[xxiii] Pertemuan Pertama

16 2 4
                                        


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Pagi itu Batavia sedang ramai oleh hiruk-pikuk pasar yang tidak pernah benar-benar tidur. Kereta kuda berlalu-lalang di jalan berbatu, para pedagang meneriakkan dagangan mereka dengan suara lantang, sementara aroma rempah-rempah, ikan segar, dan bunga melati yang dijual perempuan-perempuan pribumi bercampur menjadi satu di udara yang hangat.

Di tengah keramaian itu, Amélie de Groot berjalan sambil menggenggam tangan Rumi.

Gadis kecil berusia empat tahun itu mengenakan gaun putih sederhana dengan pita biru muda di pinggangnya. Topi jerami kecil bertengger di atas rambut pirangnya yang dikepang rapi. Sepanjang perjalanan, matanya tak berhenti bergerak ke sana kemari, memandangi segala sesuatu dengan rasa ingin tahu yang nyaris tak pernah habis.

"Rumi, lihat burung itu!"

"Rumi, kenapa ikannya besar sekali?"

"Rumi, apakah kita boleh membeli bunga yang itu?"

Rumi hanya tersenyum sabar.

Sejak Amélie lahir, perempuan itulah yang hampir setiap hari menemani tumbuh kembangnya. Ia tahu betul bagaimana gadis kecil itu memandang dunia. Segala sesuatu tampak indah di mata Amélie. Segala sesuatu tampak menarik untuk dipelajari.

"Nona kecil jangan terlalu jauh dari Rumi," katanya lembut.

Amélie mengangguk patuh.

Meski beberapa langkah kemudian ia kembali sibuk memperhatikan seorang penjual mainan kayu di sisi jalan.

Rumi sedang memilih beberapa sayuran ketika tanpa sengaja Amélie melepaskan tangannya dan melangkah beberapa meter menjauh. Perhatian gadis kecil itu tertarik oleh seekor anak kucing yang sedang bersembunyi di bawah gerobak.

Ia tersenyum lebar.

Anak kucing itu begitu lucu.

Dengan langkah kecilnya, Amélie berjalan mendekat. Dan tepat saat ia menoleh kembali ke arah jalan—

brukk.

Tubuh mungilnya menabrak seseorang. Benturan itu tidak keras, tetapi cukup membuatnya kehilangan keseimbangan. Topi jeraminya jatuh ke tanah dan tubuhnya terduduk pelan di atas jalan berbatu.

"Aduh ..." Amélie mengusap dahinya.

Sebelum ia sempat mengambil topinya sendiri, sebuah tangan lebih dulu menjangkaunya. Tangan seorang pria.

"Apakah kau terluka, kleine dame?(nona kecil) tanya lelaki itu pelan. 

Amélie mendongak. Dan melihat seorang laki-laki berambut pirang berdiri di hadapannya. Usianya sama seperti papa. Namun wajahnya tampan dengan cara yang aneh. Senyumnya tampak ramah, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak mampu dijelaskan oleh seorang anak kecil.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 03 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Batavia dalam LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang