Part 10

560 65 26
                                        

Kongpob dan Arthit baru saja tiba di hotel setelah melakukan perjalanan panjang, Arthit merasa benar-benar lelah sekarang karna ini kali pertama dia pergi keluar negri, dulu ia sempat bercita-cita ingin menjadi orang kaya lalu sering keluar negri tapi sekarang Arthit mengubur dalam cita-citanya itu, jadi kaya ternyata tak seindah yang dia kira.

Kong mengambil kunci kamar mereka yang memang sudah di pesannya di bagian resepsionis kemudian berjalan mencari letak kamar itu.

"Aku tidur dimana, tuan?" Tanya Arthit hati-hati, sejujurnya dia sangat takut dengan Kongpob, apa lagi sekarang dia jauh dari singto, jika dia di siksa Kongpob siapa yang akan membelanya nanti?

"Siapa yang menyuruh mu tidur, huh? Kita hanya menyimpan barang disini, setelah itu kita langsung pergi" ucap Kongpob.

"T-tapi tuan. Aku lelah" ucap arthit.

"Bukankah kamu ikut aku kesini untuk bekerja bukan liburan!?" Bentak Kongpob.

Ponsel Kongpob berdering, ia langsung mengangkat panggilan tersebut.

"Aku sudah membawa uangnya, siapkan barangnya, kita bertemu satu jam lagi di tempat biasa" ucap Kongpob kemudian ia langsung mematikan panggilan itu sepihak.

"Dengar, apapun yang kamu lihat, apapun yang ku lakukan nanti, jangan pernah berpikir untuk memberitahu singto tentang semuanya!!" Ucap Kongpob.

Sebenarnya kong enggan membawa Arthit, ia hanya takut Arthit mengatakan semua pekerjaannya pada singto. Tapi disisi lain, entah kenapa kong merasa ingin di temani, sejujurnya ia sangat ingin di temani oleh krist tapi krist menolak jadi tak ada pilihan lain, Kongpob membawa Arthit.

Kong merasakan firasat buruk, itu sebabnya ia membawa satu orang bersamanya walau faktanya arthit mungkin hanya akan menyusahkan dirinya saja. Kong ingin membawa salah satu anak buahnya namun semua sudah mendapatkan tugas masing-masing.

***
Kini arthit dan Kongpob sudah berada di dalam mobil dengan Kongpob yang menyetir mobil itu, jika ia menyuruh arthit mungkin arthit akan mengendarai mobilnya dengan lambat, itu sebabnya kong memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri.

Mereka tiba di sebuah tempat yang sangat sepi dan gelap, di sekeliling hanya ada pohon, kemana Kongpob akan membawanya? Apa kong ingin membuangnya? Itu yang berada di benak arthit.

Mobil Kongpob berhenti di depan sebuah bangunan yang sangat besar namun sepertinya sudah tak terpakai.

"Ambil koper tadi" ucap Kongpob.

Arthit mengambil koper yang memang sudah di siapkan oleh Kongpob di belakang lalu keduanya keluar dari mobil.

"Ayo masuk" ucap kong.

"K-kemana, tuan?" Ucap arthit gugup.

"Bangunan tua itu" ucap Kong.

"T-tapi tuan... Aku takut" ucap arthit.

Kongpob tertawa sinis mendengarnya, ia menarik tangan Arthit membawanya masuk ke sana. Setelah mereka masuk tiba-tiba pintu tertutup dengan sendirinya.

"Selamat datang, tuan Kongpob" ucap seorang pria yang kini berjalan menghampiri mereka.

Tubuh arthit bergetar ketakutan, ia memegang tangan Kongpob dengan sangat kuat.

"Mana barang pesanan ku?" Tanya Kongpob.

"Oh, kamu juga mengajak teman mu?" Ucap pria itu saat melihat arthit yang seperti ketakutan sembari memeluk koper yang di pegangannya.

"Dimana barangnya, tuan rudi?" Ulang Kongpob.

"Ini yang kamu cari?" Ucap pria yang bernama rudi itu sembari memperlihatkan koper kecil yang di bawanya.

"Serahkan pada ku" ucap Kongpob.

"Dengar tuan kong, aku bersusah payah mencuri senjata ini, jadi aku meminta bayaran dua Kali lipat dari harga yang kita tentukan sebelumnya" ucap rudi

"Itu tak seperti perjanjian awal!" Ucap kong.

"Baiklah, aku tak akan menyerahkan ini" ucap pria itu.

Kong meremas tangannya, ia langsung menghampiri rudi dan memukulnya dengan membabi buta, arthit hanya berani melihat dari kejauhan melihat Kongpob dan pria itu berkelahi saling memukul.

"Lepaskan bos ku atau dia akan mati" ucap seorang pria sehingga membuat Kongpob berhenti memukul rudi.

Kongpob melihat arthit di pegang oleh dua anak buah rudi, benar-benar bodoh, bahkan menyelamatkan dirinya sendiri dia tak bisa.

Arthit sudah menangis ketakutan, ia berusaha melepaskan dirinya namun tak bisa.

*Bughh... Satu pukulan mendarat di perut Kongpob saat kong terlena, kini Kongpob kembali saling memukul dengan rudi tanpa mengabaikan arthit yang juga di pukul oleh dua anak buah rudi.

Kong menendang rudi dengan sangat kuat sehingga membuat rudi terjatuh ke lantai, rudi bahkan memuntahkan darah sekarang.

Kini Kongpob berlari menghampiri arthit yang tengah di pukul oleh anak buah rudi. Kongpob memukul mereka sehingga membuat keduanya melepas Arthit dan fokus melawan Kongpob sekarang.

Dua orang berhasil di lumpuhkan oleh kong. Saat fokus kong tertuju pada dua anak buah rudi, rudi bangkit dengan memegang pisau, berjalan perlahan menghampiri Kongpob dengan pisau tajam yang di pegangnya.

Arthit yang melihat itu langsung bangkit, rudi semakin dekat dengan Kongpob begitu juga dengan Arthit, ia mengenyampingkan rasa sakitnya saat melihat itu.

"Awas tuan" ucap arthit sembari menepis tangan rudi yang memegang pisau membuat kongpob menyadari kedatangan rudi, kini kongpob dan Arthit melawan rudi beserta anak buahnya, walau arthit tak sekuat Kongpob namun dia berusaha untuk menepis tinjuan dari rudi dan anak buahnya.

*Bughh... Perut Kongpob di tendang sehingga membuat Kongpob terjatuh ke lantai, rudi ingin menusuk Kongpob dengan pisau yang sedari tadi di pegangnya namun arthit langsung memeluk Kongpob sehingga membuat pisau itu menusuk pinggang Arthit.

Sejujurnya arthit sangat takut dengan pisau dan keadaan sekarang namun dia mengingat permintaan singto yang ingin dia menjaga Kongpob.

Tubuh arthit melemas, ia terbaring di lantai dengan banyak darah mengalir dari pinggangnya yang terluka sedangkan Kongpob langsung menghajar rudi dan dua anak buahnya sendiri.

Rudi dan dua anak buahnya berhasil di lumpuhkan oleh Kongpob, kong mengambil barang yang di bawa oleh rudi, membawa kopernya yang berisi uang kemudian ia berlari keluar dari gedung menyelamatkan barang berharganya itu ke dalam mobil, senjata yang di pesannya dan uangnya lebih berharga dibanding nyawa arthit.

Setelah memastikan barang berharganya aman baru kong masuk lagi ke dalam gedung, ia menggendong arthit membawa Arthit pergi dari sana.

****
"Sudah bangun, huh?" Ucap Kongpob saat melihat arthit membuka matanya.

Arthit meringis kesakitan saat mencoba untuk bangkit, dia berada di kamar hotel mereka sekarang. Kong memang tak membawa Arthit ke rumah sakit karna menurutnya itu hanya membuang waktunya. Kong bahkan mengobati luka arthit sendiri tadi.

"Pinggang ku sakit" lirih arthit.

"Cih, dasar lemah!" Ucap Kongpob sinis.


***
Sedangkan di tempat lain saat ini, krist dan singto baru menyelesaikan kegiatan panas mereka di kamar singto.

Singto terbaring lemas dengan tubuh polosnya, ia memeluk krist dengan posesif.

"Kenapa phi jarang ke sini?" Tanya singto.

"Aku hanya sedang sibuk" ucap krist sembari mengusap rambut singto.

"Aku merindukan phi krist"

"Aku juga sangat merindukan mu" ucap krist sembari mencium kening singto.

"Apa benar kamu menjalin hubungan dengan Arthit?" Tanya krist.

"Tidak, dia hanya teman ku" ucap singto.

"Kong mengatakan jika kamu sering membantunya dan berduaan dengannya" ucap krist.

"Aku sering membantunya bukan berarti aku menjalin hubungan dengannya, phi"  ucap singto.




















Tbc.

Pewaris TahtaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang