-Packed Meal-

2.3K 208 8
                                        

Pagi tiba membangunkan seorang yeoja yang sekarang sudah selesai mandi dan bersiap siap untuk berangkat kekampus.

Dengan menggendong tas dipundaknya, yeoja yang bernama Rose itu berganjak turun dari lantai atas dan menghampiri sang Papa yang sudah berada dimeja makan "Pagi Pa" sapanya mengecup pipi sang Papa.

"Pagi juga Sayang" sahut Junmyeon.

Rose mendudukkan dirinya dibangku "Wahh, Papa masak semua ini?"

"Iya. Maaf ya, kamu pasti bosen makan nasi goreng mulu" ujar Junmyeon merasa bersalah.

Rose terkekeh kecil "Aku tidak masalah kok. Papa juga pasti tahu kalau aku suka makan jadi semua makanan aku makan"

Junmyeon ikut terkekeh "Kamu yakin tidak ingin Papa menyewa jasa pembantu?"

"Untuk apa menyewa jasa pembantu? Ada aku yang bisa mengurus rumah ini bukan?"

Junmyeon mengangguk setuju. Memang dimansion yang cukup gede itu hanya tinggal mereka berdua. Selama ini Rose lah yang akan membereskan mansion bahkan dia yang akan menyiapkan makan malam serta makan siang untuk dirinya bersama sang Papa.

"Pa" panggil Rose

"Kenapa sayang?" Sahut Junmyeon

Rose menggigit bibir bawahnya. Dia kelihatan ragu untuk bersuara "A-apa Kak Jennie sama Kak Jisoo tidak pulang?"

Junmyeon terdiam untuk beberapa detik. Tidak butuh waktu yang lama, dia tersenyum tipis "Sudahlah. Tidak perlu dipikirkan soal mereka. Mereka hanya butuh waktu"

Rose mengangguk walaupun dia merasa kecewa. Dulu, dia memang tinggal bersama Papa dan juga kedua Kakaknya itu namun setelah berganjak dewasa, kedua Kakaknya memutuskan untuk pindah ke apartment meninggalkan dirinya.

Disaat mereka masih kecil, hubungan Rose bersama kedua Kakaknya itu begitu akrab namun setelah berganjak dewasa, kedua Kakaknya mula membencinya dengan alasan kalau dia adalah pembunuh sang Mama.

Semua itu juga terjadi gara gara Seojin, adek kepada Mama nya Rose itu menghasut Jennie dan Jisoo untuk membenci Rose.

Seojin memang begitu akrab sama Joohyun yang merupakan Kakaknya itu dan setelah kematian Joohyun, dia begitu terpukul sehingga dia membenci Rose bahkan dia ikut mengompori Jisoo dan Jennie untuk ikut membenci Rose.

Awalnya, disaat Jennie dan Jisoo masih kecil, mereka tidak termakan sama omongan sang Tante namun setelah berganjak dewasa, mereka malah kemakan sama omongan Seojin.





















*

Sekarang Double J ini juga lagi menikmati sarapan mereka.

"Hari ini kamu kuliah?" Tanya Jisoo

Jennie mengangguk "Aku ada kelas jam 8 terus kelarnya jam 1"

Jisoo melirik jam ditangannya "Baguslah. Nanti Kakak jemput kamu untuk makan siang bareng"

"Memangnya Kakak tidak sibuk?" Tanya Jennie

"Kakak sudah bilang sama Papa kalau Kakak bakalan pulang lebih awal si" sahut Jisoo yang memang sudah bekerja diperusahan sang Papa.

"Baguslah. Nanti sekalian Kakak menemani aku berbelanja"

"Tadi pagi juga Papa menelfon Kakak. Dia ingin kita makan malam dimansion" ujar Jisoo.

Jennie terkekeh sinis "Kakak pikir aku mau makan bareng pembunuh Mama itu?"

Jisoo menghembuskan nafasnya dengan kasar "Kakak juga tidak mau Jen tapi ini permintaan Papa. Kasian juga sama Papa"

Jennie memutar bola matanya dengan malas "Ya sudah, aku ikut. Tapi aku pulang gara gara Papa, bukan gara gara pembunuh itu!" Dia bangkit dan mengecup pipi Jisoo "Aku duluan" akhirnya dia berjalan keluar dari apartment.

Jisoo menatap kepergian Jennie dengan sendu. Dia kangen sama Jennie yang dulu. Jennie yang dulu tidaklah terlalu dingin seperti ini "Rose, kalau saja kamu tidak lahir, semua ini pasti tidak akan terjadi" gumamnya.




















*
*

Dengan terburu buru Rose berlari kearah parkiran setelah dia melihat mobil sang Kakak tiba.

"Kak Jen!!" Panggilnya.

Jennie yang baru keluar dari mobil itu sontak mendengus "Menjauhlah sialan!" Marahnya.

"Kak. Aku sudah menyiapkan bekal untuk Kakak. Kakak makan ya" Rose memberikan bekal yang disiapkannya itu kepada Jennie.

Senyumannya langsung muncul ketika Jennie menerima bekal darinya itu.

Brukkk

Namun senyuman langsung menghilang setelah Jennie melemparkan bekalnya itu "Lo pikir gue mau makan makanan dari pembunuh seperti elo?! Ck, jangan berhalu!" Sinis Jennie berganjak pergi meninggalkan Rose yang sudah hampir menangis itu.

Rose menarik nafasnya dalam dalam "Tidak apa apa Rose. Lo harus kuat" gumamnya menyemangati dirinya sendiri.

Siswa siswi yang menatap kejadian itu hanya mampu menatap kearahnya dengan iba. Mereka tahu kalau Jennie dan Rose itu saudara namun mereka tidak tahu apa alasan Jennie membenci Rose. Lagian mereka juga tidak ingin ikut campur karena mereka takut sama Jennie. Hey, siapa yang tidak takut sama Jennie huh? Dikampus itu, siswa siswi bahkan takut sama Jennie karena Jennie tidak akan tinggal diam kalau asa yang mengganggunya.

"Jangan sedih" Yerim tiba tiba muncul dan merangkul Rose.

"Gue tidak sedih kok" sahut Rose tersenyum.

"Baguslah. Ayo kita kekelas" Yerim langsung menggandeng sahabatnya itu menuju kekelas.











  Tekan
    👇

Happiness ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang