Hasil imajinasi saya sendiri✔
Atlas adalah pria berdarah dingin yang sangat terobsesi dengan setiap hal yang berbau darah. Bukan, dia bukan psycopath atau mafia. Dia hanya menyukai darah. Menurutnya warna darah itu sangat cantik dan aromanya begitu...
update nya lama yawww:D Seperti biasa author akan disibukkan dengan kegiatan sekolah ditambah sekarang pulangnya sore sekitar jam setengah empat dan sedikit pemberitahuan rumah author dari sekolah tuh jauhhhhhhh banget hampir setengah jam lahh;/ and waktu malem author gunain buat istirahat, menyedihkan bukan? Hiksrot😪
Sebenarnya author mau update besok sekalian doble up gitu loh, tapi besok author ada acara keluarga huhu😭 jadi gak bisa denggg nasib....nasib;v
Dah lah skip aja and maaf kalo sedikit gak nyambung
Happy Reading! Lovyu readers😘
AT!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alena meringis kala lukanya tak sengaja tertekan oleh tangan kekar atlas. Atlas yang melihat itu pun mengusap lembut tangan gadis itu.
Atlas terkekeh, dia kembali mengusap luka alena dengan lembut dan menciumnya berkali-kali. Tak tahu saja atlas bahwa tingkahnya itu membuat jantung alena berdetak lebih cepat, pipinya pun bahkan terasa sangat panas.
"Jangan kayak gini lagi." Kata atlas menatap teduh alena, tangannya mengelus surai alena dengan sayang.
"I-iya" jawab alena gugup dengan kepala menunduk tak berani menatap manik gelap milik atlas.
Atlas meraih dagu alena, hingga kedua netra itu saling memandang satu sama lain. Jika boleh, atlas ingin sekali menghentikan waktu agar dia bisa terus memandang wajah cantik alena.
"Lo milik gua, ale" gumam atlas.
Tubuh alena menegang. Dia menyelami manik hitam segelap malam itu. Dadanya bergemuruh kala melihat ada obsesi didalam manik itu.
"A-atlas" alena menahan kedua bahu atlas agar tidak mendekat kearah nya.
"Hm?"
"J-jangan"
"Kenapa?" Tanya atlas.
Alena meremas bahu tegap itu, dia menundukkan kepalanya gugup. Matanya bergulir asal mencoba mencari alasan.
"G-gue ada ulangan. Ya, ada ulangan" jawab alena berbohong, dia segera bangkit dari brankar uks dan mulai melangkahkan kakinya. Tapi sebelum alena benar-benar melangkah, sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangannya terlebih dahulu.
"Mau kabur hm?"
"L-lepas atlas" pinta alena dia mencoba melepaskan genggaman atlas. Tapi nihil, tenaga atlas lebih besar dari tenaga alena.
Bruk.
Atlas menarik tubuh alena hingga terbentuk dadanya. Alena rasanya ingin mati saja, sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh dirinya hingga membuat atlas terobsesi padanya. Sepertinya alena mengerti apa yang membuat sikap atlas berubah, obsesi. Ya, obsesi. Seandainya alena tahu bahwa yang ada diraga suaminya itu adalah jiwa yang hidupnya hanya mengenal obsesi.