Part 11

489 64 18
                                        

"ini makanan untuk mu" ucap Kongpob membuat arthit menoleh ke arah Kongpob yang baru saja datang.

Sudah 3 hari ini Kongpob dan Arthit di Cambodia, kong masih terlalu sibuk bekerja sedangkan arthit hanya berdiam diri di hotel, apa lagi lukanya masih basah dan terkadang masih sangat sakit jika dia bergerak banyak.

"Tuan, luka ku berdarah" ucap arthit, dia memang tengah melihat bekas tusukan di pinggangnya sekarang.

Kongpob mendengus kesal mendengarnya, ia berjalan menghampiri arthit dan duduk di samping arthit.

"Buka baju mu" ucap Kongpob.

Arthit membuka bajunya sedangkan Kongpob mulai memeriksa luka arthit.

Ia melepas perbannya, memberi obat lukanya lalu memasang perban yang baru disana.

"Ini bahkan tak terlalu dalam" ucap Kongpob.

"Tapi sakit, tuan" ucap arthit.

"Dasar lemah" ucap Kongpob sinis.

"Apa boleh aku tak mengenakan baju ku, mungkin tadi luka itu berdarah karna bergesekan dengan baju" ucap arthit.

"Terserah, bahkan jika kamu telanjang juga aku tak peduli" ucap Kongpob.

Mendengar hal itu membuat arthit berdiri dan membuka celananya sehingga membuat Kongpob terkejut.

"A-apa yang kamu lakukan" ucap Kongpob.

"Membuka celana ku, rasanya benar-benar gerah, bukankah tuan sudah memberi ijin tadi" ucap arthit.

Kini arthit hanya mengenakan celana boxer pendek, ia melihat makanan yang di bawa Kongpob tadi dan memakannnya.

Kongpob memperhatikan tubuh arthit, perutnya rata, kulitnya putih mengingatkan Kongpob pada krist. Mereka hampir mirip hanya saja Arthit lemah sedangkan krist kuat.

Apa yang di lakukan krist sekarang? Apa dia tidur dengan singto lagi? Banyak hal yang di pikirkan oleh Kongpob tentang singto dan krist

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Apa yang di lakukan krist sekarang? Apa dia tidur dengan singto lagi? Banyak hal yang di pikirkan oleh Kongpob tentang singto dan krist.

"Tuan" ucap arthit membuat Kongpob tersadar dari lamunannya.

"Hmm" gumam Kongpob.

"Kapan kita pulang?" Tanya Arthit hati-hati.

"Tunggu hingga pekerjaan ku selesai" ucap Kongpob.

"Tuan tak bertengkar lagi kan?" Ucap arthit.

"Kapan aku bertengkar?" Ucap Kongpob.

"Tiga hari yang lalu?" Gumam arthit.

"Ingat, jangan katakan itu pada singto" ucap Kongpob.

"Kenapa?" Ucap arthit.

"Tak perlu tahu alasannya" ucap Kongpob.

"Jika tuan menyayangi singto, setidaknya jangan melakukan itu lagi" ucap arthit.

"Siapa kamu berani mengatur ku huh?" Ucap Kongpob sinis.

"Singto akan menangis nanti jika tuan terluka" ucap arthit.

"Kamu Salah besar, dia akan sangat senang jika aku terluka, bukankah semakin mudah baginya untuk merebut tunangan ku" ucap Kongpob sambil terkekeh kecil.

"Tidak, dia pasti akan menangis, singto sangat menyayangi tuan" ucap arthit.

"Apa kamu tahu? Sejak kecil singto selalu merebut milik ku" ucap Kongpob.

"Apa aku kurang baik? Meski ibu ku dan ibunya berbeda tapi aku sangat menyayangi singto. Saat kecil dia suka merampas mainan ku, dia juga sering merusak robot ku. Saat kami masih sekolah, aku sering membelanya jika dia di bully, aku rela memukul semua orang yang mengejek singto lemah hingga aku di panggil oleh guru keruang guru, tapi sekarang apa balasannya untuk ku? Dia bahkan merebut tunangan ku sendiri" ucap Kongpob dengan bibir yang bergetar saat mengatakan itu.

"Jika krist tak tergoda olehnya, aku mungkin masih bisa memaafkannya, tapi nyatanya krist bahkan jatuh cinta padanya, bagaimana dengan ku? Apa singto tak memikirkan perasaan ku? aku sangat mencintai krist" ucap Kongpob dengan wajah yang terlihat sangat sedih, matanya juga memerah siap ingin mengeluarkan air matanya.

"Terkadang seseorang yang bersama kita saat ini memang bukan di takdirkan untuk kita?" Ucap arthit.

"Krist untuk ku" ucap Kongpob kesal saat mendengar itu.

Arthit melihat kong menangis, ini kali kedua dia melihat kong menangis dan itu karna krist dan singto. Tangan Arthit terangkat dengan sendirinya, ia mengusap pipi Kongpob mengusap air mata yang menempel di pipinya.

"Mau melakukan sesuatu agar tuan tak sedih?" Ucap arthit.

"Apa kamu ingin mengajak ku melakukan seks?" Ucap Kongpob

"Tidak, tuan. Ayo ikut aku" ucap arthit sembari menggenggam tangan Kongpob membawanya ke balkon kamar.

"Tuan tunggu disini, biar aku yang menyiapkan semuanya" ucap arthit.

Hampir 30 menit arthit menyiapkan sesuatu kini ia berdiri di samping Kongpob.

"Apa ini?" Tanya Kongpob.

"Ayo berdoa, minta pada tuhan apa yang tuan inginkan, kata nenek ku, jika kita berdoa di atas bunga kertas yang di beri lilin, doa kita akan di kabulkan" ucap arthit sembari menghidupkan lilinnya.

"Ayo berdoa, minta pada tuhan apa yang tuan inginkan, kata nenek ku, jika kita berdoa di atas bunga kertas yang di beri lilin, doa kita akan di kabulkan" ucap arthit sembari menghidupkan lilinnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Setelah apinya menyala, arthit dan Kongpob meletakan bunga kertas itu ke atas air di dalam bak kecil yang sudah di siapkan oleh arthit tadi.

Setelah apinya menyala, arthit dan Kongpob meletakan bunga kertas itu ke atas air di dalam bak kecil yang sudah di siapkan oleh arthit tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Pejamkan mata tuan dan katakan apa yang tuan inginkan" ucap arthit sembari menggenggam tangan Kongpob.

Cukup lama keduanya berdoa, kini kongpob dan Arthit membuka mata mereka bersamaan

"Apa tuan sudah baik-baik saja?" Ucap arthit.

Kongpob hanya menganggukkan kepalanya.














Tbc.

Pewaris TahtaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang