Akhir-akhir ini kongpob merasa ia tak aman, entah kenapa kemanapun dia pergi selalu ada yang berusaha untuk mencelakainya, beruntung dia selalu bersama arthit dan Arthit sangat peka dengan keadaan sekitar, arthit selalu melindungi Kongpob.
Saat ini arthit dan kongpob sedang berada di sebuah kafe, sekedar bersantai setelah Kongpob pulang bekerja.
Kongpob menatap Arthit di depannya yang sedang diam sembari menatap dirinya, entah apa yang salah dari pria itu.
"Ada apa dengan mu?" Tanya Kongpob yang akhirnya mengeluarkan suaranya, karna sejak tadi mereka berdua memang hanya diam, saling menatap satu sama lain bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Aku... Entahlah, aku juga tak tahu ada apa dengan ku" gumam arthit.
"Apa kamu takut berada di dekat ku?" Tanya Kongpob, karna akhir-akhir ini memang sangat banyak serangan datang kepada Kongpob ketika dia berada di luar mansion, mungkin arthit takut di serang juga karna Kong memang selalu membawa Arthit kemana pun dirinya pergi.
"Tidak, tuan. Itu seperti suatu kehormatan untuk ku bisa ikut kemanapun tuan pergi, aku bahagia" ucap arthit.
"Cih, bicara mu" gumam Kongpob.
Arthit beranjak dari duduknya berjalan menghampiri Kong.
"Bukankah aku sudah seperti bodyguard pribadi tuan sekarang? Aku hanya bingung, dulu aku sangat takut jika ada sesuatu yang bahaya di dekat ku tapi sekarang entah kenapa aku lebih suka berkelahi, apa lagi untuk melindungi tuan" ucap arthit.
"Tuan..." Ucap Arthit, membuat Kongpob menoleh ke arah Arthit.
Tiba-tiba Arthit berjongkok di bawah Kongpob membuat Kongpob terkejut.
"Maaf sudah lancang mencintai tuan" ucap arthit.
*Deg... Arthit bukan hanya dengan lancang mencintai Kongpob, tapi juga dengan lancang mengatakan perasaannya sekarang. Jantung Kongpob berpacu lebih kencang dari biasanya.
"A-arthit..." Ucap Kongpob.
Arthit memegang tangan Kongpob sembari menatap Kongpob penuh harap.
"Aku tak pantas bersama tuan? Aku tahu itu, aku bahkan tak bisa menjaga diri ku sendiri, tapi apa boleh aku meminta kesempatan untuk menjaga tuan?" Ucap Arthit.
Kongpob terdiam sangat lama setelah mendengar itu dan Arthit juga tak mengeluarkan suaranya lagi, tapi dia masih tetap pada posisinya. Apa dia akan di tolak? Itu sudah pasti 'kan? Tapi setidaknya arthit sudah mengatakan apa yang mengganjal di hatinya sekarang.
"Aku... Aku juga mempunyai sedikit perasaan untuk mu" ucap Kongpob yang akhirnya mengeluarkan suaranya.
"B-benarkah?! Walau sedikit aku tetap bahagia, tuan" ucap arthit sembari mencium punggung tangan Kongpob.
"Apa kita resmi berpacaran mulai hari ini, tuan?" Tanya Arthit.
"Bukan karna pantat ku kan?" Ucap Kongpob sinis.
"Apa aku terlihat seperti pria mesum, tuan?" Ucap arthit.
Benar saja, mereka memang sudah tak pernah lagi melakukan seks setelah hari itu, itu juga karna ada alasan Arthit menang lomba berenang darinya, sejujurnya Kongpob tak masalah mempunyai kekasih kelebihan hormon, dulu krist juga begitu, tapi dia tak suka jika seseorang menjalin hubungan dengannya hanya karna seks.
"Ya, kita berpacaran mulai hari ini" ucap Kongpob dengan wajah merahnya, entah kenapa dia malu sendiri mengatakan itu.
"Terima kasih, tuan" ucap arthit bahagia, ia mengecup tangan Kongpob beberapa kali, kemudian berdiri dan mencuri satu kecupan di kening Kongpob.
"Baiklah, bukankah tak sopan jika memanggil kekasih sendiri dengan sebutan tuan?" Ucap Kongpob.
"Huh?"
"Panggil aku Kongpob mulai hari ini" ucap Kongpob.
"Huh... A-apa boleh" ucap arthit tak percaya.
