Pagi yang seharusnya memberikan kebahagiaan untuk Junmyeon akhirnya berubah setelah sesuatu yang buruk terjadi.
Tadi pagi, dia mengetuk pintu kamar sang anak namun tidak ada sahutan. Gara gara firasatnya yang buruk itu, dia memutuskan untuk membuka pintu kamar sang anak.
Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika dia melihat sang anak tidak sadarkan diri dilantai disamping kasur. Tanpa mengganti jas kerjanya, dia bergegas menggendong Rose dan membawa anaknya itu kerumah sakit.
Dan sekarang disinilah dia, didepan ruangan UGD dengan perasaan gelisah.
"Permisi Om" Yeri menghampiri Junmyeon dengan khawatir. Tadi, dia menghubungi Rose namun Junmyeon yang mengangkat panggilan itu makanya dia bisa tahu keberadaan Rose.
"Gimana kondisi Rose?" Tanya Yeri khawatir.
"Om tidak tahu Yer. Dokter masih belum keluar" lirih Junmyeon.
Yeri menghela nafasnya dengan lirih "Bisa aku bicara sama Om? Ini soal Rose"
Dahi Junmyeon mengernyit "Ada apa Yer?"
Yeri menggigit bibir bawahnya dengan ragu "A-Apa Om tahu kalau Rose mengalami halusinasi?"
Junmyeon tersentak "K-kamu juga tahu soal itu?"
Yeri mengangguk "Sudah lama aku tahu soal itu. Dia sering bicara sendiri dan beranggapan kalau dia berbicara sama Lisa. Om pasti tahu siapa Lisa bukan?"
"Lisa, namanya tidak asing. Tadi malam, buat pertama kalinya Om melihat Rose berbicara sendirian. Dia seakan mengobrol sama sosok yang dipanggil Lisa"
"Lalisa Jung, saudara kembar Rose yang tidak dapat diselamatkan"
Mata Junmyeon melotot "J-jadi selama ini Rose berhalusinasi soal kembarannya!?"
"Iya Om. Rose sadar kalau Lisa hanya halusinasi dia tapi dia tidak peduli. Dia bilang dia senang karena ada Lisa disisi dia"
"Apa kamu tahu kapan Rose mula berhalusinasi seperti itu?"
"Semuanya berlaku setelah dia berganjak dewasa. Dia mengalami depresi gara gara Kak Ji sama Kak Jen membencinya atas kematian Tante Joohyun"
Junmyeon mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak mampu menyembunyikan air matanya lagi. Ah, betapa buruknya dia sebagai seorang Papa. Anaknya selama ini menderita namun dia tidak mengetahui. Andai dia peka dari awal, anaknya itu pasti tidak akan mengalami halusinasi yang berlebihan.
Ceklekk
Bersamaan dengan itu, keluarlah Dokter Baek bersama Dokter Seulgi.
"Om" panggil Seulgi.
"Seul, gimana kondisi Rose?" Tanya Junmyeon.
Seulgi menggigit bibir bawahnya dengan ragu "Kondisi Rose memburuk. Aku sama Dokter Baek sudah bisa bicara soal ini dan kita sepakat untuk kembali melakukan operasi kepada Rose. Kita akan memasangkan jantung buatan untuk Rose"
"Jantung buatan?" Ulang Junmyeon.
"Jantung buatan sepenuhnya atau bisa dipanggil Total Artificial Heart juga dikenali sebagai jantung palsu ialah satu peranti yang menggantikan kedua-dua ruang bawah jantung iaitu ventrikal kiri dan ventrikal kanan disebabkan kegagalan jantung" jelas Dokter Baek.
"Tapi, apa Rose bakalan baik baik saja?" Tanya Junmyeon takut.
"Sudah pasti bakalan ada resikonya tapi hanya ini satu satunya cara untuk Rose bertahan sebelum kita menemukan pendonor jantung yang sebenar untuk dia" sahut Dokter Baek.
Junmyeon mengusap wajahnya dengan kasar "Kalau itu yang terbaik untuk Rose, lakukanlah" putusnya.
Dokter Baek dan Dokter Seulgi tersenyum tipis "Operasinya bakalan dilakukan besok malam. Apa pun yang terjadi, kalian harus siap sama resikonya" ujar Dokter Baek. .
Junmyeon mengangguk pasrah. Lagian, apa lagi yang harus dia lakukan? Dia sudah berusaha namun kalau takdir tidak berpihak kepadanya, dia tidak bisa menghalangnya.
"Aku permisi" Dokter Baek menepuk pundak Junmyeon dan berganjak pergi dari sana.
"Om. Apa tidak sebaiknya kita ngomong soal ini sama Jennie dan Jisoo? Apa pun yang terjadi, mereka berhak untuk tahu soal kondisi Rose" ujar Seulgi.
"Nanti Om kabarin mereka" ujar Junmyeon mengeluarkan ponselnya dan menghubungi anak pertamanya itu.
"Helo Pa? Ada apa?" Tanya Jisoo.
"Apa kamu lagi bersama Jennie?" Tanya Junmyeon
"Iya Pa. Ada apa?" Sahut Jennie
"Jen, Jis, Papa harus ngomong sesuatu sama kalian"
"Ada apa?" Sahut Jisoo.
"Ini soal kondisi adek kalian. Dia sakit-"
"Cukup Pa! Aku sama Kak Jisoo tidak ingin dengarin apa apa lagi soal pembunuh itu!" Sambar Jennie.
"Jennie! Dia bukan pembunuh!" Tegas Junmyeon
"Terserah! Yang pasti, Mama mati gara gara dia!" Sahut Jennie marah.
Junmyeon menghembuskan nafasnya dengan kasar bagi menghilangkan emosinya "Apa yang Tante Seojin ngomong sama kalian? Papa yakin semua ini gara gara ulah Tante kalian itu!"
"Papa jangan menyalahkan Tante Seojin. Tante Seojin hanya mengatakan kebenaran. Kita sudah tahu kalau waktu Mama hamil, kondisi Mama sudah lemah namun Mama memilih untuk tetap mempertahankan si sialan itu!" Ujar Jisoo.
"Mama melakukan semua itu demi kalian!"
"Sudah deh Pa. Aku sama Jennie sudah capek sama tingkah Papa. Papa selalu saja membela anak kesayangan Papa itu"
Tanpa mendengar sahutan dari sang Papa, Jisoo langsung mematikan panggilan itu membuatkan Junmyeon hanya mampu mengelus dadanya untuk sabar.
Tekan
👇
KAMU SEDANG MEMBACA
Happiness ✅
Fiksi Penggemar-Apa benar kebahagiaan itu wujud?- "Kelahiran elo adalah beban dihidup gue!" "Dan kematian elo adalah hal yang terindah dihidup gue" "Aku akan terus bersama kamu" Chaennie📌 Chaesoo📌 Chaelisa📌 Fanfiction📌
