Seulgi sama Rose masih belum tidur dan mereka masih betah mengobrol untuk mengusir rasa bosen mereka. Lagian disaat yang seperti ini, Rose juga membutuhkan teman curhat dan dia yakin Seulgi bisa menjadi teman curhat yang baik.
"Kak. Apa Kakak ada cara untuk bikin Kak Ji sama Kak Jen kembali seperti dulu? Aku kangen mereka yang dulu" lirih Rose.
Seulgi menghela nafasnya dengan kasar "Kakak sudah bingung Rose. Selama ini Kakak sudah sering menasihati mereka tapi mereka keras kepala. Semuanya juga gara gara Tante Seojin yang terus mengompori mereka"
"Tante Seojin benci banget ya sama aku" ujar Rose tersenyum miris.
"Sudahlah, jangan dipikirin soal tuh Tante. Sekarang kamu harus pikirin diri kamu sendiri" ujar Seulgi.
Drttt drtt
"Sebentar ya" Seulgi menjauh dari Rose dan menerima panggilan dari rekan kerjanya.
Tidak butuh waktu yang lama, dia kembali menghampiri Rose namun raut wajahnya kelihatan berbeda "Kenapa? Apa Kakak punya pasien? Kalau Kakak sibuk, Kakak pergi saja. Aku bisa sendiri kok" ujar Rose.
Seulgi menggeleng. Dia menggigit bibir bawahnya "T-Tante Seojin kecelakaan"
Rose menutup mulutnya dengan kaget "G-Gimana kondisi Tante?" Tanya nya khawatir.
Seulgi menggeleng "Buruk. Hatinya rusak dan butuh pendonor"
Rose terdiam. Ditatapnya Seulgi dengan tatapan yang sulit diartikan "Aku punya permintaan"
"Permintaan apa?" Tanya Seulgi.
Rose menggenggam kedua tangan Seulgi "Kalau sesuatu terjadi sama aku, tolong donorkan hati aku ini untuk Tante Seojin" pintanya.
"Tidak!!" Sahut Seulgi cepat "Kamu akan selamat Rose!"
Rose tersenyum tipis "Takdir tidak ada siapa yang tahu. Aku hanya ingin meninggalkan sesuatu yang berharga sebelum aku pergi. Dan aku yakin ini satu satunya caranya"
Seulgi mengusap wajahnya dengan kasar "Tidak bisa Rose-ah. Kenapa kamu begitu baik sama Tante Seojin? Apa kamu lupa kalau dia yang bikin Jisoo sama Jennie benci kamu? Tante Seojin itu jahat! Kamu tidak perlu baik sama dia!"
"Kak Seul, dengarin aku" Rose beralih menangkup kedua pipi Seulgi "Tidak semua kejahatan harus dibalas pakai kejahatan. Kalau dunia ini dipenuhi oleh orang jahat, biarin aku menjadi sebaliknya. Karma itu ada dan semuanya urusan Tuhan. Aku hanya manusia biasa yang tidak ada hak untuk menghukum siapa siapa"
Mata Seulgi memanas. Ah, hatinya tersentuh. Betapa tulusnya hati sosok gadis yang berada didepannya itu "Kamu terlalu baik Rose-ah"
Rose tersenyum "Aku masih punya satu permintaan Kak"
"Katakan saja"
"Aku ingin berbicara dengan Kak Ji sama Kak Jen sebelum aku menjalani operasi besok"
"Gimana kalau Kakak menghubungi mereka sekarang?" Usul Seulgi.
"Boleh deh. Tapi, apa tidak mengganggu mereka?"
"Ini masih jam 11, mereka pasti belum tidur. Sebentar ya"
Dengan segera Seulgi menelfon sepupunya itu. Tidak butuh waktu yang lama, panggilan itu akhirnya diangkat.
"Helo Seul, ada apa?" Tanya Jisoo diseberang sana.
"Jis, apa kamu lagi bersama Jennie?" Tanya Seulgi yang mengloud speaker diponselnya.
"Jennie ada disamping aku, lagi nonton. Ada apa?"
"Bisa kamu mengloud speaker ponsel kamu? Ada yang ingin bicara sama kalian berdua"
"Ouh"
"Hai Kak Seul!" Terdengarlah suara Jennie yang menyapanya.
"Hai Jen" sahut Seulgi.
"Jadi, ada apa Seul?" Tanya Jisoo.
Seulgi menatap Rose dan meminta Rose untuk berbicara "H-Hai Kak Jis, Kak Jen" sapa Rose takut.
"Elo!?" Teriak Jennie marah
"Seul, jangan bilang kalau kamu menghubungi aku gara gara sialan ini?!!" Marah Jisoo.
"Maaf. Rose hanya ingin berbicara sama kalian" ujar Seulgi.
"Kak, jangan marahin Kak Seulgi. Aku yang meminta dia untuk menelfon kalian. Aku hanya ingin berbicara sama kalian untuk yang terakhir kalinya" ujar Rose.
"Untuk yang terakhir kalinya? Apa lo mau mati?" Sinis Jennie.
"Jennie!!" Tegur Seulgi marah.
"Rose, gue mohon sama elo. Jangan gangguin gue sama Jennie lagi! Urusin saja hidup elo!" Ujar Jisoo marah.
"Dan jangan pernah muncul didepan kita lagi!" Lanjut Jennie
Tut
Seulgi yang sudah terlanjur emosi langsung saja mematikan panggilan itu. Dia menatap Rose yang sudah mengeluarkan air matanya "Jangan dengarin omongan mereka" dibawanya Rose kedalam dakapannya.
Rose terisak kecil "Apa benar kebahagiaan wujud?"
"Rose-ah. Kebahagiaan itu wujud dan kamu juga berhak untuk merasakannya. Jadi sekarang tolong bertahan ya"
Rose masih terisak. Secara tiba tiba, dia mencengkram dadanya yang kembali nyeri.
"Rose!!" Seulgi dengan paniknya membaringkan Rose diatas kasur. Dia menekan tombol mereka diatas headboard kasur.
"S-sakit" ujar Rose mencengkram tangan Seulgi yang masih digenggamnya.
"Jangan tutup mata kamu! Terus bertahan!" Ujar Seulgi panik.
Mesin detak jantung Rose sudah berbunyi dengan nyaring bahkan layarnya sudah menampilkan angka yang tidak stabil.
Para suster mula memasuki ruangan Rose dengan terburu buru. Mereka langsung melakukan tugas mereka.
"Suntikan!" Pinta Seulgi
Dengan berhati hati, dia menyuntikkan satu cairan kedalam infus Rose. Setelah itu, dia memakaikan masker oksigen karena Rose kelihatan sulit untuk bernafas.
Pandangan Rose buram. Samar samar dia dapat melihat sosok Lisa yang berdiri tidak jauh dari sana "Lisa-ya, aku tidak kuat. Maafin aku" lirihnya sebelum dia tidak sadarkan dirinya.
Tekan
👇
KAMU SEDANG MEMBACA
Happiness ✅
Fanfiction-Apa benar kebahagiaan itu wujud?- "Kelahiran elo adalah beban dihidup gue!" "Dan kematian elo adalah hal yang terindah dihidup gue" "Aku akan terus bersama kamu" Chaennie📌 Chaesoo📌 Chaelisa📌 Fanfiction📌
