AT! 15

3.2K 292 9
                                    

Budidayakan vote sebelum membaca.

Baca dengan teliti dan tandai typo.

Silahkan mengkritik jika ada kesalahan apapun itu, akan sangat senang jika kalian berterus terang dalam memberi komentar tentang cerita ini.

For plagiat, don't copy my story!

:

:

Thank You!
____________________

AT!

Mobil berwarna silver, memasuki halaman sebuah mansion mewah namun elegan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mobil berwarna silver, memasuki halaman sebuah mansion mewah namun elegan. Banyak para Bodyguard serta Maid yang berjejer rapi, menyambut kedatangan orang yang berada di dalam mobil tersebut.

Hingga dua pintu mobil kanan dan kiri terbuka, dan keluarlah seorang Wanita dan Pria paruh baya yang terlihat masih segar, di usia yang menginjak kepala tiga.

"Momy! Dady!" Seorang gadis mungil terlihat berlari kearah pasangan paruh baya tersebut. Di susul dengan seorang laki-laki dengan wajah tanpa ekspresi, namun ada setitik kekhawatiran di raut wajah tersebut.

"Ale, jangan lari!" Sosok laki-laki tanpa ekspresi itu memperingati si gadis, namun tampaknya gadis itu menghiraukannya. Dia malah semakin mempercepat larinya, hingga hampir saja tubuh mungil itu terjatuh jika saja laki-laki itu tidak langsung cepat menggapainya.

"Jangan buat gue khawatir." Suara dingin laki-laki tersebut, membuat gadis--Alena menciut.

"Sudahlah Atlas, kamu membuatnya takut... " Wanita paruh baya itu-Leta Momy Atlas. Menghampiri mereka berdua, dan segera memeluk Alena. Alena sendiri langsung memebalas pelukan itu dengan erat.

"Momy miss~"

Leta terkekeh mendengar suara rengekan dari menantunya itu, dengan penuh kasih sayang dia mengelus surai Alena.

"Apakah little girl, tidak ingin memeluk pria tampan ini?" Suara Axelo--Dady Atlas terlihat sangat dramatis dan itu membuat Atlas yang berada di sampingnya megendus sinis.

"Hey, apa-apaan tatapan mu itu, Son?!" Axelo berdecak kesal kearah sang putra.

Atlas tidak menanggapi sang Dady, laki-laki itu menarik Alena dalam pelukan sang momy. Dan itu mendapatkan tatapan protes dari Leta, yang tentu saja di hiraukan Atlas.

"Ck, kamu posesif banget si, momy kan masih pengen kangen-kangenan sama menantu cantik momy ini... "

"Alena baru sembuh mom, dia harus beristirahat." Atlas memutar bola matanya jengah, momy nya ini terlalu aktif. Ia takut jika Alena akan bertambah sakit.

"Alesan, dasar anak durhaka."

Axelo menahan tawanya, pria paruh baya itu sepertinya sangat puas melihat wajah tertekan sang anak. Dan tentu saja, hal itu membuat Atlas semakin mendatarkan wajahnya.

Alena berdehem pelan, saat merasakan suasananya mulai tak kondusif, "Mm, apa kalian tidak ingin masuk? Udara malam ini cukup dingin hehe... "

"Oh sayang, kamu sangat perhatian." Leta mencubit kecil hidung mancung Alena, dia merasa gemas dengan ekspresi yang gadis itu perlihatkan. "Baiklah, mari kita masuk." Sambungnya sambil menggandeng tangan Alena dan membawanya pergi. Meninggalkan Atlas dan Axelo yang masih bergeming di tempat.

"Hei Son, kamu tidak ingin pergi juga?"

Atlas tak menanggapi ucapan Dady nya itu, ia langsung melengos pergi. Hingga membuat Axelo berdecak kesal, "Entah turun dari siapa sikap nya itu."

AT!

Kini ruang keluarga di mansion Atlas terlihat ramai oleh keaktifan sang Momy, ke konyolan sang Dady dan kecerobohan Alena. Memang disini yang waras hanya dirinya!

"Ale." Atlas menggeram frustasi, apalagi saat ia melihat Alena beberapa kali terjatuh akibat sendal tali yang gadis itu pakai. Padahal dirinya sudah memperingati sang gadis untuk tidak memakai sendal tersebut agar saat sedang berjalan talinya tidak terinjak dan membuat tubuhnya jatuh. Namun sayangnya, Alena itu sangat pembangkang dan pemberontak.

"Momy, berhenti! Ada pecahan gelas di sana." Oke, sekarang Atlas seperti mengasuh tiga bayi besar. Ia menghela nafas saat melihat cengiran Watados Leta, belum lagi Dady nya yang terus saja mengajak Lio--Kucing Atlas berjoget di depan kamera.

Para Maid yang tak sengaja melihat pun, terkikik geli. Hal itu semakin membuat Atlas bertambah setres, ia merasa seperti salah masuk keluarga. Sepertinya dirinya harus out dari KK Lycus.

"Son, kenapa kucing mu tidak bisa menempel di dinding?" Pertanyaa konyol lolos dari bibir Axelo dengan polos.

"Hentikan Dad, Lio bukan cicak!" Atlas merebut Lio dari gendongan sang Dady, ia merasa kasihan melihat wajah sengsara kucing itu.

"Kamu ini, ganggu kesenangan Dady aja."

"Ck, jika Dady ingin bermain. Pergilah ke ruang bawah tanah, temuin Leo di sana!" Atlas sudah habis kesabaran, ia berjalan meninggalkan Axelo dengan gerutuannya.

Leo adalah seekor singa yang sudah di rawat oleh Atlas sejak kecil. Hewan itu akan mengamuk, jika melihat seseorang memasuki wilayahnya. Tentu saja sudah banyak yang menjadi korban singa buas tersebut, dan salah satu yang bisa membuatnya tenang hanya Atlas sendiri.

Kini tatapan Atlas beralih kearah Alena yang terlihat tengah tertidur di sofa dengan sang momy, sepertinya mereka berdua kelelahan. Atlas menghela nafas untuk ke sekian kalinya, tanpa beban laki-laki itu menggendong Alena. Membawa gadis yang merupakan istrinya tersebut ke dalam kamarnya.

Belum saja ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar, suara sang Dady menginterupsi nya terlebih dahulu. Hingga membuat langkahnya terpaksa terhenti.

"Temuin Dady di ruang kerja, ada yang ingin Dady bahas."

Entah perasaan Atlas atau bukan, Axelo seperti memiliki dua kepribadian. Bayangkan saja, saat ini aura yang dia keluarkan cukup menekan sang lawan, namun itu tidak terpengaruh sama sekali pada dirinya.

"Ya."

ATLAS TRANSMIGRASI!
To be continue...

ATLAS TRANSMIGRASI! ( HIATUS )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang