Hasil imajinasi saya sendiri✔
Atlas adalah pria berdarah dingin yang sangat terobsesi dengan setiap hal yang berbau darah. Bukan, dia bukan psycopath atau mafia. Dia hanya menyukai darah. Menurutnya warna darah itu sangat cantik dan aromanya begitu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seorang dokter terlihat ketakutan saat di tatap dingin oleh sosok sepasang mata tajam dengan manik segelap malam. Mencoba menekan rasa takutnya, dokter tersebut kembali melanjutkan penjelasannya yang sedikit tertunda.
"....jadi, bisa di katakan nona muda akan kehilangan ingatannya secara permanen jika terus mengonsumsi obat tersebut" sambungnya.
Atlas, sosok sepasang mata tajam itu. Menatap datar sang dokter, suasana nya pun semakin menyesakkan saat laki-laki itu menekan auranya terlalu berlebihan, '"apa terlambat?" Tanyanya.
Si dokter menggeleng kaku, dia menyerahkan sebuah berkas hasil pemeriksaan ke hadapan laki-laki muda itu, "ini belum sampai ke tahap serius. Setelah saya prediksi sepertinya nona muda mengonsumsi obat ini selama 1 bulan, dan jika sampai nona muda mengonsumsinya lagi dalam seminggu maka ini akan benar-benar menjadi hal yang serius" katanya.
Atlas mengambil berkas tersebut dan membacanya dengan sedetail mungkin tanpa ada satu katapun yang terlewatkan. Setelah membacanya, laki-laki itu menatap sang dokter tanpa ekspresi, "bagaimana dengan pemeriksaan makanan yang saya berikan?"
"Sudah saya check tuan muda, dan hasilnya 99% makanan itu sudah tercampur dengan obat tersebut" sang dokter berkata dengan serius, pria muda sekitaran 20 lebih itu kembali menyerahkan selembar kertas yang lainnya.
Atlas berdesisi, laki-laki itu meremas kuat kertas tersebut hingga tak terbentuk. Ia bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan sang dokter yang tampak menghela nafasnya lega.
AT!
Kaki panjang yang terbalut celana Black Levis dengan robekan yang rapi di sebelah lututnya serta sepatu putih yang tampak mengkilap, berjalan memasuki mansion mewah tanpa suara.
Hingga langkahnya terhenti di salah satu pintu yang bertulisan 'Work Room'. Si pemilik kaki panjang itu mengetuk pintu tersebut dengan tak sabaran, membuat sosok yang berada di dalam ruangan itu berdecak kesal.
"Masuk!"
Suaranya tidak terdengar jelas, tapi sosok yang berada di depan pintu itu memiliki pendengaran cukup tajam. Tanpa mengucapkan salam atau sapaan, sosok yang mengetuk pintu itu langsung masuk dan duduk di hadapan seorang pria paruh baya, sepertinya baru menginjak kepala tiga.
Pria paruh baya itu tampak mengerutkan dahinya, menatap sosok laki-laki yang memiliki netra gelap persis sepertinya dengan penuh tanda tanya. Terlihat sekali wajah keduanya tampak mirip, hanya bentuk bibir saja yang membedakannya. Sudah jelas sekali, bahwa mereka berdua adalah sepasang ayah dan anak.
"Tumben sekali kamu mengunjungi saya, apa uang mu sudah habis?"
Si laki-laki muda memutar bola matanya jengah, ia menatap malas pria paruh baya di depannya ini yang tampak tengah tersenyum mengejek, "hentikan wajah konyol mu itu, itu keliatan jelek"
Pria paruh baya itu terkekeh, "...lalu ada hal apa hingga singa kecilku ini mengunjungi ayahandanya?"
Si laki-laki memasang wajah masamnya, niat hati ingin langsung membicarakan ke inti. Tapi sepertinya pria tua bangka itu sangat suka berbasa-basi, "basa-basi mu itu tak berguna dad, jadi tolong hentikan sebelum aku bakar ruang kerja kesayangan mu ini"
Pria paruh baya itu tertawa renyah, dia mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan laki-laki tersebut, "baiklah, baiklah, jadi...ada hal apa hingga membawamu ke sini?"
Si laki-laki tidak menjawab, ia hanya menyerahkan sebuah map berwarna cokelat ke hadapan pria paruh baya itu. Dengan senang hati pria tua itu mengambil map tersebut dan membukanya. Seperkian detik dahinya mengernyit jelas, "...Pratmawijaya?" Tanyanya bingung.
"Hm, aku ingin dad adakan meeting dengan keluarga Pratmawijaya" kata si laki-laki itu, tangannya bersedekap dada matanya menatap serius pria paruh baya tersebut.
"Untuk apa?"
"...Andreas Pratmawijaya, aku ada urusan dengan anak sulung keluarga itu" jawabnya menyeringai tipis, "dan, aku tahu anak sulung keluarga Pratmawijaya sudah mengambil alih perusahaan ayahnya, benarkan dad?" Lanjutnya.
Pria paruh baya itu menatap sang anak tunggal dengan lekat. Berpikir, hal apa yang sudah anak sulung keluarga Pratmawijaya itu lakukan hingga membuat sang raja singa turun tangan?
"...baiklah, akan dad lakukan"
AT!
Ceklek
Atlas membuka pintu kamarnya, ia menatap sang gadis yang tampak terlihat sedang tertidur pulas. Seulas senyum tipis hadir di bibir laki-laki itu, ia berjalan menghampiri kasur yang terdapat putri tidur tersebut.
"Ale" atlas mengusap surai gadis itu, tatapan yang tadinya lembut berubah menjadi datar. Kekehan mengerikan mengalun merdu, dalam matanya terdapat obsesi yang sangat besar. Saking besarnya mungkin laki-laki itu mampu menjadikan gadis yang tengah tertidur tersebut sebagai miliknya.
"I'm crazy because you, ale" matanya berubah menjadi binaran cerah kala melihat alena melenguh, menandakan gadis cantik itu akan segera bangun.
"Eunghh...atlas?"
Atlas berdehem, ia duduk di samping alena membantu gadis itu bersandar pada kepala kasur. Mengambil air minum dan menyerahkannya ke hadapan gadis tersebut, "minum" titahnya.
Alena menurut, setelah meminumnya gadis itu menyerahkan kembali kepada laki-laki sang pemilik wajah tampan tanpa ekspresi tersebut, yang sayangnya adalah suaminya sendiri.
"Kenapa?" Atlas bertanya saat melihat wajah linglung sang gadis, mengusap surai nya lembut menatap hangat ke arah alena. Tanpa tahu berbahayanya di balik tatapan hangat tersebut.
"G,gue mimpi aneh" jawabnya sedikit terbata.
Atlas menyeringai tipis, tangannya mengambil segumpal rambut alena dan menciumnya dalam dan hal itu tidak di sadari oleh gadis itu, "itu hanya bunga tidur"
Alena menoleh ke arah atlas hingga hidung mereka berdua bersentuhan, laki-laki itu tersenyum lebar mengecup hidung kecil sang gadis hingga membuat tubuh mungil itu menegang kaku.
"Cepet mandi, mom sama dad bakal ke sini" setelah mengatakan itu, atlas beranjak pergi meninggalkan alena yang tampak melamun. Gadis itu tengah memikirkan mimpinya yang terasa sangat nyata, dirinya masih ingat sekali dimana di mimpi itu atlas mengambil mahkotanya secara paksa.
" ..... "
ATLAS TRANSMIGRASI! To be continue...
Hallo👋
Kembali lagi sama author cantekk binti imott😌
Whhee😄
Terima kasih untuk semuanya yang masih mau baca cerita ini and maaf atas kekurangannya ya><