"Tentu" ucap Kongpob.
Meskipun Kongpob lebih tua beberapa tahun darinya sedangkan arthit seumuran dengan singto, tapi Kongpob lebih mau di panggil namanya di banding phi, apa lagi oleh kekasih sendiri kan? :v
****
Arthit membukakan pintu mobil untuk Kongpob kemudian mereka sama-sama berjalan masuk ke dalam mansion, saat di mansion, kongpob terkejut melihat banyak orang dengan membawa bunga di tangan mereka masing-masing, ada apa sekarang?
Kongpob dan Arthit berjalan menelusuri orang-orang tersebut hingga mereka tiba di depan pintu kamar singto.
Krist terlihat berjongkok di sana, pintu kamar terbuka, singto terkejut melihat semuanya.
"Apa kamu mau menikah dengan ku?" Ucap krist sembari memperlihatkan bunga yang di pegangnya.
Ada apa sekarang? Kenapa krist tiba-tiba mengajaknya untuk menikah, singto benar-benar bingung. Padahal hubungan mereka tidak sebaik itu sehingga membuat krist memberanikan diri untuk mengajaknya menikah.
Singto menatap Kongpob dan Arthit yang berdiri tak jauh dari mereka. Sejujurnya Kongpob juga terkejut, apa lagi sebelumnya krist tak mengatakan rencananya lebih dulu, tapi saat Kongpob melihat singto menatapnya, Kongpob menganggukkan kepalanya sembari memegang tangan Arthit.
Kong sengaja melakukan itu agar singto paham jika dia sudah mempunyai arthit sekarang.
Singto masih diam tak menjawab sedangkan krist masih di posisinya berjongkok di bawah singto.
"Kenapa tiba-tiba, krist?" Ucap Kongpob yang akhirnya mengeluarkan suaranya karna singto tak kunjung menjawab sejak tadi.
"Aku hanya ingin langsung menikahinya, aku tahu hubungan kami masih belum membaik tapi aku merasa aku sangat mencintai singto dan ingin menikah dengannya" ucap krist.
Semenjak mereka pulang dari danau waktu itu, singto bahkan tak mau bertemu dengan krist lagi sekeras apapun krist mencoba, entah apa yang di pikirkannya sekarang, dia nekat membawa banyak anak buahnya agar ikut ke mansion Kongpob dan dia memberanikan diri untuk mengajak singto menikah padahal krist tahu sendiri dengan jawabannya, singto pasti menolaknya.
"Maaf, phi. Aku tak bisa" ucap singto setelah lama terdiam.
Dunia krist terasa runtuh sekarang, bukankah harusnya dia sudah tahu dengan jawabannya.
Singto memilih untuk masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Air mata krist keluar tak tertahan saat mendengar singto menolaknya, apa dia benar-benar tak mempunyai kesempatan untuk bersama singto lagi.
Kongpob yang melihat krist menangis langsung berjalan menghampirinya, Kongpob ingin memeluk krist namun di tahan oleh arthit.
"Aku hanya ingin menenangkan krist" Ucap Kongpob.
"Tapi tidak dengan memeluknya, kong. Aku akan cemburu nanti" ucap arthit.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir" ucap krist.
"Kamu mengatakan jika kamu baik-baik saja, tapi wajah mu bahkan memerah menahan tangisan mu itu" ucap Kongpob.
"Tuan, pria sejati tak boleh menangis, apa lagi hanya karna cinta" ucap arthit pada krist.
"Cih, bukankah kamu juga sering menangis, apa lagi hanya karna sedang dalam bahaya" ucap krist sinis.
Di kamarnya saat ini, singto duduk di tepi ranjang sambil menangis, sejujurnya dia masih sangat mencintai krist hanya saja dia merasa takut dengan Kongpob.
Ya.. jauh di lubuk hati singto dia masih sangat takut dengan phinya itu, walau Kongpob berulang kali mengatakan tak masalah atau sudah merelakan krist tapi tetap saja singto masih takut dan bayang-bayang Kongpob marah sambil menyiksanya masih sangat melekat dalam ingatannya.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pewaris Tahta
FanfictionTentang cinta segi tiga antara Krist, Kongpob, dan Singto. Dua kakak-beradik yang semula akur menjadi bertengkar hanya karna satu pria. Kongpob merasa di khianati oleh adiknya, Singto, adik yang di sayanginya bahkan di lindunginya lebih dari ia menj...
