"Seperti itu ceritanya, phi" lirih singto.
Krist sedari tadi hanya diam menyimak ucapan singto. Saat ini singto dan krist sedang duduk di taman belakang mansion, singto menceritakan apa yang terjadi pada Kongpob sehingga membuat Kongpob tak bekerja seminggu ini.
Ini kali pertama krist dan singto bertemu lagi setelah singto menolak krist waktu itu dan ya, krist bersikap seakan tak pernah terjadi apa-apa bahkan seakan melupakan singto yang menolaknya begitu juga dengan singto yang kini bersikap biasa saja bahkan dia menceritakan masalah yang di alami Kongpob saat ini.
"Apa phi percaya jika phi kong membunuh ibu arthit?" Tanya singto.
"Entahlah, sing. Aku akan menyelidiki itu dulu" ucap krist.
Membunuh memang bukan hal baru untuk Kongpob, dia sering membunuh orang, itu sebabnya krist sedikit ragu jika kong benar-benar tak membunuh ibu arthit, tapi entahlah, semoga saja itu hanya tuduhan.
"Kasian phi kong" lirih singto sedih.
"Dimana arthit sekarang?" Tanya krist.
"Aku tak tahu, aku menelpon dia, namun tak di angkat olehnya, bahkan Arthit memblokir nomor ku sekarang" ucap singto.
"Aku berjanji akan menyelidiki ini, jika terbukti kong membunuh ibu arthit, aku tak akan ikut campur dengan hubungan mereka, tapi jika terbukti tidak, aku akan membawa Arthit kembali pada Kong" ucap krist.
"Terima kasih, phi. Aku tak mau phi kong sedih" ucap singto.
.
.
.
.
.
.
.
Krist membuka kaca mata hitamnya saat melihat aktiftas arthit di dalam kafe. Saat ini krist berada di dalam mobilnya, ia pergi ke kafe glora ingin menemui arthit tapi sebelum itu dia ingin memperhatikan interaksi arthit dan wanita itu lebih dulu.
"Siapa wanita itu, phi?" Tanya singto.
Ya, singto memang ikut bersama krist, walau sebenarnya hubungan mereka tak terlalu baik tapi semenjak krist berjanji akan mencari tahu tentang kematian ibu arthit membuat mereka sedikit dekat, krist dan singto sering membicarakan arthit dan Kongpob.
"Namanya namtan, dia pemilik kafe sekaligus teman arthit" ucap krist.
Di kafe saat ini, arthit tengah mengelap meja dan kursi dengan di ganggu oleh namtan sejak tadi.
"Berhenti mengganggu ku" ucap arthit sembari merengkuh pinggang namtan mendudukan namtan di atas meja.
"Tapi mengganggu mu itu menyenangkan" ucap namtan sembari mencolek dada arthit.
Interaksi mereka berdua tak lepas dari perhatian krist dan singto sejak tadi, sudah 1 bulan sejak kejadian itu, apa arthit sudah melupakan kongpob? Semudah itu?
"Ayo temui arthit" ucap krist sembari membuka pintu mobilnya.
Krist dan singto berjalan masuk ke dalam kafe menghampiri arthit.
"Arthit" ucap krist, sehingga membuat arthit dan namtan menoleh ke arah krist dan singto yang baru saja datang.
Arthit sedikit terkejut saat melihat kedatangan krist dan singto, dari mana mereka tahu dengan keberadaannye sekarang?
"Dari mana kalian tahu aku disini?" Tanya arthit.
"Apa kamu masih meragukan kekuasaan ku, huh? Mencari keberadaan mu adalah hal kecil bagi ku" ucap krist sombong.
"Ada apa?" Tanya Arthit.
"Apa kamu masih mencintai Kongpob?" Ucap krist.
"Tidak" ucap arthit singkat.
"Apa kamu yakin?" Ucap krist sembari menatap mata arthit.
"Hmm" gumam arthit sembari memutuskan tatapan mata mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pewaris Tahta
FanfictionTentang cinta segi tiga antara Krist, Kongpob, dan Singto. Dua kakak-beradik yang semula akur menjadi bertengkar hanya karna satu pria. Kongpob merasa di khianati oleh adiknya, Singto, adik yang di sayanginya bahkan di lindunginya lebih dari ia menj...
