Part 8

498 65 43
                                        

Sudah seminggu ini kongpob mendiamkan singto, entah apa sebabnya singto sendiri tak tahu. Kong berubah menjadi dingin dan tak perhatian lagi padanya.

Saat ini singto tengah menangis di taman belakang, dia memikirkan phinya, karna memang ini kali pertama kong bersikap dingin padanya, apa salahnya? Kong tak mungkin tahu jika dia sering bermain dengan krist di belakang Kong 'kan?

"Untuk mu" ucap krist sembari memberikan sebatang coklat yang di bawanya.

"Terima kasih, phi" ucap singto sembari menerima coklat tersebut.

"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya krist sembari duduk di samping singto.

"Entah hanya perasaan ku saja atau memang benar jika phi kong mendiamkan ku selama satu minggu ini, dia tak lagi perhatian pada ku dan tak pernah bertanya kabar ku" ucap singto sembari menghapus air matanya.

Krist merengkuh pinggang singto sehingga membuat singto duduk semakin dekat dengannya, singto menangis menyadarkan kepalanya di pundak krist.

"Hikkss... Ini kali pertama phi kong seperti ini" lirih singto.

"Apa kamu melakukan kesalahan?" Tanya krist.

"Bahkan jika aku melakukan kesalahan phi kong tak pernah marah, dulu aku sering merebut mainannya, aku sering merusak robotnya dan aku sering meminta barang yang papa berikan padanya tapi phi kong tak pernah marah, sekarang aku tak tahu salah ku apa, aku bahkan belum bicara banyak dengannya setelah dia pulang dari luar kota waktu itu" ucap singto sambil menangis.

"Coba kamu ingat lagi, atau mungkin kamu merebut sesuatu darinya?" Tanya krist.

"Satu-satunya yang ingin ku rebut dari phi kong hanya phi krist dan phi kong tak mungkin tahu itu" ucap singto.

Krist terdiam mendengarnya, kong memang sedikit aneh seminggu ini, lebih tepatnya sejak kong pulang dari luar kota. Kong semakin posesif padanya sekarang.

"Krist... Bukankah aku menyuruh mu agar menunggu di kamar ku!?" Ucap Kongpob yang tiba-tiba berada di dekat mereka.

Singto langsung mengubah posisinya, ia takut kong marah saat melihat dia bersandar di pundak krist.

"Phi kong... Apa phi--"

"Ku tunggu di kamar" ucap Kongpob pada krist kemudian ia langsung pergi dari sana.

"Phi lihat sendiri, phi kong bahkan memotong ucapan ku" ucap singto, ia kembali menangis saat melihat perlakukan Kongpob padanya.

"Hey, jangan menangis, aku akan bicara dengan Kongpob nanti" ucap krist sembari mengusap rambut singto.

"Hikss... Hiksss... Apa salah ku, phi" ucap singto sambil menangis tersedu-sedu.

"Jangan menangis, sing. Aku akan bicara dengan Kongpob" ucap krist.

Krist menghapus air mata singto, setelah singto berhenti menangis, krist beranjak pergi dari sana menyusul Kongpob ke kamarnya.

"Singto..." Sapa arthit yang kebetulan lewat di taman belakang dekat singto duduk.

"Arthit..."

"Kenapa wajah mu merah? Apa kamu menangis tadi" tanya arthit dengan wajah khawatir.

Arthit melepas beberapa peralatan yang di bawanya, ia berjalan menghampiri singto.

"Aku hanya sedikit sedih" ucap singto.

"Tolong jangan pernah sedih, kamu jelek jika sedang sedih" ucap arthit sembari mengusap pipi singto membuang sisa air mata disana.

Singto tersenyum manis sehingga membuat arthit juga ikut tersenyum. Jantung Arthit berdebar kencang saat melihat senyum manis singto.

"Apa yang kamu lakukan?" Tanya singto.

Pewaris TahtaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang