Happy Reading
"Bagi anak broken home, ayah bukan lagi cinta pertamanya. Melainkan patah hati terhebatnya."
__________________________________
Saat membuka mata yang pertama dilihatnya hanya lantai. Qila melirik jam di atas nakas menunjukkan pukul 08.30 beruntungnya hari ini adalah hari Minggu. Seluruh badan terasa sakit bahkan tangan kirinya kebas karena menumpu kepala semalaman. Ia menyentuh ujung pelipisnya yang berdenyut, tampaknya bercak darah semalam telah mengering. Qila tertidur setelah pertengkaran hebat orang tuanya semalam. Tidak, lebih tepatnya ia tertidur setelah menelan dua butir pil penenang.
Qila membenamkan diri di buthtub berisi air hangat beraromakan lavender, pikirnya itu mampu merontokkan sesak di dadanya barang sedikit saja. Terurai bersama bulir busa, dan kembali hangatkan hati. Nyatanya tidak sama sekali. Ia kembali menangis, teriakan Abraham seperti menggema di telinganya. Meski hal itu bukan pertama kali, namun sakitnya tetap tak terhenti.
Selesai dengan mandinya Qila berniat turun untuk sarapan, namun..
"Merasa sudah mampu kamu, hah?! Jangan macam-macam kamu Val, berhenti berontak atau kamu dan anakmu akan merasakan neraka dunia!" tunjuk Abraham ke Valleri dan Qila yang menghentikan langkahnya diujung anak tangga.
Kesialannya di pagi hari adalah merasa lapar hingga mengharuskannya turun dan kembali ke tengah pertengkaran mereka.
"Kenapa?" Valleri tersenyum sinis. "Kenapa kalo aku macem-macem? Takut reputasimu tercoreng? Gimana kalo seandainya media tau ini?"
"Seyakin apa kamu mampu melawan saya?" Kini Abraham mencengkram rahang Valleri. "Kesalahanmu kelewat besar dari apa yang saya lakukan, kalau kamu lupa!" Kini suara Abraham naik satu oktaf. Lelaki itu menghempaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Maka dari itu cepat tanda tangani surat perceraian kita! Aku nggak punya kesabaran lagi untuk ngeliat kamu terus khianatin aku!" teriak Valleri frustasi.
Abraham dibuat geram dan kembali melayangkan pukulan. Lagi-lagi Qila berusaha melindungi Mamanya. Pukulan Abraham mendarat di wajah anaknya dan berhasil merobek sedikit ujung bibir Qila.
"Bodoh!! Ngapain kamu di situ? Naik ke kamar Qila!" titah Valleri membentak.
"Tapi Ma—" Belum sempat Qila melanjutkan kalimatnya, Abraham lebih dulu menarik tubuhnya dan mengunci pergerakan Qila dengan satu tangan. Sementara satunya meraih pisau di meja makan.
"Cepat tanda tangan surat perjanjian itu!" pekiknya memerintah.
Alih-alih menyetujui permintaan cerai Valleri Abraham malah mengajukan surat perjanjian, yang mana isi di dalamnya, Valleri harus merelakan 70% sahamnya di perusahaan yang ia rintis dari bawah sampai berkembang pesat seperti sekarang.
Pengecut licik!
"Jangan gila kamu Mas, dia anak kamu juga!"
"Dia bukan anak saya kalo kamu lupa! Dia cuma pembawa sial di keluarga saya!"
Pisau yang menyentuh kulit leher Qila perlahan mulai menimbulkan rasa perih. Namun, perkataan Papanya terasa jauh lebih perih. Air matanya tak terbendung lagi, jatuh bersama kenyataan pahit.
"Maa, sebenarnya siapa Papa aku kalau bukan Papa Abraham? Seorang Papa nggak mungkin bunuh anaknya 'kan?" tanyanya pelan. Valleri bungkam dengan derai air mata yang tak mampu ia sembunyikan.
"Pa.. sebenci itu kah Papa sama Qila? Sebesar apa kesalahan yang Qila perbuat, Pa? Sampai Qila harus terus Nerima kepahitan ini?"
Gadis itu menunduk membiarkan pisau yang ditodongkan Abraham semakin melukai lehernya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALTAQILA [END]
Ficção Adolescente⚠️HARAP FOLLOW DULU SEBELUM BACA! #BELUM REVISI "Bahkan aku sudah jatuh terperangkap di labirin hatimu. Menolak beranjak, memilih menetap."-Alta "Gak ada yang boleh ambil senyum kamu, atau dia akan celaka di tangan aku," ujarnya menegaskan bahwa tid...
![ALTAQILA [END]](https://img.wattpad.com/cover/320712989-64-k696210.jpg)