Johnny kembali masuk ke dalam kamar yang dia tempati dengan Dinda setelah tadi dia keluar untuk menjawab panggilan telepon penting yang memakan waktu cukup lama.
"Aa.... " Johnny memanggil Haechan yang sedang duduk di sofa panjang sambil memainkan game di ponselnya.
Mendengar suara Johnny yang memanggil namanya, Haechan menjeda permainannya di ponsel kemudian mendongakkan kepalanya.
"Iya Dad?"
"A... Sekarang Aa ke kamar Uncle Iwan dulu sebentar ya. Daddy mau bicara penting sama Bunda. Aa lanjut main game nya di kamar Uncle aja.." ucap Johnny setengah memerintah.
Haechan menuruti ucapan Johnny. Dia bangun dari sofa dan kemudian berjalan keluar dari kamar orang tuanya menuju kamar Iwan yang letaknya ada di depan kamar mereka. Johnny masih memastikan Haechan sudah masuk ke dalam kamar Iwan baru dia menutup pintu kamarnya.
Ganti Dinda yang menatap Johnny dengan raut wajah tak enak. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh suaminya sampai-sampai harus meminta sang putra supaya keluar dulu dari kamar sebelum dia memulai pembicaraannya.
"Bunda....." panggil Johnny lirih
Dinda menghembuskan napas dengan kasar. Dia melipat tangannya ke depan dada.
"Abang lagi dirawat di rumah sakit loh, Dad.... Masak kamu tetap lebih memilih untuk mengurusi pekerjaan kamu dibanding melihat kondisi Abang dulu?"
"Ada masalah yang cukup serius di perusahaan. Aku tahu ini terlalu mendadak tapi masalah ini cukup besar. Produk mesin terbaru hasil karya perusahaan kita tiba-tiba di-launching oleh perusahaan lain. Aku harus segera ke sana untuk membereskan masalah itu." jelas Johnny.
"Apa hal itu lebih penting dari kesehatan Abang?"
Johnny memegang kedua bahu Dinda.
"Kalian bertiga lebih penting dari apapun bagiku di dunia ini. Kamu tahu betul soal itu Bun.... Tapi kamu juga tahu kan, ada lebih dari tujuh puluh ribu karyawan yang nasibnya dan nasib keluarganya bergantung padaku.... Aku tidak bilang kalah mereka lebih penting dari Abang, dari kamu atau dari Aa. Tapi, Aku dan karyawan-karyawanku bekerja keras untuk proyek mesin tersebut. Kalau sampai mesin itu sampai di-launching oleh perusahaan lain, itu berarti ada yang membocorkan desainnya ke perusahaan kompetitor kita. Aku harus menyelidik hal itu sebelum kerugian yang dialami perusahaan semakin besar."
Johnny menurunkan kedua tangannya dari bahu Dinda kemudian mengurai lipatan tangan Dinda di depan dada istrinya itu. Johnny menggenggam erat kedua tangan Dinda dan menatap lurus ke wajah istrinya.
"Tolong bantu aku ya kali ini....Kita bagi tugas, heum?"
Dinda tidak menjawab. Ia memilih membuang muka supaya tidak luluh dengan tatapan Johnny.
Johnny menyentuh dagu Dinda agar menatap dirinya.
"Ya Bunda.... ? Please....."
"Kalau aku bilang enggak, kamu bakal tetap memililih untuk tinggal di sini kan?"
Kali ini Johnny yang tidak bisa menjawab. Membuat Dinda lantas melepaskan genggaman tangan Johnny dari dirinya.
"Kalau begitu, apapun pendapatku sama sekali tidak penting buatmu"
Dinda akan melangkah pergi namun Johnny lebih cepat menangkap kembali tangan Dinda. Memeluk wanita itu dari belakang.
"Tapi paling tidak, aku akan bekerja dengan perasaan yang lebih baik. Aku sangat membutuhkan hal itu sekarang. Karena sejujurnya, saat ini aku merasa takut tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik seperti biasanya. Jika proyek ini gagal, ada kemungkinan aku harus merumahkan beberapa ribu karyawanku untuk menutupi biaya produksinya...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bentala (Sudah Terbit)
FanfictionCerita tentang cita, cinta dan luka Beberapa part di unpublish untuk kepentingan penerbitan Highest rank : #1 in huanghendery (06112022) #1 in leehaechan (06112022) #1 in cita (06112022) #1 in johnnysuh (25112022) #4 in doyoung (1122022) #2 in doyou...
