Part 18

509 62 31
                                        

Arthit berusaha keras meyakinkan singto jika Kongpob sudah tak marah lagi padanya, kong tak akan menyiksa singto lagi dan dengan sedikit paksaan akhirnya singto mau pulang ke mansion.

Tapi sudah 1 minggu ini singto selalu mengurung diri di kamarnya, tak keluar sedikitpun dan pintu kamarnya selalu di kunci.

Setiap hari arthit bertugas membawakan dirinya makanan, jika maid lain singto tak akan mau menerima makanan itu.

Kongpob juga tidak berusaha untuk menemui singto dan mengajaknya bicara, dia sengaja memberi singto waktu untuk sendiri.

Keadaan sudah kembali seperti semula sekarang, Kongpob kembali bekerja begitu juga dengan krist, bahkan perusahaan krist dan Kongpob kembali melanjutkan kerja sama mereka.

Walau sering bertemu dengan krist, Kongpob sudah tak pernah mengingat masa lalu mereka, dia sudah bersikap biasa saja dengan krist dan bersikap layaknya teman biasa.

Sesekali krist mencoba untuk menemui singto namun singto enggan untuk bertemu dengannya, singto sering menangis histeris jika krist memaksa masuk ke kamarnya dan berakhir arthit yang mendiamkan singto.

Singto memang lebih dekat dengan Arthit sekarang, semuanya harus arthit yang melakukan apapun untuknya.

Arthit benar-benar senang karna singto tak takut padanya, karna arthit memiliki perasaan untuk singto, arthit berpikir jika ia bisa melakukan pendekatan dengan singto sekarang.

"Apa kamu mau ke taman belakang?" Ucap arthit pada singto.

Saat ini arthit memang berada di kamar singto mengantar makan siang untuk singto.

"Tidak, aku takut bertemu phi kong" lirih singto.

"Tuan kong sedang tidak ada di mansion, dia pergi tadi pagi" ucap arthit.

"Aku tak mau keluar" ucap singto.

"Apa kamu tak bosan disini?" Tanya Arthit.

"Tidak" gumam singto.

"Tapi setidaknya keluar, kamu tak akan mendapatkan sinar matahari jika disini setiap hari" ucap arthit.

"Baiklah" ucap singto pasrah.

Arthit tersenyum bahagia, akhirnya ia berhasil membawa singto keluar dari kamarnya.

Arthit menggandeng tangan singto membawanya keluar dari kamar singto, berjalan menuju taman belakang.

***
Singto tertawa lepas saat bicara dengan Arthit, semua itu tak lepas dari perhatian Kongpob. Ya, Kongpob dia memang sudah pulang sejak tadi, berjalan ke taman belakang bermaksud ingin menyegarkan pikirannya namun ia malah melihat singto dan Arthit yang sedang bercanda tawa.

Setidaknya Kongpob lega melihat singto tertawa lepas tapi di sisi lain ada rasa sakit di hatinya saat melihat itu, entah apa sebabnya.

Kongpob memilih untuk pergi dari sana sebelum singto melihatnya dan akan menangis histeris lagi karna ketakutan, namun baru satu langkah kakinya bergerak Kongpob merasakan pusing di kepalanya kemudian ia langsung terjatuh ke lantai.

Mendengar itu, arthit dan singto menoleh ke arah Kongpob yang tak jauh dari mereka. Arthit langsung beranjak dari duduknya, berlari kecil menghampiri Kongpob.

"Apa tuan baik-baik saja?" Ucap arthit.

"Ya, kepala ku sedikit pusing dan aku kehilangan keseimbangan tadi" ucap Kongpob.

Arthit membantu Kongpob berdiri, Kongpob menoleh ke arah singto yang tetap diam di tempatnya melihat itu, terlihat dari raut wajah singto jika dia sangat sedih, singto sedih karna merindukan Kongpob, dia ingin menghampiri Kongpob namun takut di pukul lagi oleh Kongpob itu sebabnya ia hanya melihat Kongpob dari kejauhan.

Saat menyadari kongpob menatap ke arahnya, singto langsung mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.

"Ayo ku antar ke kamar" ucap arthit pada Kongpob.

"Tidak perlu, temani saja singto" ucap Kongpob.

"Biarkan singto sendiri agar dia tak takut lagi dengan orang-orang, lagi pula hanya sebentar mengantar tuan ke kamar" ucap arthit.

Kongpob mengangguk dan melangkahkan kakinya pergi dari sana dengan di bopong oleh arthit, kepalanya sangat pusing sekarang mungkin karna Kongpob kurang beristirahat dan sangat sibuk bekerja akhir-akhir ini.

Arthit membantu Kongpob merebahkan tubuhnya ke ranjang, mungkin karna dirinya belum siap namun Kongpob sudah merebahkan tubuhnya tanpa melepas pegangannya sehingga membuat arthit ikut terjatuh ke atas tubuh Kongpob.

"M-maaf, tuan" ucap arthit, saat menyadari posisi mereka yang begitu dekat, bahkan hembusan nafas Kongpob menyapa wajahnya.

Kongpob hanya mengangguk, entah apa yang salah dengan jantungnya sekarang, kenapa berdetak dengan sangat kencang saat arthit sedekat tadi dengannya.

"Aku akan mengambil obat untuk tuan" ucap arthit kemudian ia langsung pergi dari kamar Kongpob.

Beberapa menit kemudian Arthit datang kembali dengan membawa nampan berisi makanan dan obat untuk Kongpob.

"Tuan pasti belum makan siang itu sebabnya tuan pusing" ucap arthit sembari duduk di samping ranjang Kongpob.

"Biar ku suapi" ucap arthit.

"Tak perlu, aku bisa sendiri" ucap Kongpob.

"Tidak, tuan. Biarkan aku menyuapi tuan" ucap arthit memaksa.

Mau tak mau Kongpob membuka mulutnya menerima suapan dari arthit. Arthit terlalu sibuk dengan Kongpob sekarang sehingga melupakan singto yang ia tinggalkan sendiri di taman belakang.

Singto memeluk tubuhnya sendiri sambil menangis sesengukan. Ia takut dengan banyaknya maid yang berkeliaran di dekatnya mengerjakan tugas mereka masing-masing.

Singto melihat maid itu menatapnya sinis walau faktanya tak ada yang menatap sinis padanya, itu hanya halusinasi singto saja karna dia masih takut dengan semua orang.

"Hikss... Hiksss" gumam singto sambil memeluk dirinya sendiri.

Dia ingin kembali ke kamarnya namun singto juga takut untuk beranjak, ia merasa jika ia berjalan satu langkah saja dari posisinya ia akan di pukul oleh semua maid itu.

Singto berhalusinasi jika para maid menatapnya sinis sembari memegang alat pukul untuk memukul dirinya.

"Sing..." Ucap krist.

"Aarrgghh... Pergi, ku mohon jangan dekati aku!!" Teriak singto histeris saat melihat keberadaan krist yang tiba-tiba berada di dekatnya.

"Pergi... Hikss... Jangan dekati aku!" Ucap singto berulang kali.

"Aku tak akan menyakiti mu, tolong percaya pada ku" ucap krist.

Maksud kedatangan krist ke mansion Kongpob sebenarnya ingin bertemu Kongpob membicarakan tentang pekerjaan mereka, namun saat ia ingin masuk ke kamar Kongpob ia melihat arthit tengah menyuapi Kongpob makanan, sepertinya pembicaraan mereka seru sehingga tak sadar jika ada krist di depan pintu itu sebabnya krist memilih untuk pergi dari pada mengganggu arthit dan Kongpob.

Krist berjalan ke taman belakang, bermaksud ingin menunggu arthit dan Kongpob selesai bicara namun ia malah melihat singto yang seperti sangat ketakutan itu sebabnya ia menghampiri singto.




















Tbc.

Pewaris TahtaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang