"Phi Kong" ucap singto sembari mengetuk pintu kamarnya.
Sekarang bahkan sudah jam 8 pagi namun Kong belum bangun dari tidurnya.
Jay sudah menunggu mereka di ruang tamu untuk melakukan pemindahan hak ahli waris, menandatangani surat-surat penting.
Singto memberanikan diri membuka pintu kamar Kongpob, lalu tersentak kaget. Di atas tempat tidur, Kongpob tampak terengah dalam kungkungan Krist. Keduanya saling melumat penuh nafsu dengan genjotan yang kian intens di bawah sana. Pantas saja Kongpob tidak mendengar panggilannya sejak tadi.
Singto menutup pintu kamarnya perlahan kemudian berjalan kembali ke ruang tamu menghampiri Jay.
"Phi Kong sedang tidak bisa di ganggu," lirih Singto dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Baiklah, nanti malam aku akan ke sini lagi," ucap Jay sembari membereskan surat-surat pentingnya kemudian beranjak dari sana.
Hampir tiga puluh menit Singto terdiam di ruang tamu, memikirkan adegan di kamar Kongpob tadi. Hatinya terasa perih, perasaannya hancur. Cukup lama tenggelam dalam lamunan, ia akhirnya beranjak dan melangkah hampa menuju dapur. Di sana, tampak Krist yang bertelanjang dada sedang membuka kulkas.
"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Krist, saat menyadari kedatangan Singto.
"A-aku hanya ingin minum," jawab Singto seadanya.
Krist mengambil sebotol air dari dalam kulkas kemudian memberikan itu pada Singto.
"Apa kamu melihat sesuatu tadi?"
"A-apa?" tanya Singto gugup.
"Sesuatu? Di kamar Phi mu" ucap krist.
Krist memang sekilas melihat bayangan Singto tadi namun ia tak terlalu menghiraukan itu dan masih melanjutkan kegiatan mereka.
"...."
"Apa kamu menginginkannya?" tanya Krist sembari mendekat ke arah Singto.
Singto terus mundur hingga punggungnya menempel di dinding. Tanpa memberi ruang, Krist langsung mengukung tubuhnya.
Wajah Singto memerah ditatap sedemikian intens. Dalam diam, ia mengagumi setiap inci paras tampan Krist, lalu beralih meneliti tubuh indah di hadapannya.
Krist bisa melihat perbedaan jelas antara Kongpob dan Singto. Jika ditatap seintens ini, Kongpob pasti akan marah dan mendorongnya menjauh. Namun Singto? Wajah pria itu justru memerah menahan malu. Kongpob memang sedikit kasar, Krist sendiri heran bagaimana ia akhirnya bisa menaklukkan pria itu.
Selama satu tahun menjalin hubungan dengan Kongpob, Krist bisa membedakan sifat keduanya, Singto seorang pria yang pemalu, lemah lembut bahkan tak pernah berkata kasar, selalu menghormati para pelayan yang bekerja di mansion, berbeda jauh dengan Kongpob yang selalu menampilkan wajah datarnya, perilakunya sangat dingin, dia tak peduli pada pelayan tua atau muda itu semua sama di mata Kongpob dan jangan harap jika Kongpob akan bersikap lembut pada semua orang.
"P-Phi Krist," ucap Singto terkejut saat Krist mengusap pipinya. "N-nanti Phi Kong melihat kita," lirih Singto.
Lihat, Singto bahkan tak berani untuk menepis tangannya, jangankan menepis tangan Krist, untuk membunuh seekor semut saja Singto tak bisa.
"Baiklah, ayo pindah ke kamar mu," bisik Krist.
Krist menggendong tubuh Singto hingga membuat singto melepaskan botol yang di pegangnya dan reflek mengalungkan tangannya di leher Krist. Krist membawa Singto ke kamarnya dan merebahkan tubuh Singto dengan perlahan di atas kasur.
Wajah Singto makin memerah dalam kukungan Krist. Ibu jari Krist bergerak mengusap bibir merahnya, lalu perlahan mendekatkan wajah. Singto hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya terbuai saat lidah basah Krist mulai menyesap bibirnya.
