Selanjutnya Elan dan Nuka tutup sebelah mata, mengabaikan dengan kesal dan terpaksa, sementara sikap Dante makin semena-mena dan mau menang sendiri. Mula-mula ia mengangkat kakinya ke atas meja, hanya tungkai sebelah kanan tanpa sepatunya yang berkelir oranye terang. Belum merasa cukup, sepatu berwarna neon berpijar itu terpajang di atas meja bundar, tak mempertimbangkan kejijikan Elan yang tepat di seberang seat 2-2 yang ditempati Dante. Selanjutnya Nuka yang menjadi korbannya.
Puas mengerjai Elan yang mengernyit hidung, Dante sengaja menyikut Nuka hingga si perempuan merapat ke jendela kereta, juga mengernyit hidung karena aroma pabrikan di jaket parka Dante lebih kentara sekarang. Bahkan Dante mencoba menaikkan kaki kanannya ke atas seat, namun merasa tak nyaman, menyelamatkan Nuka yang mabuk oleh kaus kaki si pria yang tajam aroma pabriknya. Lebih-lebih tidak ada ruang cukup buat Nuka untuk menggeser duduk. Ironisnya, Dante tak kunjung bicara lagi.
Sebelumnya, Elan dan Nuka merasa bicaranya Dante lumayan cukup menyebalkan. Namun, akan lebih menyebalkan bila si pria tidak bicara dan menjadi usil. Harap-harap cemas, Elan maupun Nuka kompak mengerling ke bibir Dante, yang cuma bersiul-siul jail penuh kemenangan. Agaknya pria tersangka alien ini puas sekali menggelisahkan kedua teman seperjalanannya.
"Ehm. Ehm." Nuka mendeham dibuat-buat, berupaya mencuil sedikit perhatian dari Dante.
"Uhuhuhuk. Uhuk." Elan batuk-batuk kambing, sama dibuat-buatnya, demi mencuri perhatian Dante.
"Bagaimana permainan tetris Nona Nuka?" Akhirnya kata-kata yang ditunggu itu keluar juga dari cengiran mulut Dante.
"Hah? Ya ampun, aku lupa pause dulu gimbotnya, eh bukan, maksudnya game di ponselnya lupa di-pause!" Nuka sampai alpa pada ponsel tipis lawas di pangkuannya, gara-gara sikutan Danke yang bertubi-tubi diterimanya.
"Lho? Aku kira sudah game over, ternyata permainannya bisa pause sendiri, ya. Kok bisa otomatis gitu?" Nuka memekik oleh keheranan tak dinyana.
Pasalnya ponsel tua itu belum screen off atau dalam keadaan sleep. Layarnya masih menyala sedari tadi dan ajaibnya game tetris di ponsel dalam keadaan pause atau rehat sejenak, tanpa campur tangan Nuka yang bahkan tak ketemu tombol pause seperti gimbot kumal punya bapaknya dulu. Permainan ini makin meneror buat Nuka, dan kengerian menular pada Elan, agaknya.
"Betul sudah pause? Ya, memang aku yang mengatur begitu. Baguslah sudah pause, yang artinya keadaan sudah terkendali sekarang. Bermain pun ada batasannya, kan?" Dante si seribu wajah kini mengubah cengirannya jadi ramah tamah.
Ponsel bergame tetris mendadak tak berfungsi lagi. Tombol apa pun yang ditekan tak memberi reaksi apa-apa, seakan sistem ponsel hang atau istilahnya freeze ataupun membeku. Nuka menyerah atas usahanya mengaktifkan ponsel, pastilah ia berkeringat dingin oleh debur di hati yang memburu. Tunggu, tunggu dulu. Sepertinya ia tak merasakan detak jantungnya sendiri dan tidak merasa berkeringat meskipun ia seharusnya berpeluh deras saat ini. Bagaimana mungkin?
Pasti pendingin udara di kereta ini terlalu maksimal, makanya aku kedinginan, ya. Dingin artinya tidak berkeringat, tapi kok ...
Sambil membatin, Nuka menyadari sejumlah keganjilan. Tersadarlah ia, tidak merasa kedinginan meski busananya cuma oblong agak tipis. Antisipasi untuk tempat kerjanya yang air conditioner-nya sudah out of date, Nuka selalu berbusana simpel agar tak kepanasan terpanggang di muka teater kumal, duduk di bangku bakso tua yang panas bila diduduki berlama-lama. Seharusnya bila pendingin di kereta maksimal menyalanya, ia dipastikan sudah sangat menggigil sedari awal.
Lagipula, kabarnya, suhu dingin tak menutup kemungkinan menyebabkan orang berkeringat dingin. Tak berkeringat, tak berdenyut jantung, tak kedinginan, tak haus dan lapar, juga tak ingin pergi ke toilet. Fenomena berada di angkasa luar, mungkin begitu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Like You Do
RomanceElan Adante bersua Nuka Tumiwa di atas kereta api yang rutenya tidak normal, Dari Jalan Panjang Menuju Tempat Tak Ada Tujuannya. Merasa cocok sejak pandangan pertama, keduanya mengobrolkan semua hal tanpa menyadari, kereta api itu tidak ada penumpan...
