#pov Annisa dan Seokjin
"Sampai kapan kamu akan meminum pil penunda hamil itu sayang?" Tanya Seokjin begitu melihat Annisa masih saja meminum pil penunda hamil.
"Sampai aku benar benar siap lagi." Annisa kembali menyimpan gelas kosongnya diatas nakas setelah dia meminum pil tersebut.
"Tapi sampai kapan sayang? Sudah setahun sejak keguguranmu itu kamu selalu belum siap untuk memiliki anak lagi." Ucap Seokjin dengan lembut.
Annisa memilih menarik selimut dan berbaring disamping Seokjin.
"Kamu selalu saja seperti ini setiap kali membahas ini." Kesal Seokjin.
"Jin kau tahu kan saat aku begitu menginginkan seorang anak namun Tuhan malah ngambilnya secepat itu."
"Bagaimana sakitnya aku saat aku kehilangan bayiku disaat umur kandunganku sudah 7 bulan."
"Kamu tahu kan betapa aku kehilangannya." Annisa mulai berkaca kaca, matanya memerah menahan air mata agar tidak jatuh.
Satu tahun yang lalu Annisa sempat mengandung namun diusia 7 bulannya Annisa terjatuh dikamar mandi dan mengharuskan bayi itu dikeluarkan karena bayi didalam perut Annisa sangat lemah. Namun disaat bayi itu lahir siapa sangka bayi tersebut lahir dalam keadaan tidak bernyawa.
Saat itu Annisa begitu terpukul, dia benar benar menderita karena kehilangan bayinya kehilangan anaknya. Namun tidak hanya Annisa yang merasa kehilangan juga, Seokjin pun begitu namun seokjin berusaha untuk tegar dan kuat karena harus mencoba menguatkan Annisa. Jikalau Seokjin seperti Annisa lalu siapa yang akan menguatkan Annisa? Begitu pikirnya.
"Bukan cuma kamu yang merasa kehilangan, aku juga sangat kehilangan." Seokjin mencoba tenang agar tidak terbawa emosi.
"Sayang ku mohon." Pinta seokjin memohon.
"Aku sangat menginginkan Kim Junior."
"Kenapa kamu sangat tidak mengerti aku jin.?" Annisa mulai meneteskan airmata nya.
Seokjin pun menghela nafasnya. Dia kembali mengalah karena tidak ingin berdebat terlebih dia sangat tidak tega jika sudah melihat Annisa menangis.
"Baiklah aku mengerti, maafkan aku." Seokjin memeluk Annisa dengan erat.
Seokjin melonggarkan pelukannya.
"Tapi.. bolehkah aku memintanya malam ini.?" Ucap Seokjin.
"Selalu saja akhirnya meminta jatah." Annisa mengadahkan kepalanya menatap jengkel Seokjin.
"Sayang ayolah, sudah seminggu kita tidak melakukannya." Rengek seokjin dengan aegoy nya.
"Kita tidak melakukannya karena aku sedang datang bulankan."
"Itu sebabnya, sekarang aku memintanya karena masa datang bulanmu sudah habis." Ucapnya percaya diri.
"Hmm, bagaimana kamu tahu.?" Heran Annisa pasalnya dia benar benar mengetahui jadwal datang bulannya.
"Sayang kita menikah sudah hampir 4 tahun, bagaimana bisa kalau aku tidak tahu siklus datang bulanmu."
"Bahkan aku mencatatnya dikalender kecil milikku dimeja kerjaku." Ucap Seokjin cengengesan.
Annisa hanya tertawa, tahu betul bagaimana suaminya. Dia memang selalu mencatat hal sekecil itu itu dan tentu saja itu membuat Annisa senang. Annisa selalu bahagia dengan perlakuan Seokjin yang manis, perlakuan perlakuan sederhana seokjin selalu membuat Annisa semakin mencintainya.
"Sayang ayolah." Pinta seokjin kembali.
Tanpa berkata lagi Annisa menarik tengkuk leher Seokjin lalu mencium bibir seokjin. Tidak, Annisa melumatnya dan Seokjin membalas lumatan Annisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
ꜰ ᴀ ɪ ʟ ᴜ ʀ ᴇ
FanfictionPernikahan yang ku anggap baik baik saja, ternyata hancur dalam sekejap. Dan malam ini akhir dari pernikahanku. "sayang izinkan aku untuk menikah lagi." "mari kita bercerai saja."