Krist meraih kedua tangan Singto, menuntunnya hingga melingkar pasrah di lehernya. Singto hanya menurut, membiarkan tubuhnya dikendalikan tanpa memberikan penolakan sedikit pun.
"Balas ciuman ku," bisik Krist di depan bibir Singto.
"A-aku tak tahu harus melakukan apa, ini ciuman pertama ku," lirih Singto.
Krist tersenyum senang mendengarnya, sepertinya lebih seru mengajari pria polos melakukan seks daripada bermain dengan pria yang sudah sangat sering melakukan itu.
One night stand mungkin sudah menjadi hal biasa bagi Kongpob sebelum ia mengenal Krist, jadi wajar saja jika pria itu sangat hebat dalam melakukan seks.
Sedangkan Singto? Dia tak pernah melakukan hal seperti itu, dia bahkan belum pernah berpacaran sebelumnya dan sekarang malah melakukan itu dengan tunangan kakaknya sendiri.
Krist dengan sabar mengajari Singto berciuman, ia menjulurkan lidahnya dan memasukannya pada mulut Singto membuat Singto menghisap lidah Krist.
Krist menggesekkan milik mereka yang sama-sama sudah menegang di bawah sana hingga membuat Singto melenguh, bibir keduanya masih beradu dan nafas Singto mulai memburu.
Beberapa menit kemudian Krist menyudahi kegiatan mereka, banyak pancaran kesedihan yang terlihat dari mata Singto.
"Cukup untuk hari ini," bisik Krist sembari beranjak dari atas tubuh Singto kemudian keluar dari kamar pria itu berjalan menuju kamar Kongpob untuk melihat sang kekasih.
Kongpob baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang menutup bagian bawahnya.
"Dari mana kamu?" tanya Kongpob saat melihat kedatangan Krist.
"Belakang," jawab Krist singkat.
"Nanti malam kita ada perkerjaan."
"Apa sayang?"
"Senjata yang kita pesan sudah tiba di dermaga."
"Itu masalah kecil," ucap Krist sembari duduk di tepi kasur, ia mengambil bajunya yang tergeletak di atas ranjang dan memakainya.
Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu kamar di ketuk.
"Masuk, Sing," ucap Kongpob yang sudah menduga itu adiknya.
Singto masuk ke kamar Kongpob dan melihat Krist tengah duduk di kasur sedangkan Kongpob duduk di atas meja, mereka seperti tengah membicarakan sesuatu.
"Tadi Jay ke sini, dia mengatakan akan melakukan pemindahan surat-surat penting papa, tapi karena Phi belum bangun, jadi dia mengatakan dia akan ke sini lagi nanti malam," ucap Singto.
"Beri tahu Jay, besok saja baru ke sini. Nanti malam aku ada pekerjaan," ucap Kongpob.
"B-baiklah"
Singto menatap ke arah Krist yang sepertinya tak menghiraukan keberadaannya, padahal baru beberapa menit yang lalu mereka berciuman.
Kongpob mengambil sesuatu dari laci meja yang di dudukinya kemudian menghampiri Singto.
"Mana tangan mu?"
Singto memperlihatkan tangan kanannya, Kongpob menarik tangan kiri singto dan memakaikan cincin permata di jari manisnya.
"Jangan pernah di lepas" ucap Kongpob.
"Ini apa?" tanya Singto sembari melihat cincinnya.
"Hanya sebuah cincin" ucap Kong singkat.
Singto mengangguk paham kemudian keluar dari kamar Kongpob sedangkan Krist dan Kongpob melanjutkan rencana mereka.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pewaris Tahta
FanfictionTentang cinta segi tiga antara Krist, Kongpob, dan Singto. Dua kakak-beradik yang semula akur menjadi bertengkar hanya karna satu pria. Kongpob merasa di khianati oleh adiknya, Singto, adik yang di sayanginya bahkan di lindunginya lebih dari ia menj...
