-Pesan Terakhir-

1.6K 253 60
                                        

Jam menunjukkan pukul 7 malam dan sekarang Rose lagi memakan makan malamnya ditemani oleh Junmyeon.

Papanya itu belum pulang bahkan baju kerjanya saja belum diganti.

"Habisin makanan kamu ya. Besok kamu harus puasa" ujar Junmyeon.

Dahi Rose mengernyit "Puasa?"

"Doker Baek sama Seulgi akan melakukan operasi dan memasangkan jantung buatan buat kamu. Apa pun yang terjadi, kamu harus bertahan ya"

Rose menunduk memainkan makanannya itu "A-aku takut" lirihnya.

Nafas Junmyeon seakan tercekat. Perlahan lahan dia menghampiri sang anak dan membawa sang anak kedalam dakapan "Jangan takut. Papa yakin kamu bisa" ujarnya.

Rose mendongak menatap Junmyeon dengan mata berkaca kacanya "Apa kalau aku tidak bisa bertahan, Papa akan benci sama aku?"

Mata Junmyeon ikut berkaca kaca "Tidak! Papa tidak akan pernah membenci kamu. Tapi Papa mohon, tolong bertahan. Papa tidak ingin kehilangan kamu Rose-ah"

"Aku akan berusaha bertahan. Tapi kalau aku sudah tidak mampu, maafin aku ya Pa. Maaf karena kelahiran aku sudah membuatkan Mama meninggal. Maaf karena aku Kak Ji sama Kak Jen menjauh dari Papa. Dan maaf karena sudah sering merepotkan Papa untuk mengurus aku yang penyakitan ini"

Junmyeon mengangguk "Papa ke kantin sebentar ya. Papa belum makan. Apa tidak apa apa kamu sendiri?"

"Tidak apa apa Pa. Papa tenang saja" sahut Rose.

Junmyeon mengelus kepala Rose sebelum berganjak keluar dari ruang inap.

Dia terduduk lemes dilantai didepan ruang inap Rose. Tangisan yang sedari tadi ditahan olehnya akhirnya kedengaran. Dia tidak ingin anaknya itu melihat betapa rapuhnya dirinya makanya dia memilih untuk keluar dari ruang inap itu.




























Pukul 10 malam, Rose masih belum tidur dan dia kelihatan sibuk memainkan ponselnya.

Junmyeon sudah pulang gara gara Rose memaksanya. Lagian Seulgi juga akan menemani Rose setelah waktu kerjanya selesai.

"Kamu ngapain?" Terdengarlah pertanyaan dari Lisa.

"Aku ingin mengirim pesan buat Kak Ji sama Kak Jen. Aku kangen mereka Li. Andai saja mereka ada disini menemani aku, pasti aku akan berusaha untuk bertahan" sahut Rose.

"Jadi sekarang kamu mau ngomong sama mereka soal penyakit kamu?"

Rose mengangguk "Aku tidak ingin mereka kasian sama aku tapi hanya saja aku ingin mereka ada disamping aku sebelum aku menyusul kamu sama Mama"

"Rose-ah. Jangan bicara yang aneh aneh. Kamu pasti akan selamat"

"Aku tidak yakin aku bisa" sahut Rose yang kembali fokus menatap ponselnya.

Dia memilih untuk membuat 1 grup yang berisi dirinya dan kedua Kakaknya itu.

Jung's Princess

-Kak Jis, Kak Jen-

Kak Jisoo
-Grup apaan si ini?!-

Kak Jennie
-Lo pikir gue mau satu grup sama pembunuh huh?-

-Jangan left Kak! Ada sesuatu yang harus aku jujur sama kalian-

Kak Jisoo
-CUKUP ROSE! APA KAMU BELUM PUAS BIKIN GUE SAMA JENNIE KEHILANGAN MAMA HAH!?!-

Kak Jennie
-Gue sudah muak sama lo! Mulai sekarang jangan pura pura baik lagi sama gue! Apa lo pikir semua yang lo lakukan selama ini itu bikin gue tersentuh!? Ck!-

-Aku bukan pura pura Kak. Aku benar sayang kalian-

Kak Jisoo
-🙄-

-Kak-
-Kapan kalian pulang?-

Kak Jisoo
-Berisik-

-Aku hanya kangen sama kalian-

Kak Jisoo
-Bacot!-
-Asal lo tahu, kita tidak akan pulang!-

-Kenapa? Kakak tidak kangen aku?-

Kak Jennie
-Kangen sama pembunuh Mama? Ck, tidak akan!-

-Tapi Mama mati bukan gara gara aku-

Kak Jennie
-Gara gara ngelahirin elo, Mama sama adek gue pergi tinggalin gue sama Kak Jisoo!-

-Aku juga tidak meminta untuk dilahirkan-

Kak Jennie
-Ya sudah, mendingan elo mati saja!

Kak Jisoo
-Kita akan pulang setelah elo mati!

-Apa benar kalian akan pulang kalau aku mati?-

Kak Jisoo
-Lo itu hanya beban buat gue sama Jennie!-

Kak Jennie
-Gue saja bingung kenapa Papa masih sayang sama elo🙄-

-Aku sayang kalian. Maaf karena aku tidak bisa menjadi adek yang baik untuk kalian🙏-

Kak Jennie
-Bacot!-

*
*

Rose mematikan ponselnya. Setetes air matanya mengalir keluar namun dengan segera dia menghapusnya. Tidak! Dia tidak boleh sedih! Dia sayang sama kedua Kakaknya itu jadi kalau kematian dirinya adalah kebahagiaan kedua Kakaknya, dia harus ikut merasa bahagia.

Ceklekk

Melihat pintu ruangannya yang dibuka itu membuatkan Rose langsung memasang senyuman palsunya.

"Maaf ya, tadi tiba tiba ada rapat" ujar Seulgi melepaskan jas Dokternya.

"Tidak apa apa Kak, aku mengerti. Kakak juga pasti capek. Apa Kakak sudah makan malam?" Tanya Rose.

"Sudah" sahut Seulgi. Dia mendekati Rose dan menatap sepupunya itu dengan tatapan yang sulit diartikan "Kamu harus bertahan ya. Kakak akan berusaha yang terbaik untuk kesembuhan kamu"

Rose menggenggam tangan Seulgi "Aku sudah menerima semua takdir ini. Kalau sesuatu terjadi, Kakak jangan menyalahkan diri Kakak sendiri. Aku tahu kalau Kakak sudah berusaha yang terbaik. Aku sayang Kakak"

"Kakak juga sayang kamu"

Rose menampilkan senyumannya namun senyuman itu seakan berbeda dari biasanya dan Seulgi menyadarinya.

















Sudah siap untuk menguras air mata??🤣

  Tekan
    👇

Happiness ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang