Part 6

761 83 21
                                        

Krist dan singto semakin terlihat dekat sekarang dan tentunya itu mereka lakukan di belakang kongpob.

Singto benar-benar keterlaluan, dia sudah sejauh itu mengkhianati kongpob, bahkan setelah tubuh keduanya menyatu mereka jadi sering melakukan itu di kamar singto dan singto bahkan tak menolak sama sekali.

Saat ini keduanya baru selesai melakukan pergulatan panas dengan singto yang berada di dalam pelukan krist.

"Apa aku boleh cemburu?" Ucap krist.

"Cemburu apa?" Tanya singto.

"Aku cemburu melihat kedekatan mu dengan arthit"

"Bukankah aku memang dekat dengan semua pekerja di sini?"

"Tapi rasanya berbeda saat melihat mu berbicara dengan arthit. Arthit juga menatap mu berbeda"

"Aku juga sering cemburu melihat phi dan phi kong yang selalu bermesraan di depan ku" ucap singto.

"Itu berbeda sayang, aku tak mungkin menjauhi kong kan?"

"Apa phi berniat untuk menikahi ku?"

"....."

"Kita sudah sangat sering melakukannya, bagaimana jika aku hamil nanti?"

"Sebaiknya kamu tidur sekarang" ucap krist sembari mencium kening singto.

Krist bukan tak ingin menjawab hanya saja dia bingung harus menjawab apa. Sejujurnya cinta krist lebih banyak untuk singto sekarang dari pada kongpob, apa lagi dia dan kong sangat jarang bertemu akhir-akhir ini membuat rasa itu perlahan memudar.







***
Kong baru tiba di mansion setelah satu minggu melakukan perjalanan ke luar kota, dia berjalan menuju kamar singto untuk melihat adiknya itu.

Saat kong hendak masuk, pintu kamarnya terkunci, kong berjalan menuju sebuah ruangan mencari kunci cadangan kamar singto, dia hanya takut singto kenapa-kenapa.

Saat pintu kamar terbuka kong terkejut melihat singto tidur di pelukan krist dan selimut tebal menutupi tubuh mereka berdua.

Apa yang terjadi selama 1 minggu dia pergi? Kenapa tunangannya tidur dengan adiknya sendiri.

Wajah kong memerah menahan amarah, dia menutup pintu kamar singto dan memilih untuk pergi dari sana.

Tidak, kong tak menangis. Menangis tak ada dalam kamus hidupnya, hanya saja dia membutuhkan pelampiasan sekarang.

Kong melihat arthit tengah menyiram tanaman, dia menghampiri arthit dan memukulnya hingga arthit terjatuh.

"T-tuan... A-apa salah ku" ucap arthit ketakutan.

"Apa krist sering ke sini di saat aku berkerja?" Tanya kong.

"Y-ya... Tuan, tuan krist sering ke sini" ucap arthit.

"Apa dia memang dekat dengan singto?"

Arthit terdiam, dia harus menjawab apa? Arthit memang sering melihat krist dan singto bermesraan, apa lagi singto sangat baik padanya, apa dia harus mengatakan kejahatan singto pada kong?

"Jawab aku!!" Teriak kongpob.

Arthit hanya mampu menganggukan kepalanya, kong menarik arthit membawanya pergi dari sana.

"T-tuan, hikkss... J-jangan siksa aku" ucap arthit ketakutan.

Arthit menangis, kong memang sangat kejam membuatnya benar-benar takut.

*Bughh... Bughhh... Bughhhh... Kong memukul arthit dengan membabi buta tanpa ampun, hingga tubuh arthit bersimbah darah.

"Mulai hari ini tugas mu melihat singto dan krist, laporkan apapun yang mereka lakukan pada ku atau kamu akan ku bunuh nanti!" Ucap kong, kemudian ia langsung pergi dari sana.

Arthit memegang wajahnya yang terluka, singto yang berbuat salah kenapa harus dia yang di pukul?

Arthit berjalan ke dapur untuk mencari kotak obat, di sana ia bertemu dengan singto.

"Apa yang terjadi pada wajah mu?" Tanya singto khawatir.

Bukankah singto benar-benar baik? Tapi kenapa dia tega merebut tunangan kakaknya sendiri, lirih arthit dalam hatinya.

"A-aku hanya terjatuh" ucap arthit.

Singto mengambil kotak obat dan menarik arthit agar duduk di sebuah kursi, dia dengan telaten mengobati wajah arthit.

Arthit dapat melihat di dada singto ada tanda kemerahan di sana, karna sesekali saat singto menunduk bekas kiss mark itu terlihat jelas.

Seseorang berdehem kecil membuat singto menatap asal suara tersebut.

"P-phi kong, kapan phi pulang?" Tanya singto.

"Baru saja, bagaimana kabar mu?" Tanya kong.

"Aku baik, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"

"Apa tak boleh? Sudah satu minggu aku tak melihat mu?"

"Arthit, ikut aku keluar nanti. Sopir ku sedang sibuk" ucap kong.

"B-baik tuan" ucap arthit.

Tak jauh dari mereka ada krist yang melihat semuanya. Dia melihat singto yang mengobati wajah arthit, dia benar-benar cemburu sekarang.

"Ku perhatikan kamu sangat sering berada di sini" ucap kong yang entah datang dari mana itu.

"K-kong" ucap krist.

"Ya, sayang? Apa kamu merindukan ku?" Ucap kong sembari mengukung tubuh krist di dinding.

"Mmhh, ya.. aku merindukan mu" ucap krist.

Kong mencium bibir krist dan di balas oleh krist, keduanya saling bertaut lidah, saling membelit tanpa mengingat keberadaan mereka yang masih di tempat umum.

Singto dan arthit dapat melihat keduanya yang tengah berciuman itu, wajah singto langsung berubah menjadi merah saat melihat itu.

Arthit memegang tangan singto dan tersenyum ke arah singto.

"Apa aku boleh jujur?" Ucap arthit.

Singto menganggukkan kepalanya.

"Kamu pria baik, kamu bahkan sangat baik, bukan maksud ku untuk ikut campur tentang hubungan mu dan tunangan tuan kong, tapi kamu bisa melihat itu sendiri, tuan kong sepertinya sangat mencintai tunangannya" lirih arthit.

Singto memang memperbolehkan arthit memanggilnya hanya dengan aku kamu bahkan dengan namanya saja tanpa embel-embel tuan.

"Untuk masalah ini jangan pernah ikut campur" ucap singto sambil tersenyum.

Entah kenapa mendengar hal itu membuat hati arthit benar-benar terasa sakit mendengarnya.

Kecurigaan krist memang tak salah, arthit menyimpan rasa pada singto mungkin karna selama ini hanya singto yang baik padanya, singto bahkan menyelamatkan dirinya dari kongpob.

Singto melihat ke tempat krist dan kong yang berciuman tadi namun mereka sudah tak ada di sana. Air mata singto menetes melihat itu, apa mereka berpindah ke kamar?

Sedangkan di kamar saat ini, kong tengah berada di atas tubuh krist, dia hendak membuka baju krist namun krist menghentikan itu.

"Kong, ku pikir aku tak bisa melakukanya sekarang" ucap krist.

"Kenapa!?"

"A-a... B-bukankah kamu baru pulang? Kamu pasti lelah" ucap krist.

Krist akan terlihat semakin jahat jika dia juga memakan kongpob, krist sudah memantapkan hatinya jika dia memilih singto dan akan melepas kongpob mulai hari ini, perlahan dia akan mengatakan itu nanti.

Kong bangkit dari atas tubuh krist dan memakai kemejanya lagi, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung keluar dari kamar.

Kong berjalan ke belakang, ia melihat arthit tengah bercanda dengan singto.

Ya, arthit memang tengah menghibur singto agar tak bersedih, kenapa semua orang harus baik pada singto? Itu yang berada di benak kong sekarang.

"Arthit, ikut aku" ucap kong.

Arthit berhenti tertawa dan pamit pada singto untuk menghampiri kongpob.

Kong berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh arthit dari belakang.













Tbc.

Pewaris TahtaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang