain syair lagu.
"Gereja tua. Sebetulnya gereja kita dulu tidak tua, bangunannya kesannya tua, tapi kita ketemu pertama kalinya di sana, di bangku gereja paling belakang. Benar, tidak?"
Usia dua puluh tahun, masing-masing baik Elan maupun Nuka baru lepas dari usia remaja. Kala itu kita masih remaja, yang polos hatinya bercerita. Mereka pertama kalinya bertemu muka di usia tanggung, berteman biasa saja meski intensitas perjumpaan lumayan intens sesudah tak beribadat lagi di gereja. Elan masih kuliah, Nuka sudah bekerja di bioskop, dan mereka sering bercengkerama di muka teater satu, di sela-sela waktu bekerja Nuka, kadangkala Elan mau masuk ke teater saat pertengahan film diputar, tapi lebih sering ia mengajak Nuka mengadu gacha di kios minuman samping bioskop. Nuka biasanya enggan mengiyakan ajakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Like You Do
RomanceElan Adante bersua Nuka Tumiwa di atas kereta api yang rutenya tidak normal, Dari Jalan Panjang Menuju Tempat Tak Ada Tujuannya. Merasa cocok sejak pandangan pertama, keduanya mengobrolkan semua hal tanpa menyadari, kereta api itu tidak ada penumpan...
