Mereka menjalani hari-hari seperti biasa, surat-surat penting harta Tuan Edward sudah pindah tangan menjadi milik Kongpob sepenuhnya. Kongpob semakin hari semakin sibuk, hingga ia melupakan fakta jika dia mempunyai tunangan yang sedikit kelebihan hormon.
Kong sering pergi keluar negri untuk memantau bisnisnya yang ada di sana, menjalankan bisnis gelap papanya, membeli narkoba dengan harga rendah di negara lain dan menjualnya di negara lain lagi dengan harga yang sangat tinggi, membuat musuhnya semakin hari semakin banyak sekarang.
Krist juga semakin gencar mendekati Singto dan pria manis itu juga tak pernah menunjukkan penolakan.
Singto tahu dia gila, bahkan sangat gila, setiap kali Kong melakukan perjalanan bisnis dan Krist ke mansion, mereka selalu bercanda tawa bersama, Krist selalu mempunyai banyak cara agar Singto tertawa saat bersamanya, hal itu membuat rasa cinta di hati Singto tumbuh semakin besar kepada tunangan kakaknya itu.
Singto tahu jika dia jahat, Kong bahkan sangat baik padanya, selalu memberi dirinya uang, selalu perhatian walau Kong jarang di mansion tapi Singto seakan buta akan hal itu.
Saat ini Krist tengah membawa Singto ke suatu tempat, mobil mereka menuju dermaga, Krist keluar mobil lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Singto.
Krist menggandeng tangan Singto membawanya menuju kapal besar di sana dan mengajak Singto untuk masuk.
Setelah mereka masuk, kapal mulai bergerak ke tengah, angin laut mulai menyapa mereka, rambut Singto terbang bebas terkena angin laut hingga menutupi matanya membuat wajahnya terlihat berkali-kali lipat lebih manis sekarang.
"Terima kasih sudah membawa ku ke sini, Phi" ucap Singto bahagia, terlihat dari pipinya yang mengembung bulat.
Krist hanya tersenyum menanggapi itu, ia melingkarkan lengannya untuk memeluk tubuh Singto dari belakang. Rasanya ia mulai menyukai Singto. Pada dasarnya, Krist memang lebih menyukai sosok yang manis dan lemah lembut, sangat bertolak belakang dengan Kongpob yang terkesan kasar.
Krist menginginkan seseorang yang manja, agar ia bisa mencurahkan kasih sayangnya secara utuh. Tidak seperti Kongpob yang terlalu mandiri.
Selama ini, hubungan Krist dan Kongpob tak pernah dihiasi kencan romantis dan selalu berujung langsung di atas ranjang. Kongpob memang tidak menyukai hal-hal semacam itu, bagi pria itu, berkencan romantis hanyalah tindakan kekanak-kanakan.
Krist menyukai Singto yang selalu bergantung pada orang lain, tidak seperti Kongpob yang bisa mengerjakan semuanya sendiri.
Singto terdiam menikmati pelukan Krist, ia memegang tangan Krist di perutnya dan memejamkan matanya.
Setelah cukup lama berdiri di luar, Krist membimbing Singto masuk ke dalam kapal. Di sana, berbagai hidangan lezat sudah tertata rapi. Wajah Singto seketika merona melihatnya. Apakah mereka sedang berkencan sekarang? Bolehkah Singto menganggapnya demikian?
Krist lalu menarikkan sebuah kursi untuk Singto. Perasaan bahagia membuncah di dada Singto hanya karena diperlakukan semanis itu.
Krist mengambilkan banyak makanan dan menatanya di piring Singto. Ia bahkan memotongkan daging untuk pria itu, melakukan setiap perhatian kecil, meski sebenarnya Singto bisa melakukannya sendiri.
"Terima kasih," bisik Singto malu-malu.
Singto mulai menyantap makanannya, diikuti oleh Krist yang melakukan hal serupa.
"Setelah ini, kita langsung pulang," pinta Singto.
"Kenapa?" Tanya krist.
"Phi Kong melarang ku keluar hingga larut malam."
"Untuk masalah itu kamu tenang saja. Aku sudah ijin pada Kong untuk membawa mu tadi" ucap Krist.
Krist memang meminta ijin pada Kongpob untuk membawa Singto pergi keluar dan Kongpob menyetujui itu. Lagi pula kasian Singto yang terus berdiam diri di mansion.
"Apa kegiatan mu sehari-hari?" tanya Krist penasaran.
"Tidak ada, aku hanya berdiam diri di mansion. Bahkan butik itu Phi Kong suruh orang lain untuk memantaunya," ucap Singto.
"Apa kamu tak ingin berkerja?"
"Tidak, aku suka seperti ini. Aku benci bertemu orang ramai itu sebabnya aku selalu berada di mansion setiap hari"
Singto mengambil potongan daging di atas meja dan mencoba memotongnya sendiri namun ia seperti kesulitan membuat Krist langsung mengambil alih tugas itu.
"Biar aku saja," ucap Krist.
"Terima kasih, Phi Krist. Maaf jika aku merepotkan" ucap Singto.
Krist menyimpan potongan daging tersebut ke piring Singto sambil tersenyum.
"Aku suka di repotkan seperti ini"
Setelah makan malam bersama, mereka duduk di luar kapal sembari memperhatikan malam yang gelap, Singto mengambil botol air yang berada di hadapannya, sebelum Singto membukanya, Krist lebih dulu mengambil alih botol itu dari tangan Singto kemudian membukakan tutup botol tersebut untuk Singto.
"Maaf merepotkan," gumam Singto yang merasa sangat bersalah.
Krist memegang tangan Singto dan menatap wajahnya.
"Apa kamu tahu aku lebih menyukai pria seperti mu? Aku suka di repotkan oleh mu, aku suka jika kamu tak bisa melakukan apa-apa sendiri, aku suka kamu selalu bergantung pada ku dan para maid di mansion. Aku akan merasa lebih berguna jika di repotkan seperti ini, sejujurnya aku menyukai pria yang manja," ucap Krist jujur.
Jantung singto berdetak kencang mendengarnya, apa maksud ucapan Krist tadi?
"Kamu tahu sendiri, Kong bisa melakukan semuanya sendiri, Kong mandiri, pekerja keras, dia tak menyukai hal kecil yang kita lakukan sekarang dan dia lebih menyukai berada di atas ranjang bersama ku dari pada melakukan hal bodoh ini, makan malam bersama seperti sekarang dan membuang waktu di kapal besar ini."
Krist menatap lekat mata Singto, menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku tahu aku brengsek, tapi Singto... Aku menyukai mu. Aku sering memperhatikan kamu dan Kong selama satu tahun ini, tapi aku merasa jika aku lebih pantas bersama mu"
"Kong seperti tak membutuhkan ku, dia bahkan keluar negri sendiri tanpa membawa ku ikut dengannya, dia bisa menjaga dirinya sendiri, aku benar-benar tak ada harga dirinya di matanya. Kamu tahu sebahaya apa pekerjaan kong? Tapi dia benar-benar tak mengijinkan ku untuk ikut dengannya dan menjaganya"
"Phi Kong kerja apa?"
Krist terdiam, dia lupa... hampir saja Krist mengatakan perkerjaan gelap mereka.
"Tidak," ucap Krist singkat.
"Aku juga menyukai Phi, bahkan sudah sangat lama sebelum Phi dan Phi Kong bertunangan, aku sering memperhatikan Phi Krist, memperhatikan Phi Krist memperlakukan Phi Kong seperti ratu, memperhatikan hal kecil yang Phi lakukan untuk Phi Kong, aku merasa iri melihatnya," ucap Singto polos.
Krist terkejut mendengar pengakuan Singto, berarti rasa sukanya tak bertepuk sebelah tangan sekarang.
"Biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya" ucap Krist sembari membawa Singto masuk ke dalam pelukannya.
Keduanya saling berpegangan tangan menikmati angin malam yang dingin.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pewaris Tahta
Fiksi PenggemarTentang cinta segi tiga antara Krist, Kongpob, dan Singto. Dua kakak-beradik yang semula akur menjadi bertengkar hanya karna satu pria. Kongpob merasa di khianati oleh adiknya, Singto, adik yang di sayanginya bahkan di lindunginya lebih dari ia menj...
