Part 16

470 67 23
                                        

Akhir-akhir ini arthit selalu ada untuk Kongpob, menemani di kala Kongpob sedih saat mengingat singto dan selalu ikut kemanapun Kongpob pergi jika dia melakukan perjalanan bisnis.

Singto masih koma, sudah hampir satu bulan ini dan Kongpob belum pernah menjenguk singto di rumah sakit. Bukan karna Kongpob membenci singto tapi karna Kongpob malu bertemu dengan adiknya itu.

Kongpob dan krist juga belum pernah bertemu setelah kejadian itu, krist selalu menjaga singto di rumah sakit, bahkan jika dia pergi meninggalkan singto, krist menyuruh banyak pengawal menjaga di luar ruangan singto di rawat, hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk termasuk arthit.

"Arthit, bagaimana kabar singto?" Tanya Kongpob.

Saat ini arthit dan Kongpob tengah berjalan kaki menelusuri jalanan yang mulai gelap, Kongpob ada janji bertemu rekan bisnisnya tadi di restoran yang tak jauh dari hotel tempat dia menginap dan Arthit menemani Kongpob ke restoran itu, walau arthit hanya duduk tanpa melakukan apapun, kong yang meminta arthit agar ikut dengannya.

Saat ini keduanya sedang berada di luar kota, itu sebabnya kong dan Arthit menginap di sebuah hotel.

"Singto masih koma, tuan" ucap arthit.

Hati Kongpob terasa teriris saat mendengar itu, rasanya sangat sakit.

***
"Selamat malam tuan Kongpob" ucap seorang pria yang sudah menunggu kedatangan Kongpob dan Arthit di depan kamar hotel mereka sehingga membuat Kongpob dan Arthit berhenti melangkah.

"Jay..." Ucap Kongpob.

Jay adalah orang kepercayaan papanya dan yang Kongpob tahu jay selama ini berada di luar negri setelah mengurus semua warisan tuan Edward, lalu kenapa tiba-tiba jay ada di negara thailand?

"Tuan, aku mendengar jika tuan singto sedang koma karna di pukul oleh tuan, apa perlu saya memutar kembali video dari tuan Edward?" Ucap jay.

"Papa persingkat, seluruh perusahaan papa dari perusahaan utama hingga perusahaan cabang yang ada di luar negri dan kota papa berikan kepada kongpob semuanya dan beberapa bisnis yang saat ini kita jalani kongpob yang mengambil alih semua kecuali satu butik besar di dekat mansion itu bagian singto" ucap tuan edward.

"Kongpob, jangan senang dulu... Itu ada syaratnya, kamu harus menjaga adik mu hingga dia menikah, kamu harus benar-benar selektif memilih calon suami atau istri untuknya, itu tanggung jawab besar kong. Jika jay mendengar singto terluka maka semua yang menjadi milik mu sekarang akan di ambil alih oleh jay hingga kamu benar-benar mampu menjaga adik mu nanti" ucap tuan edward.

Setetes air mata mengalir membasahi pipi Kongpob saat melihat video papanya yang terputar di laptop jay.

"Ayo masuk" ucap Kongpob pada jay sembari membuka pintu kamarnya.

Kongpob dan jay duduk di sebuah sofa yang ada di kamar itu sedangkan arthit berdiri bingung, jelas saja, ia tak tahu apa yang terjadi sekarang.

"Ada apa, tuan?" Tanya jay.

"Aku... Ya, aku memukul singto hingga koma. Maafkan aku karna gagal menjadi phi yang baik untuknya" ucap Kongpob.

"Tuan tenang saja, maksud kedatangan ku ke sini hanya ingin menjenguk tuan singto, bukan ingin mengambil semua yang tuan punya saat ini" ucap jay.

"Tuan Kongpob melakukan itu karna ada alasannya, singto merebut tuan krist darinya, kamu tak bisa menyalahkan tuan Kongpob sepenuhnya" ucap arthit.

"Ambil saja semuanya, aku benar-benar menyesal" lirih Kongpob.

Jay menghela nafas saat mendengar itu, ia bahkan tak menyangka jika Kongpob sendiri yang menyakiti singto karna setahunya Kongpob sangat menyayangi adiknya itu.

Sebenarnya tanpa arthit menjelaskan apa yang terjadi joy sudah tahu semuanya, termasuk alasan Kongpob memukul singto.

"Sebaiknya aku pulang sekarang, selamat beristirahat, tuan" ucap jay sembari beranjak dari duduknya dan memilih untuk pergi dari sana.

Arthit melihat air mata terus mengalir membasahi pipi Kongpob, walau tak terdengar isakan tangis keluar dari bibirnya ia tahu Kongpob berusaha menahan itu.

Arthit duduk di samping Kongpob, ia mengusap pipi Kongpob sehingga membuat Kongpob menatap ke arah Arthit.

Saat kong menangis seperti ini, wajahnya terlihat sangat mirip dengan singto, ia juga terlihat rapuh seperti singto. Entahlah, mungkin karna arthit terlalu merindukan singto sehingga membuatnya dengan lancang mendekatkan wajahnya ke wajah Kongpob.

Kongpob tahu arthit mendekatkan wajahnya dan seperti ingin menciumnya, bukannya menolak, ia malah memejamkan matanya.

*Cup... Bibir keduanya bertemu, arthit melumat bibir Kongpob dengan hati-hati sedangkan Kongpob hanya diam tak membalas lumatan arthit.

Arthit menekan tengkuk leher Kongpob semakin memperdalam ciumannya, hingga pada akhirnya dia tersadar jika yang dia cium saat ini bukan singto melainkan Kongpob membuat arthit langsung menyudahi ciumannya.

"Maafkan aku, tuan" ucap arthit.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Pergi!! Hikss... Hikss... Pergi!! Jangan sentuh aku!!" Teriak singto saat krist mencoba untuk memeluknya.

Singto memang baru tersadar dari komanya, ia langsung berontak saat menyadari krist ada di dekatnya, dokter mengatakan jika singto trauma, dia takut pada orang-orang sekarang, termasuk pada krist.

"Sing, ini aku..." Ucap krist lembut.

"Pergi, phi! Aku tak mau phi kong memukul ku lagi nanti, hikss... Jangan dekat-dekat dengan ku lagi" ucap singto sambil menangis.

Singto memang mengingat semuanya, bagaimana Kongpob memukulnya, bagaimana Kongpob sangat marah padanya saat mengetahui dia ada main dengan krist. Hal itu membuat singto trauma bahkan semakin takut untuk berada di dekat krist sekarang.

"Pergi!!!" Teriak singto saat melihat jay masuk ke dalam ruangannya di rawat.

"Tuan, apa tuan baik-baik saja?" Ucap jay pada singto.

"Jangan dekati aku!!! Pergi kalian semua!!" Teriak singto sambil melempar barang yang ada di sekitarnya ke arah jay dan krist.

"Jay, kamu disini?" Ucap krist saat melihat jay.

"Ya, aku langsung terbang kesini setelah mendapatkan kabar jika tuan singto koma" ucap jay.

Dokter menyuntik lengan singto saat singto berhenti berontak karna di tahan oleh beberapa perawat pria, matanya menyipit, dokter menyiapkan bantal untuk singto lalu singto terbaring di sana.

Sudah 2 jam sejak singto bangun dari komanya, singto terus menangis histeris Sejak tadi.

"Maaf atas semua kekacauan yang ku perbuat" ucap krist pada jay.

Tanpa dia menjelaskan semuanya krist yakin jika jay sudah tahu dengan apa yang terjadi.

"Semua sudah terjadi, tuan. Sebelum aku ke sini, aku menemui tuan Kongpob di kota A kemarin" ucap jay.

"Sudah lama aku tak bertemu dengannya" ucap krist.

"Ya, aku mengerti itu" ucap jay.

Krist menatap sedih ke arah singto yang kini tertidur, air mata menetes membasahi pipinya, ia mengusap pipi singto dengan lembut.

"Maafkan aku" lirih krist, kemudian ia mencium kening singto.






















Tbc.

Pewaris TahtaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang